TUTORIAL LENGKAP Cara Pembuatan dan Perawatan Hidroponik Drip (Irigasi Tetes) / Fertigasi

.
.

 Pembuatan dan Perawatan Hidroponik Drip (Irigasi Tetes) / Fertigasi


Sistem drip atau biasa disebut sistem irigasi tetes adalah salah satu sistem hidroponik yang menggunakan teknik yang menghemat air dan pupuk dengan meneteskan larutan secara perlahan langsung pada akar tanaman. Sistem drip pada hidroponik dapat juga disebut Fertigasi karena pengairan dan pemberian nutrisi dilakukan secara bersamaan


Sistem drip / fertigasi adalah sistem hidroponik yang paling sering digunakan di dunia, mulai dari hobi hingga skala komersil. Karena biaya pembuatannya murah dan teknik pembuatannya mudah dibanding sistem hidroponik yang lain. 

Seberapa luas dan ukuran tempat Anda, penempatan sistem ini sangat fleksibel dapat menyesuaikan luas dan ukuran tempat Anda.

Biaya pengoperasiannya pun lebih murah, karena untuk pengirigasian listrik tidak perlu dinyalakan terus menerus. Anda dapat mengandalkan timer untuk mengatur frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi pada tanaman. Jadi tanaman lebih toleran jika di daerah Anda terjadi pemadaman listrik.

Sistem ini lebih populer untuk menanam tanaman sayuran buah seperti tomat, cabai, melon, paprika, dan terong. Walaupun begitu sebenarnya sistem ini juga cocok diterapkan untuk menanam sayuran daun dan herbs, tetapi jarang ditemui kebun sayuran daun yang menggunakan sistem ini. Bahkan sayuran akar memungkinkan dibudidayakan dengan sistem ini.

Kebun skala komersial yang membudidayakan sistem drip fertigasi untuk sayuran buah cukup banyak ditemui, tetapi untuk sayuran daun setahu saya ada di Cibadak - Jawa Barat dan BPTP Jatim Karangploso - Malang.

Sistem drip ini berasal dari Israel yang diterapkan langsung ke tanah berpasir. Saat ini hampir semua tanaman pangan dapat ditanam dengan sukses dengan sistem drip, mulai dari sayuran daun hingga tanaman sebesar pisang.


Hidroponik sistem drip fertigasi dapat dengan mudah dibuat dengan banyak cara, mulai dari skala hobi rumahan hingga skala komersil. Selain itu sistem dapat dengan mudah dibongkar pasang dan diekspansi tanpa banyak merubah jaringan yang sudah ada

Sistem drip lebih cocok untuk orang yang sudah punya pengalaman berkebun hidroponik karena manajemen sistem drip memerlukan skill khusus dalam mengatur frekuensi dan volume irigasi pada tanaman

Sistem irigasi drip terbagi menjadi 2 versi, yaitu sistem resirkulasi dan sistem non resirkulasi. Sistem resirkulasi biasanya digunakan untuk pekebun skala hobi dan rumahan karena manajemen irigasinya mudah. Sedangkan sistem non resirkulasi biasanya digunakan pekebun skala besar dan komersil karena resiko gagalnya kecil

Ringkasan
  • Biaya : Murah
  • Tingkat Kesulitan Pembuatan : Mudah
  • Tingkat Kesulitan Perawatan : Menengah
  • Cocok untuk Tanaman : hampir semua tanaman dapat dibudidayakan dengan sistem ini
  • Kelebihan : hemat listrik, pengairan tidak seboros NFT dan Ebb Flow
  • Kekurangan : rawan buntu. Jika manajemen buruk, penggunaan pupuk boros pada sistem non resirkulasi
  • Toleransi listrik : butuh listrik tapi sangat toleran jika mati listrik

Prinsip Cara Kerja

Sistem Drip Resirkulasi

Sistem resirkulasi biasanya sering diterapkan oleh penghobi skala rumahan. Prinsip cara kerja dan perawatan hampir mirip dengan sistem NFT dan Ebb Flow yaitu sirkulasi penggunaan larutan nutrisi yang berulang. Hanya saja tiap selang fertigasi melayani 1-4 tanaman

Aliran pada Sistem Drip Resirkulasi

Karena ini sistem resirkulasi, Anda perlu mengatur nilai pH dan EC/TDS pada larutan nutrisi di tandon / reservoir karena pH dan EC/TDS pada sistem resirkulasi tidak akan stabil. Selain itu larutan nutrisi dalam tandon perlu dikuras dan diganti secara berkala seperti sistem NFT dan Ebb Flow.

Pekebun hobi rumahan senang memakai sistem drip resirkulasi karena tidak terlalu memusingkan manajemen frekuensi irigasi karena larutan hara yang kelebihan akan kembali ke tandon, yang penting media tidak kering dan tidak banjir.

Pekebun komersil jarang menggunakan drip resirkulasi karena biaya investasi yang berat dan ditambah resiko penularan penyakit karena penggunaan larutan nutrisi berulang

Sistem Drip Non-Resirkulasi

Sistem non-resirkulasi akan lebih dibahas dalam artikel ini. Sesuai namanya, larutan nutrisi yang dialirkan ke tanaman tidak digunakan kembali. Walau tidak digunakan kembali, larutan nutrisi yang diberikan ke tanaman sangat sedikit yang terbuang

Aliran pada Sistem Drip Non-Resirkulasi

Pekebun harus mengatur frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi ke tanaman secara pas sesuai kebutuhan tanaman. Manajemen pengaturan frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi dilakukan dengan menggunakan timer.

Prinsip dari sistem drip fertigasi adalah memberi air dan nutrisi langsung media daerah lokal perakaran tanaman. Tujuannya supaya tanaman lebih mudah langsung menyerap larutan nutrisi. Selain itu dengan sistem drip, volume air yang dibutuhkan untuk penyiraman tidak harus banyak sehingga media menjadi basah seperti Ebb Flow.

Media tidak harus dibasahi, inti sistem drip adalah irigasi yang pas untuk melembabkan media
Penggunaan air pada sistem drip lebih efisien dibanding system NFT atau Ebb Flow, karena luasan air tidak banyak terpapar ke udara luar. Sehingga penguapan air tidak sebanyak NFT atau Ebb Flow. Penyiraman pada sistem drip difokuskan untuk melembabkan media sekitar daerah perakaran saja

Pemberian irigasi diatur sedemikian rupa agar media tanam memiliki kelembaban 70%. Tandanya adalah saat media dipegang terasa basah tetapi air tidak menetes dan jika diremas gumpalan media akan retak merekah. Dengan media yang lembab sekitar 70%, akar dapat dengan mudah menyerap air dan hara dan aerasi tetep terjaga karena udara masih dapat bersirkulasi diantara ruang kosong antar media

Komponen yang Diperlukan


  • Pot Menanam : Untuk tempat tumbuh tanaman, bisa menggunakan polybag, pot, wadah, dll
  • Tandon Reservoir : Wadah untuk larutan nutrisi
  • Pompa : Untuk mengalirkan larutan nutrisi
  • Timer : Mengatur frekuensi dan volume pemberian irigasi
  • Selang Inlet 5-8 mm : saluran penghubung yang memberikan larutan nutrisi dari pipa langsung ke tanaman
  • Nipple : sebagai penghubung selang inlet dan pipa jarinan irigasi
  • Emitter Drip Stick : agar larutan nutrisi dari inlet dapat masuk menembus dengan mudah menuju akar tanaman tanpa harus merembes perlahan di media
  • Pipa PVC atau Selang PE Fleksibel : untuk membuat jaringan irigasi
  • Media Tanam : penopang tanaman, tempat untuk menanam
  • Disc Filter atau Screen Filter : sebagai filter agar jaringan tidak tersumbat

Selang PE, selang inlet 8mm, filter, nipple, dan semua perlengkapannya bisa didapatkan di toko penyedia kebutuhan fertigasi yang biasanya dijual online. Anda bisa mencari informasi toko penjual melalui grup Facebook, tokopedia, dan fjb kaskus.

Alat-alat yang diperlukan


  • Solder / Bor : untuk melubangi pipa irigasi
  • pH meter : untuk mengatur pH larutan nutrisi
  • EC/TDS meter : untuk mengetahui konsentrasi larutan nutrisi

Aturan Pembuatan Sistem Instalasi

1. Skema Sistem

Berikut adalah pola skema pemasangan alat-alat pada sistem drip yang umum digunakan

Sistem Non-resirkulasi

Skema Pemasangan Alat-Alat pada Sistem Drip Non-Resirkulasi

Sistem Resirkulasi

Skema Pemasangan Alat-Alat pada Sistem Drip Resirkulasi

Perbedaan dari jaringan sistem non-resirkulasi dan resirkulasi adalah adanya penampung balik yang menuju reservoir / tandon pada sistem resirkulasi. Selebihnya tidak jauh berbeda

2. Pemilihan Pompa

Sebenarnya agak sulit memilih pompa yang pas sesuai untuk sistem drip. Karena sistem drip lebih diprioritaskan tekanan pompa yang tentunya penghitungannya agak memusingkan bagi pekebun biasa.

Perhatikan Q max dalam kemasan pompa
Walau begitu, Anda dapat mengikuti aturan kasar ini, meski kadang tidak cocok saat diterapkan dalam skala yang lebih besar. Setiap meter persegi membutuhkan spec pompa dengan debit keluaran maksimal (Q max) 800 Liter / jam asalkan maksimal air naik setinggi tidak lebih dari 50-100 cm.

Jadi misal Anda membuat sistem drip seukuran 5 m2 dengan dudukan sekitar setinggi 50 cm, maka Anda memerlukan pompa dengan debit keluaran maksimal (Q max) 5 x 800 liter/jam = 4000 liter/jam

3. Teknik Distribusi Irigasi

Pola Jaringan
Supaya tiap titik dari dekat hingga yang jauh mendapat debit yang sama, Anda perlu membuat desain pola jaringan irigasi loop. Tujuannya agar tekanan titik yang jauh dari pompa hingga yang jauh tidak jauh berbeda. Contoh pola seperti gambar di bawah ini

Pola Jaringan untuk Sistem Drip Skala Rumahan
Jaringan Drip untuk Skala Besar


Pemasangan Filter
Filter dipasang tepat setelah saluran output pompa. Filter penting dipasang supaya larutan nutrisi yang dipompakan tidak membawa partikel-partikel yang dapat membuat buntu emitter drip. Ukuran filter harus disesuaikan dengan ukuran pipa distribusi.

Anda juga dapat menggunakan disc filter atau filter screen dengan ukuran 200-300 mesh sudah dirasa cukup untuk mencegah kebuntuan.

Ukuran Pipa Jaringan
Untuk skala rumahan yang per pompa melayani tidak lebih dari 10 m2, jaringan distribusi dapat menggunakan pipa ½” atau ¾” .

Untuk sistem drip yang lebih besar, biasanya jaringan pipa terbagi menjadi 2 jenis, yaitu saluran primer dan saluran lateral (sekunder). Untuk saluran primer, biasanya digunakan pipa ukuran 2" - 3”. Sedangkan saluran lateral (sekunder) digunakan pipa ukuran ½” atau ¾”

Jarak Selang Inlet dan Pemasangan Emitter
Untuk jarak antar selang inlet biasanya menyesuaikan jarak tanam dari tanaman yang ditanam. Pada tanaman sayuran daun, satu selang inlet melayani 4-5 tanaman. Sedangkan tanaman sayuran buah, satu selang inlet melayani 1-2 tanaman.

Jarak antar inlet selang mengikuti jarak tanam

Untuk selang inlet, jangan gunakan selang bening waterpass. Selang ini tidak bertahan lama jika sering terpapar sinar matahari. Selain itu sifat transparannya dapat memicu pertumbuhan alga pada selang yang membuat selang menjadi buntu.

Gunakan selang PE yang memang didesain untuk selang irigasi outdoor. Untuk selang inlet sistem drip fertigasi ini biasanya berukuran 5-8 mm.

Untuk jaga-jaga, sebaiknya Anda men-double selang inlet fertigasi pada masing-masing titik. Tujuannya bila Anda selang yang buntu, masih ada selang satunya yang dapat mengairi media.

Penancapan Emitter Stick Drip

Tancapkan emitter stick drip pada media pada dekat dengan batang tanaman. Supaya air dengan mudah menembus media langsung ke daerah perakaran tanaman tanpa harus merembes dari atas

4. Ukuran Tandon / Reservoir

Ukuran tandon yang digunakan setidaknya disesuaikan dengan volume penyiraman selama seminggu. Misal dalam sehari menghabiskan air nutrisi 10 liter, setidaknya Anda perlu menggunakan tandon yang berukuran 70-100 liter.

Tujuan penerapan tandon mingguan ini untuk mempermudah mengubah dosis dan rasio nutrisi yang juga biasanya diterapkan secara mingguan

Jangan lupa penempatan tendon harus diletakkan di tempat yang teduh jangan dijemur

5. Pemilihan Media

Ada banyak media yang dapat dipilih mulai dari pasir, sekam bakar, coco coir, perlite, hydroton.

Untuk sistem drip resirkulasi, sebaiknya pilih media yang berukuran besar seperti hydroton supaya media tidak banjir karena irigasi yang terus menerus dan partikel media tidak terbawa menuju tandon pada saluran balik

Untuk sistem drip non-resirkulasi, sebaiknya pilih media yang berukuran halus agar mampu menahan kelembaban air lebih lama. Sekam bakar dan coco coir maupun campurannya biasanya sering digunakan pekebun-pekebun drip non-resirkulasi.

6. Ukuran Wadah Tiap Jenis Tanaman

Walaupun tidak ada ukuran yang pasti, Anda perlu memperhatikan ukuran volume media tanam untuk tiap jenis tanaman. Jika Anda menanam sayuran buah seperti tomat, cabai, dsb di polybag, maka sebaiknya Anda menggunakan polybag yang berdiameter 30 cm dan volume media tanam 10 liter per tanaman.

Sedangkan untuk sayuran daun, gunakan polybag yang berdiameter 15 cm dan volume media tanam 2,5 liter per tanaman.

Tujuannya supaya akar memiliki ruang yang leluasa untuk bergerak dan tumbuh

7. Pembuatan Drainase

Usahakan bagian samping bawah polybag dilubangi untuk drainase. Jika Anda menggunakan slab grow bag, maka usahakan bagian kedua sisi samping bawah grow bag dibuat lubang selebar 6-8 cm dengan jarak antar lubang menyesuaikan letak emitter drip.

Perawatan

1. Penyiapan Media

Sebelum semaian tanaman dipindahkan pada sistem drip, media tanam apapun yang Anda gunakan harus dilembabkan terlebih dahulu. Media disiram dengan air nutrisi dengan EC 1 hingga air rembesan pada drainase mulai keluar.

Kemudian media ditiriskan selama 1 hari, baru semaian dapat dipindah tanam ke media sistem drip

2. Pengukuran Debit Aliran pada Emitter Drip

Anda perlu mengukur debit aliran yang dipancarkan tiap emitter selang drip dalam satu menit. Tujuannya supaya Anda tahu berapa lama pompa harus menyala saat irigasi untuk mencapai volume yang diinginkan.

Caranya Anda perlu mempersiapkan gelas ukur dan stopwatch. Catat air yang dikeluarkan dari emitter dalam satu menit. Misal dalam kasus ini Anda mendapat debit 100 ml per menit, data ini akan digunakan dalam penentuan frekuensi dan volume irigasi yang akan dijelaskan di bawah ini

3. Frekuensi dan Volume Irigasi

Untuk hal ini, agak susah memberikan aturan yang pasti, karena ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi. Frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi pada sistem drip harus disesuaikan dengan jenis tanaman, umur tanaman, jenis dan volume media tanam, dan cuaca

Intinya yang penting Anda harus dapat menjaga kelembaban media tanam stabil 70%.

Tetapi ada aturan kasar yang dapat Anda gunakan sebagai acuan dan selanjutnya Anda modifikasi menyesuaikan respon dari tanaman.

Per 10 liter media, Anda sirami dengan larutan nutrisi 2 kali sehari pada jam 8-9 pagi dan 15-16 sore. Per siraman sebanyak 250 ml dengan EC/TDS menyesuaikan jenis dan kebutuhan tanaman.

Jika debit aliran pada emitter drip Anda 100 ml / menit, maka saat waktunya menyiram pompa dinyalakan hanya selama (250/100 menit) 2,5 menit oleh timer.

Dan selanjutnya Anda juga perlu mengukur tampungan volume air rembesan yang keluar dari drainase polybag atau growbag (over drain). Usahakan volume air rembesan yang keluar 10-20% dari volume air nutrisi yang Anda berikan selama 24 jam. Tujuannya supaya memastikan apakah tanaman sudah mendapat cukup larutan nutrisi atau belum dan tidak terlalu banyak nutrisi yang terbuang

Grafik Debit Aliran 

Misal tanaman disirami sebanyak 250 ml 2x sehari, maka dalam sehari tanaman mendapat 500 ml. Jika dalam 24 jam, tampungan air rembesan (overdrain) mendapat di bawah 50 ml (10% dari 500ml) maka volume larutan nutrisi yang diberikan masih kurang. Dan jika tampungan overdrain mendapat di atas 100 ml (20% dari 500 ml) maka volume larutan nutrisi yang diberikan terlalu boros berlebihan.

Penampungan Overdrain
Selain itu tujual lain dari overdrain adalah untuk mendesak eksudat atau racun yang dihasilkan oleh akar tanaman keluar dari media tanam

Untuk frekuensi dan volume irigasi, selanjutnya Anda sesuaikan dengan respon pada tanaman. Jika media cepat kering, tambahkan frekuensi atau volume penyiraman. Jika media terlalu basah, kurangi frekuensi atau volume penyiraman atau bagi volume penyiraman dengan frekuensi yang lebih banyak.

Maksudnya misal, jika biasanya tanaman menyerap larutan nutrisi 500 ml per hari dengan penyiraman @250 ml 2x sehari, tetapi media tanam Anda terlalu porus sehingga 250 ml per siraman membuat media menjadi basah sekali. Maka solusinya penyiraman tetap 500 ml per hari, hanya saja dibagi menjadi 5x sehari sehingga per siraman menjadi 100 ml.

Berikut adalah contoh manajemen penyiraman tanaman cabai dengan penyiraman 6x sehari

USIA MINGGU
Aplikasi Nutrisi
Dosis per Siraman
Total Volume Siraman
1
900 ppm
100 ml
600 ml
2
1000 ppm
100 ml
600 ml
3
1100 ppm
100 ml
600 ml
4
1200 ppm
130 ml
780 ml
5
1200 ppm
150 ml
900 ml
6
1300 ppm
150 ml
900 ml
7
1300 ppm
150 ml
900 ml
8
1300 ppm
200 ml
1200 ml
9
1300 ppm
230 ml
1380 ml
10
1400 ppm
300 ml
1800 ml


Intinya yang penting media jangan sampai kering atau terlalu banjir. Hal di atas hanya sebagai acuan, tidak dapat menjadi patokan baku. Patokan baku berbeda-beda setiap kondisi.

Setiap pekebun akan menemukan sendiri frekuensi penyiraman terbaik untuk tanamannya seiring melihat respon dari tanamannya.

4. Manajemen TDS/EC

Untuk TDS/EC sama seperti sistem hidroponik pada umumnya, yaitu sesuaikan dengan umur dan jenis tanaman yang ditanam. Untuk sayuran daun EC 1,5-2 atau TDS 600-1200 ppm, untuk sayuran buah EC 2-3 atau TDS 1200-1800.

Dalam sistem drip non-resirkulasi, Anda perlu mengatur EC/TDS di daerah perakaran. Karena dalam pemberian larutan nutrisi (fertigasi) ke media, unsur hara tidak diserap seluruhnya oleh tanaman dan masih ada unsur hara yang tersisa di dalam media.

Dan jika dibiarkan terus menerus, unsur hara yang tersisa dalam media akan menumpuk dan mengacaukan rasio unsur hara pada larutan nutrisi

Aturan umum dalam pengelolaan tingkat garam terlarut (EC/TDS) dalam daerah perakaran adalah EC yang keluar dari over drain tidak boleh lebih dari 1 atau selisih lebih 500 ppm. Apabila perbedaan dari EC over drain dan EC larutan nutrisi lebih dari 1, maka dilakukan pencucian (flushing) dengan memberi penyiraman dengan larutan yang ber-EC rendah 1 atau dengan air biasa. Berikut adalah contoh manajemen EC untuk tanaman cabai.

Umur tanaman
EC
EC Inlet
EC Outlet
Fase Vegetatif 1 ( 1 – 6 MST)
1,6 – 1,7
1,3 – 1,8
Fase Vegetatif 2 (6 – 8 MST) fase mulai berbunga dan berbuah
1,8 – 1,9
2,0 – 2,1
Fase Generatif ( 8 < MST ) fase pematangan buah
2.0 – 2,1
2,1 – 2,2

Misal, Anda menerapkan EC pada tanaman 2,0 setelah 2 minggu sistem drip berjalan, nilai EC pada air rembesan (overdrain) 3,1. Maka besoknya Anda hanya menyiram tanaman dengan air biasa atau air dengan ber-EC 1 hinga EC pada air rembesan turun pada selisih yang jauh di bawah 1 dari EC seharusnya supaya tanaman dapat kembali disiram dengan larutan nutrisi dengan EC yang seharusnya

5. Filterisasi dan Pencegahan Buntu

Setiap seminggu sekali, filter disc atau filter screen yang Anda gunakan harus dibersihkan dari kerak-kerak. Tiap-tiap emitter juga rutin seminggu sekali dibersihkan agar tidak buntu

6. Sterilisasi Media dan Sistem

Media tanam seperti rockwool, coco coir, sekam bakar sebaiknya digunakan sekali pakai. Usahakan setiap selesai masa tanam, sistem jaringan drip dibersihkan dengan menggunakan bleach dengan takaran sesuai dengan kemasan kemudian dialirkan ke jaringan pipa-pipa dan selang pada sistem drip.

Tujuannya untuk mensterilkan sistem dan melarutkan partikel-partikel yang mengerak di dalam pipa atau selang.

Variasi Sistem

1. Teknik Irigasi

Pompa
Sistem Drip pada Umumnya

Ini adalah teknik irigasi yang umum digunakan yang dijelaskan di atas

Solenoid Valve
Sistem Drip dengan Solenoid Valve

Pompa hanya digunakan untuk mengisi tandon utama. Selanjutnya dari tandon utama, larutan nutrisi di alirkan ke jaringan sistem drip dengan memanfaatkan gravitasi. Pengaturan kapan larutan nutrisi mengalir diatur oleh solenoid valve yang dihubungkan dengan timer

2. Tempat Menanam

Polybag
Polybag

Grow bag
Pakchoy pada Grow Bag

Vertikal Grow Sack
Sistem Drip Vertikal dengan Grow Sack

Vertikal Interlocking Pot
Bisa dibuat dari pot sterofoam yang ditumpuk-tumpuk

Dutch / Bato Bucket
Sisterm Drip Resirkulasi Dutch Bucket
Dan masih banyak lagi variasi pada sistem drip. Anda dapat sesuaikan dengan bahan-bahan yang ada di sekitar Anda

sumber : http://taman-berkebun.blogspot.com/2015/09/hidroponik-sistem-drip-fertigasi.html
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Blog Archive