"Feromon Exi" Cara Mudah dan Murah Pengendalian Hama Ulat Bawang (Spodoptera exigua)

.
.






Ambang Pengendalian Ulat Bawang (Spodoptera exigua) pada Budidaya Bawang Merah Berdasarkan Hasil Tangkapan Ngengat Jantan Menggunakan Feromonoid Seks, Feromon Exi
Teknik pengendalian hama S. exigua yang umum dilakukan oleh petani bawang merah ialah menggunakan insektisida yang diaplikasikan secara intensif, dengan dosis tinggi, interval penyemprotan yang pendek, dan pencampuran lebih dari dua jenis insektisida. Hasil survai menunjukkan bahwa pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada budidaya bawang merah di daerah Brebes, Jawa Tengah mencapai 30-50% dari total biaya produksi per hektar. Akibatnya biaya produksi meningkat dan budidaya bawang merah tidak lagi efisien.Salah satu upaya untuk menekan penggunaan pestisida ialah dengan menerapkan ambang pengendalian OPT, yaitu penyemprotan pestisida dilakukan hanya jika populasi atau intensitas serangan PT sudah mencapai batas yang merugikan secara ekonomi.
Ambang pengendalian ulat bawang yang ada pada saat ini ialah berdasarkan kelompok telur atau intensitas serangan. Dengan penerapan ambang pengendalian tersebut penggunaan insektisida dapat ditekan lebih dari 50% dengan hasil panen tetap tinggi. Namun, di tingkat petani penerapan ambang pengendalian tersebut secara teknis masih sulit diterapkan karena dibutuhkan kecermatan yang tinggi. Oleh karena itu perlu dicari alternatif ambang pengendalian yang secara teknis mudah diterapkan agar dapat diadopsi oleh petani.
 
Feromon adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama dalam membantu proses reproduksi.Senyawa tersebut telah dibuat sintetisnya dan disebut feromonoid seks. Feromonoid seks dapat digunakan sebagai alat pemantau keberadaan populasi hama di lapangan dan untuk penangkapan masal serangga jantan. Saat ini feromonoids seks untuk hama ulat bawang telah diproduksi oleh BB Biogen, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan telah diproduksi secara masal oleh pihak swasta dan diberi nama Feromon Exi.
 
Hasil penelitian ambang pengendalian hama S. exigua berdasarkan hasil tangkapan populasi ngengat dengan menggunakan Feromon Exi adalah sebanyak ≥ 10 ekor/ perangkap/ hari. Dengan penerapan ambang pengendalian tersebut, penggunaan insektisida dapat dikurangi sebesar 35,71% dengan hasil panen sebesar 13,46 ton/ha yang setara dengan hasil panen pada perlakuan yang menggunakan  insektisida 2 kali/minggu. Oleh karena itu penerapan ambang pengendalian tersebut secara ekonomi layak untuk diadopsi karena dapat meningkatkan pendapatan bersih dan mengurangi biaya jika dibandingkan dengan penyemprotan insektisida secara rutin 2 x/ minggu.
 
Untuk penggunaan Feromon Exi sebagai alat pemantau populasi ngengat S. exigua pada budidaya bawang merah, rekomendasi yang diberikan ialah sebagai berikut :
  1. Kebutuhan perangkap per hektar sebanyak 5 buah yang dipasang secara diagonal
  2. Pengamatan populasi ngengat pada perangkap dilakukan mulai umur 5 hari setelah tanam dengan interval 3 hari
  3. Jika populasi ngengat S.exigua mencapai ≥ 30 ekor/ perangkap/ 3 hari maka tanaman disemprot dengan insektisida yang dianjurkan
Harga Feromon Exi relatif murah, yaitu Rp. 25.000,-/ kapsul yang dapat digunakan untuk jangka waktu 2,5 bulan (satu musim bawang merah). Untuk digunakan sebagai alat penangkap masal ngengat S. exigua pada budidaya bawang merah hanya diperlukan 10-20 buah kapsul/ ha (Rp.250.000 - Rp. 500.000,-).


Sumber : http://www.moekasan2004.com/?Artikel
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Blog Archive