Kisah Petani Cabai Sukses Mantan TKI di Amerika

.
.
Edy Suryanto salah satu petani sukses dari Jember. Berbekal pengalaman menjadi buruh tani di Amerika, Edy kini berhasil mengembangkan pertanian salah satunya cabai di Jember. Edy Suryanto adalah petani yang sukses mengembangan pertanian di Jember sejak kecil tidak bercita-cita menjadi petani.Karena  itu, Edy, sapaan karibnya, melanjutkan kuliah di teknik mesin Institut Teknologi Malang (ITM). Edy tidak terbesit sedikitpun menjadi petani seperti saat ini.
 
Sejak kecil, dia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang petani seperti saat ini.
Pernah Diundang SBY ke Istana
Padahal, berkat pekerjaannya menjadi petani, dia memiliki segala hal yang mungkin tidak penah dibanyangkan sebelumnya. Namun tidak mudah menyadarkan orang bahwa pekerjaan menjadi seorang petani akan mampu  menjanjikan kesejahteraan.
Kesadaran bahwa pekerjaan di sektor pertanian sangat menjanjikan baru disadarai setelah menjadi seorang buruh tani di salah satu negara bagian amerika serikat, sekitar tahun 2000 silam.
Hijrah menjadi seorang pekerja di amerika serikat cukup membuat bangga keluarga atau para tetangga sekitar rumahnya. karena menjadi TKI di amerika serikat, lumayan bergengsi jika di bandingkan dengan TKI pada umumnya, yang hanya bekerja di malaysia.
Namun jika mengetahui pekerjaan Edy di Amerika serikat pada waktu, mungkin bangga itu tidak lagi dirasakan. karena pekerjaan edy di amerika serikat sama seperti tetangganya yang hanya berprofesi sebagai buruh tani. "pekerjaan saya di amerika serikat sama menjadi buruhnya petani". tapi kalau membandingkan upah pekerjaan, jauh dengan buruh petani yang ada di dukuh mempok ," sembari melon tarkan senyum khasnya.
Namun diluar itu semua, muncul sebuah dorongan untuk menjadi petani sukses, saat pulang di kampung halamannya. benar adanya. Edy setelah pulang kampung mengembangkan pertanian holtikultura hingga menggapai sukses hingga saat ini.
Menurut edy, dorongan itu muncul setelah melihat potensi alam di amerika serikat jauh dibawah kualitas desa dukuh dempok, wuluhan jember." jangan bayangkan amerika serikat subur.disana tanahnya tandus dan jauh lebih subur tanah kita. Anehnya, kenapa pemilik tanah yang subur itu, harus bekerja jauh di tanah tandus seperti Amerika Serikat," katanya.
Edy pun sempat mengaku heran. Tanah tandus seperti di Amerika Serikat, tidak pernah menggunakan pupuk kimia seperti kebiasaan petani di Indonesia.
Meski demikian, prokduktifitas hasil pertanianya pun, jauh di atas hasil tanah subur yang dipupuk berbahab kimia seperti indonesia.
"99,99 persen pertanian di Amerika Serikat menggunakan pupuk organik.
Karena mereka sadar, pupuk kimia hanya akan merusak tanah, lingkungan dan orang yang mengkonsumsi hasil pertaniannya," jelasnya.

Bukan hanya itu, masyarakat Amerika Serikat juga berani memberikan penghargaan utuh kepada petaninya dengan membeli hasil pertanian jauh dari harga produk pangan lainnya.
" Satu ikat bayam yang harganya cuma Rp 500 di Pasar Tanjung, waktu itu sudah 5 dolar di Amerika Serikat. Padahal harga telur perkilogramnya hanya sekitar 9 sen dolar Amerika Serikat," akunya.

Sepulang dari Amerika Serikat, Edy mulai mengaplikasikan ilmu pertanian otodidaknya.
Namun sebelum memulainya dari ladang dan sawah, Edy terlebih dahulu memantabkan menejemen kelembagaan. Sekitar 2004, Edy 27 petani lainnya di sekitar rumahnya membentuk Kelompok Tani Rahayu.

Kelompok tani yang dikomandoinya berani mencoba suatu hal baru yang menguntungkan.
Bahkan saat baru pertama muncul tentang teknik budidaya padi System of Rice Intensification (SRI), Kelompok Tani pimpinan Edy yang kali pertama memulainya. "Selain di Jember pertami kali yang memulai. Kami di kancah nasional dinilai mampu paling produktif dengan menghasilkan 9,7 ton setiap panen. Padahal, produktivitas nasional waktu itu hanya mampu menembus angka 5,4 ton," bangganya.

Bukan hanya itu, Edy juga berani melakukan ekspresikan pola tanam padi. Jika petani berani konvesional berani menanam benih padi berusia 24 hari, Edy berani mengawali dengan menanam padi muda berumur 6 hari. "Awalnya, ide gila Edy itu me ndapat cemooh petani lainnya hingga ayahnya sendiri. Namun setelah dia mampu meningkatkan produktivitas tertinggi sekal nasional, akhirnya petani yang semula mencemoohnya ikut menanamam padi dengan pola yang dia lakukan.
Tak hanya itu, berkat prestasi yang telah di torehkan Edy ber sama kelompok tani lainnya., dia pun memperolehkan undangan lansung dari presiden SBY di Istana Negara. " Saya bangga karena akhirnya presiden mengakui jerih payah mantan buru tani di negeri orang, yang bermimpi menjadi seorang petani yang benar-benar bertani," tuturnya.
Bangun SMK Pertanian Gratis
Pemuda dan dunia tani saat ini memiliki jarak yang menilai jarak yang sangat jauh. Bayak pemuda kini menilai pertanian tidak mampu mendongkrak kesejahteraan. Mereka jugf kerap memandang bertani bukan sebuah pekerjaan yang membanggakan. Padhal, pertanian sangat vital untuk kemandirian pangan. Negara agraris seperti Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat besar dan menjanjikan.
Itu buktinya Edy Suryanto, bersama ratusan anggota kelompok tani Margi Rahayu Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember.
Mereka membuktikan bahwa bertani jauh lebih menjanjikan dibandingkan dengan pekerjaan formal lainnya. "Ksami memang tidak ber dasi dan mengenakam jas dengan sepatu pantopel.Tapi dengan cangkul dan sabit, kami bisa menghasilkan ratusan juta setip panen," kta Edy Suryanto. Edy meyakini, kondisi demikian tidak banyak di sadari oleh pemuda masa kini. Mereka cenderung bangga menjadi seorang karyawan. Karena karyawan dinilai lebih kempetetif dibandingakan petani. "Sekarang pemuda yang terjun menjadi petani, itu tidak jauh dari pelarian karena sudah tidak memiliki pekerjaan lainnya," ujarnya.

Karena hanya perlarian, akhirnya tidak salah jika kemampuan bercocok tanam, hingga manajemen pemasaran hasil pertaniannya sangat lemah. " Karena itu pula kami merasa wajib, memberikan media pelajaran formil yang fokus mempelajari pertania," tegasnya.
Bersama praktisi pertanian lainnya yang ada di wilayah Jember Selatan, Edy tergerak membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian gratis. Meski gratis,dia yakin sekolah yang bakal dibuka bulan Juli tahun depan itu akan menjadi SMK Pertanian unggulan di Jember.
"Karena kami akan melibatkan guru super," kata Edy,saat di kunjungi di sekolah rintisan yang baru di bangun di lahan satu hektar yang ada di Desa Dukuh Dempo, Kecamtan Wuluhan. Guru yang bakal di libatkan bukan dari lulusan terbaik kampus ternama. Namun para ketua kelompok tani yang diakui kredibilitasnya.
Bukan hanya ketua kelompok tani unggulan yang akan dlibatkan menjadi guru tetap.
Edy pun juga bakal mendatangkan petani sukses dari berbagai wilayah, yang nanti diperankan layaknya dosen terbang seperti sdi sejumlah kampus ternama. " Pola yang bakal kami realisasikan, tranformasi ilmu praktif dan efektif. Jadi siswa tidak akan banyak teori, melainkan langsung praktek bersama para petani sukses," paparnya.

Kurikulum sekolah akan diformulasikan 20 persen teori dan selebihnya ditekankan pada praktik. " Kami akan mengkader calon petani handal.  Jika mereka butuh teori yang lebih, bisa dilanjutkan nanti ketika mereka sanggup kuliah hingga profesor," tegasnya.
Bagi Edy, sekolah gratis yang dicanangkannya bukan hanya isapan jempol atau pemais belaka. Dia meyakini sekolahnya bisa mandiri meski tanpa ada pungutan biaya sekolah dari para siswanya. " Caranya mudah. Lahan persawahan produktif sudah kami siapkan. Di lahan itulah nanti, siswa akan praktik menanam semua jenis tanaman dan holtikultura. Hasil panen itulah nanti, siswa akan membiayai sekolah siswa. Jika ada lebihnya, anak-anak bisa memperoleh gaji," terangnya. Tak hanya gratis di pembiayaan belajar mengajar.  Para siswa pun bakal memperoleh pelayanan antar-jemput, dengan bus pelajar yang juga tanpa pungutan.
Menjadi Pemasok Cabai Merah Terbesar
 Berhasil menjadi petani, Edy bersama anggota kelompok tani Margi Rahayu mencoba keberuntungan di budidaya tanaman holtikultura seperti  cabai merah besar. Baginya, menanam cabai yang dinilai banyak orang sangat rentan resiko gagal panen mejadi tantangamn.Edy tidak mengaggap sebagai halangan.
Tidak hanya menanam cabai dengan teknik termutahir dan bibit paling berkualitas. Edy pun menyiapkan kelembagaan para petani cabai merah merah dengan naugan koperasi yang dia berinama Koperasi Holtikultura Lestari Jember. Sama seperti merintis pertanian pangan, kelembagaan petani juga sangat dibutuhkan. Terlebih, sebagai media sharing segala hal tentang kebutuhan pertanian.
Menurut Edy, potensi persawahan Jember yang memiliki tekstur tanah yang sebenarnya cocok untuk tanaman cabai merah besar. Itu menjadi potensi tersendiri untuk mengembangkan tanaman pedas tersebut. Apalagi, ada peluang pasar sangat lebar untuk cabai merah besar.
Edy membentuk koperasi khusus petani holtikultur, Asosiasi Agrobis Cabai Indinesia (AACI) Cabang Jember. Dengan ketuai sendiri oleh Edy. Berkat kerja keras membangun kelembagaan sebuah organisasi petani cabai, kelompok tani yang dirintisnya pun mendapat kepercayaan produsen saos sambal ternama di Indonesia. " Setelah jaringan kami dapatkan akhirnya ada tawaran menjadi pemasok cabai," kata pria yang juga penggerak seni Reog Ponorogo ini.
Kepercayaan itu tidak disia-siakannya. Konsistensi pengirimanya cabai di Jakarta terus digenjot. Per hari mampu mengirim lima truk cabai segar ke Jakarta. Alhasil tiga permasalahan petani seperti pasar, pendamping dan modal sudah bisa dijawab. " Setelah ada kemitraan itu berapa pun jumlah cabai petani tidak lagi kebingunan mau dijual kemna lagi," ujar pria usia 44 tahun itu.
Selain kepastian pasokan cabai yang tak terbatas jumlahnya, Edy merasa beruntung karena mitra yang tersedia membeli cabainya tersebut, juga menuntunkan harga jual cabai jauh sebelum cabainya dipanen. " jadi, tidak ada petani merugi karena harga cabai yang mereka jual harganya anjlok. Karena mitra kami berkomitmen, akan membeli cabai sesuai kesepakatan masa tanam," jelas bapak dua orang anak itu. 
Bukan hanya memperoleh kepercayaan perusahaan saos sambel ternama. Kelompok tani yang dikomandoi Edy itu pun, kini menjadi salah satu kelompokj tani binaan Bank Indonesia Cabang Jember. Bahkan, untuk menunjukan keseriusan binaanya, BI Cabang Jember pun juga mengirim pendamping khusus seorang profesor. " Pasar sudah kami dapatkan. Pembina sudah dilakukan Bank Indonesia. Masalah modalnya, koperasi bentukan petani ini yang mendunianya," terangnya.
Sumber : http://www.jemberonline.com/index.php/inspirasi/4186-edy-suryanto-petani-sukses-asal-jember
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Blog Archive