Kreatif Mahasiswi Ini Ubah Pelepah Palem Jadi Tas Mempesona

.
.
Material alam yang dianggap remeh seperti pelepah palem ternyata bisa memiliki nilai ekonomi tinggi dengan sentuhan kreativitas.
Tak banyak material alam yang tumbuh di sekeliling kita dimanfaatkan sebagai benda berguna dan bernilai tinggi. Pelepah palem, salah satunya. Pohon palem yang telah tua biasanya menggugurkan pelepahnya dan berserakan menjadi sampah.
Tak tinggal diam, mahasiswa jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Maureen Florencia Dharmawan memanfaatkan pelepah palem menjadi berbagai model tas. “Awalnya karena banyak sampah pelepah palem yang mengotori halaman di luar pagar rumah saya. Awalnya gemas,” kata Maureen.
Dari situ, Ia pun mencari cara untuk memanfaatkan sampah-sampah tersebut agar menjadi produk yang bernilai guna. “Menurut saya pelepah palem ini bagus, punya tekstur garis – garis vertikal, warna cokelatnya juga bagus,” ujarnya .
Dari eksplorasi yang dilakukan, Maureen menemukan ada tiga jenis pohon palem yang dipakai yaitu palem raja, palem  putri, dan palem ekor tupai. Dan ia menggunakan ketiganya sebagai bahan dasar untuk membuat tas-tas ini.
Adapun bahan pendukung selain pelepah palem agar menjadi sebuah tas yang unik diantaranya karton, kain, lem epoksi dan kulit. Bahan-bahan pendukung ini didesain sedemikian rupa hingga saling menyatu membentuk tas yang berkesan natural, eksotis, edgy dan bertekstur garis-garis keras sebagaimana karakter pelepah palem itu sendiri. Konsepnya pun terinspirasi dari ArtDeco yaitu desain berunsur geometri.
Dengan mendesainnya sebagai bagian dari produk lifestyle, produk bernama Areca yang diambil dari istilah botani family palem, Arecaceae ini diperuntukkan bagi kalangan wanita berusia 20-30 tahun. Maureen mendesain tas pelepah palemnya menjadi tigas jenis.
Pertama clutch cantik yang diberi nama cluecy bag dengan desain rantai sebagai handle-nya. Kedua tas tablet yang diberi nama tabby dengan desain lebih besar untuk menyimpan tablet maksimal berukuran 8 inch di dalamnya dan tas jinjing bernama LoLa bag dengan desain paling besar dan bergaya serut sebagai pembuka bagian dalamnya.
Diakui Maureen, proses pembuatannya pun tak mudah. “Pelepah palem dicuci agar bersih dan dikeringkan namun tidak sampai terlalu kering. Kemudian pelepah palem harus melalui proses kimia seperti dengan merendamnya dengan bayclin maupun soda api agar diperoleh tekstur warna yang diinginkan,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara. Selanjutnya, pelepah palem yang sudah memiliki warna tertentu dipotong dan ditata sesuai dengan pola desain tertentu dengan alas karton.
Sebagai proses akhir, pelepah palem yang sudah ditata di atas karton dibentuk menjadi berbagai model tas dengan hiasan kulit, resleting dan gantungan logo. Prosesnya sendiri memakan waktu 1-2 minggu per produk.
Tas-tas tersebut dikemas dalam packaging dengan desain yang sesuai sebelum dipasarkan. Masing-masing tas dibanderol dengan harga sekitar Rp 400 ribuan. Ke depannya, tas-tas ini akan dipamerkan melalui media sosial, pameran produk handmade dan gerai-gerai toko.

Sumber : http://umkmnews.com/news/abrakadabra-pelepah-palem-pun-jadi-tas-memesona.html
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive