Shampoo Alami dari Biji Kelengkeng - Fungsi dan Aplikasi SAPONIN

.
.


BILA makan buah lengkeng, jangan buang bijinya. Biji lengkeng banyak mengandung saponin, dapat digunakan sebagai shampoo—shampoo alami. Apa itu saponin? Saponin merupakan satu golongan senyawa kimia, salah satu dari banyak metabolit sekunder yang ditemukan dalam sumber-sumber alami, saponin paling berlimpah terutama dalam berbagai spesies tanaman, termasuk lengkeng. Secara spesifik, saponin merupakan glikosida-glikosida amfipatik yang secara fenomenologis diklasifikasi sebagai busa-mirip dengan sabun yang dihasilkan saponin saat di dalam larutan berair, dan secara structural dengan salah satu atau lebih komposisinya separoh glikosida hidrofilik yang tergabung bersama turunan triterpen lipofilik. Satu contoh yang tersedia dan relevan secara terapi adalah digoksin, zat “kardioaktif”—dari foxglove yang biasa.

SUMBER SAPONIN
Saponin secara historis telah dipahami berasal dari tumbuh-tumbuhan, tetapi saponin juga telah diisolasi atau dipisahkan dari organism-organisme perairan. Bahhwa sanya saponin dijumpai pada banyak tanaman, dan namanya berasal dari tanaman soapwort(Genus Saponaria, Famili Caryophyllaceae), akarnya digunakan secara histris sebagai sabun. Saponin juga dijumpai dalam keluarga botaniSapindaceae, dengan definisi genus Sapindus (soapberry atau soapnut), dan dalam keluarga yang sangat dekat Aceraceae (maples) danHippocastanaceae (horse chestnuts).
Saponin juga ditemukan dengan susah payah dalam Gymnostemma pentaphyllum (Genus Gynostemma, Famili Cucurbitaceae) dalam bentuk yang disebut Gipenosida, dan ginseng (Genus Panax, FamiliAraliaceae) dalam bentuk yang disebut ginsenosida. Di dalam keluarga-keluarga tersebut, golongan senyawa kimia ini dijumpai dalam berbagai bagian tanaman: daun, batang, akar, biji, bunga dan buah. Sedangkan pada tanaman lengkeng, saponin terdapat dalam bijinya. Formulasi komersial dari saponin yang berasal dari tanaman—misalnya, dari sabun kulit pohon kayu, Quillaja saponaria, dan dari sumber-sumber yang lain—tersedia lewat proses fabrikasi yang terkontrol, yang membuat saponin berguna sebagai reagensia kimia dan biomedis.

STRUKTUR DAN BIOSINTESIS
Aglikon (bagian bebas-glikosida) dari saponin disebut dengan sapogenin. Banyak rantai sakarida yang menempel pada inti sapogenin/aglikon yang berbeda—yang muncul pada dimensi tatanama lainnya (monodesmosidat, bidesmosidat, dst.)—seperti pemanjangan setiap rantai.Sedikit banyak susunan yang ditanggalkan mempunyai rentang panjang rantai sakarida 1 sampai 11, dengan jumlah 2 sampai 5 paling sering, dan dengan rantai sakarida lurus dan bercabang terwakili. Monosakarida makanan seperti D-glukosa dan D-galaktosa di antara komponen-komponen rantai yang paling umum menempel.
Aglikon lipofilik dapat merupakan masing-masing dari keanekaragaman struktur organik polisiklik yang berasal dari rangkaian tambahan unit-unit terpen C10 untuk menyusun sebuah kerangka triterpen C30, sering dengan perubahan yang berikut untuk menghasilkan kerangka steroida C27. Subset dari saponin yang steroidanya disebut saraponin, turunan aglikon juga dapat bergabung dengan nitrogen, sehingga beberapa saponin juga terdapat karakteristik kimiawi dan farmakologi dari produk-produk alkaloid alami.
Fitotoksin solanin, suatu monodiesmosidat, yaitu saponin steroid sakarida-bercabang. Struktuk steroida lipofilik adalah rangkaian dari cincin-cincin beranggota-5 dan -6 yang menempel di sebelah kanan strukturnya, sedangkan cincin-cincin gula yang kaya oksigen berada di kiri dan bawah. Atom nitrogen disisp ke dalam kerangka steroid sebelah kanan.

SAPONIN DALAM RANTAI MAKANAN
Pada tanaman, saponin berfungsi sebagai zat penghilang selera makan (anti-feedants), dan untuk melindungi tanaman terhadap serangan mikroba dan jamur. Beberapa saponin tanaman, misalnya dari gandum dan bayam mungkin menambah penyerapan zat makanan dan membantu dalam pencernaan hewan. Namun, saponin sering terasa pahit, dan karenanya dapat mengurangi palatabilitas tanaman (misalnya, dalam bahan makanan ternak), atau bahkan mengilhaminya dengan toksisitas pada hewan pengancam-hidup. Hasil riset menunjukkan bahwa beberapa saponin adalah toksik terhadap organisme-organisme berdarah-dingin dan serangga pada konsentrasi tertentu. Memang masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan peranan dari produk-produk alami tersebut pada organisme inang mereka—yang hasih „belum dipahami“ sepenuhnya.

SAPONIN DALAM ETNOBOTANI
Kebanyakan saponin dapat larut dalam air dengan mudah merupakan racun bagi ikan. Oleh karena itu, dalam etnobotani, saponin paling terkenal untuk digunakan oleh orang-orang yang memperoleh sumber makanan dari air.
Sejak zaman prasejarah, seluruh kebudayaan dunia telah menggunakan tanaman piscicidal, kebanyakan tanaman tersebut mengandung saponin, untuk memperoleh ikan. Oleh karena itu, dengan menumbuk-halus biji lengkeng dan merendamnya dalam air, lalu menaburkannya ke dalam air yang ada ikan, ikannya akan mabuk dan mengambang, sehingga dapat dengan mudah menagkapnya. Saponin ini juga berguna, misalnya, pada pembudidayaan udang windu di tambak untuk membasmi bibit ikan pengganggu yang dapat menguras makanan udang budidaya di dalam kolam.
Meskipun dilarang secara hukum, tanaman racun ikan masih digunakan secara luas oleh suku-suku di Guyana.

BIOAKTIVITAS SAPONIN
Sebuah penelitian yang menggunakan saponin golongan produk alami yang meliputi kompleksasinya dengan kolesterol untuk membentuk pori-pori dalam membran sel dwilapis, misalnya dalam membran sel darah merah (eritrosit), dimana kompleksasi menyebabkan sel darah merah terurai (hemolisis) pada injeksi melalui urat nadi. Selain itu, amfipatik alami dari golongan ini memberikan aktivitas mereka sebagai surfaktan yang dapat digunakan untuk menambah penetrasi molekul-makro seperti protein melalui membran sel. Saponin juga telah digunakan sebagaiadjuvant dalam vaksin.
Saponin dari tanaman Gypsophila paniculata telah menunjukkan meningkat secara signifikan sitotoksisitas dari immunotoksin dan racun-racun target lainnya yang ditujukan pada sel-sel kanker manusia. Kelompok peneliti dari Profesor Hendrik Fuchs (Charite University, berlin, Jerman) dan Dr David Flavell (Southampton General Hospital, United Kingdom) bekerja bersama-sama untuk pengembangan saponin Gypsophila untuk digunakan dalam kombinasi dengan immunotoksin atau toksin target yang lain bagi pasien-pasien dengan leukemia, limfoma dan kanker-kanker lain.
Sumber : https://wawasanilmukimia.wordpress.com/2014/01/23/saponin-shampoo-alami-dari-biji-lengkeng-fungsi-aplikasi/
Sponsored Links
loading...
Loading...
.