Upaya Pencegahan Agar Bunga dan Buah Mangga tidak Rontok

.
.
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pemilik tanaman mangga adalah bunga yang rontok. Ketika panen raya buah mangga telah berlalu, akan selalu meninggalkan harapan untuk menghadapi musim panen ditahun yang akan datang. Bagi petani mangga yang meraih untung karena buahnya lebat tanpa ada gangguan dan harga jualnya layak, maka berharap tahun depan untungnya bisa bertambah.
Agar bunga mangga tidak rontok

Sebaliknya bagi petani mangga yang ditimpa masalah akibat gagalnya panen, berharap musim panen mendatang tidak terulang kembali. Banyak dilaporkan para petani, bahwa factor utama rendahnya produksi mangga adalah terjadinya gugur bunga dan buah, dimana hal ini perlu dicarikan alternative cara mengatasinya.

Kerontokan buah mangga yang terjadi selama ini tidak terlepas dari 2 faktor utama yaitu faktor pengaruh luar dan faktor pengaruh dalam. Pengaruh dalam meliputi keseimbangan hara dan hormon dalam tanaman, tingkat kesuburan tepungsari, kemampuan/kekompakan organ reproduksi serta kondisi lain yang mendukung proses perkembangan buah sejak pembuahan sampai perkembangan buah yang optimal untuk dipanen seperti ketersediaan air. Sedangkan faktor luar meliputi : kesuburan tanah, kondisi iklim ( tingginya curah hujan dan besarnya angin) serta serangan hama penyakit. 


Secara alami, bunga mangga muncul kurang lebih satu bulan setelah hujan berakhir dan memerlukan waktu sekitar empat bulan untuk dapat dipanen buahnya. Selama masa pembentukan dan perkembangan tersebut, intensitas kerontokan bisa mencapai 99%. 

Peristiwa ini sangat terkait dengan tekanan oleh berbagai faktor antara lain: 
1. Kurangnya unsur hara dan hormon tanaman (auksin dan gliberin) pada saat tanaman memasuki periode reproduksi, menyebabkan tingginya kerontokan buah yang diakibatkan oleh adanya persaingan dalam hara dan hormon tanaman tersebut.
2. Gagalnya persarian dan pembuahan sehingga buah tidak menghasilkan biji yang merupakan pemasok gliberin yang sangat berguna bagi perkembangan buah. Dengan gagalnya pembentukan biji, maka menyebabkan buah rontok.
3. Kurangnya ketersediaan air selama perkembangan buah, sehingga memacu terbentuknya lapisan absisi pada bagian pangkal tangkai buah. Dalam keadaan seperti ini, kondisi buah sangat lemah sehingga dengan sedikit tekanan saja , buah akan mudah rontok.
4. Kondisi lahan yang kurang subur sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman selama periode perkembangan buah
5. Kondisi iklim yang kurang menguntungkan seperti terlalu tingginya curah hujan serta kencangnya angin.
6. Adanya serangan hama dan penyakit terutama yang menyerang buah seperti lalat buah (Dacus sp) dan penggerek (Norda albizonalis) serta Antraknose dan Diplodia. Serangan hama dan penyakit ini juga dipengaruhi oleh kondisi iklim saat itu.

Upaya Pengendalian yang Pernah Dilakukan
Meskipun kerontokan buah mangga ini selalu dialami petani mangga, namun bukan berarti mereka pasrah. Berbagai upaya telah dilakuan baik oleh petani sendiri maupun oleh lembaga peneltiian sebagai langkah dalam mengatasi setidaknya menekan tingkat kerontokan buah mangga agar tidak terlau banyak.
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam rangka mengen-dalikan/menekan kerontokan buah mangga. Diantaranya : (1) penggunaan ZPT (bahan aktif 2,4-D) dan pemupukan, 2. penggunaan ZPT (entrel dan atonik) dan penyiraman dan 3. penyiraman. Hasil dari beberapa percobaan menunjukkan hasil yang belum memuaskan. Pada penggunaan ZPT 2,4-D dosis 10 dan 20 ppm dan pemupukan efektif mengurangi bunga gugur. Hasil percobaan lain dengan penggunaan ZPT etrel dan atonik dan penyiraman hanya mampu menekan gugur buah sampai 85%. Dan metode lain yaitu dengan cara penyiraman selama masa repoduksi dua kali seminggu dapat meningkatkan hasil 49%. Sementara itu di pihak petani, pencegahan kerontokan buah mangga dilakukan dengan pengasapan pada kebun mangga menjelang musim mangga berbunga. Secara teori, meng-asap (memberi asap) berarti mening-katkan kandungan gas ethylene yang memang dapat memacu pembungaan mangga, sehingga bunga mangga dapat muncul lebih awal pada kondisi yang lebih aman.

Serangga – serangga yang menyebabkan bunga mangga mengalami kerontokan antara lain, yaitu:
1. Coleoptera;Scarabaidae : Anomala viridis
Anomala pallid
Phyllophaga sp.satu
Phyllophaga sp.dua
2. Hemiptera;Coreidae : Mictis longicornis
Acanthocoris scabrator
3. Homoptera;Jassidae : Idioscopus clypealis
4. Lepidoptera;Noctuidae : Penicillaria jacosatrix
5. Orthoptera;Tettigonidae : Holochlora sp.
;Acrididae : Valanga sp
6. Diptera;Muscidae : Musca domestica
;Calliphoridae : Chryzomya megachephala
;Sarcophagidae : Sarchopaga sp.

Beberapa pengaruh curah hujan yang kurang menguntungkan pada musim bunga adalah:
1. Air hujan akan mencuci butir-butir tepung sari, dan akhirnya tepungsari tersebut jatuh bersama air hujan
2. Hujan yang terlalu lebat biasanya menyebabkan luka pada permukaan tubuh bunga dan bahkan dapat menyebabkan kerontokan bunga
3. Volume curah hujan yang tinggi mengakibatkan udara menjadi lembab, sehingga menimbulkan serangan cendawan atau wereng mangga yang lebih hebat, akhirnya banyak bunga dan buah mangga yang rontok, dan panenpun gagal.
4. Selama hari – hari hujan, serangga penyerbuk tinggal diam, praktis mereka tidak melakukan penyerbukan karena tidak dapat terbang
5. Banyak embun dan kabut dapat menggagalkan pemanenan, karena peristiwa ini juga mengakibatkan banyak bunga dan buah yang rontok seperti pada waktu musim hujan

BUNGA
Bunga rusak dan rontok


Gejala 1 :
Fisik bunga, yaitu tangkai, malai, kelopak, bakal buah, benang sari, atau kuncup bunga, atau gabungan dari beberapa bagian bunga mengalami gangguan. Misalnya, bentuk kelopak yang tidak utuh akibat dimakan atau digerek hama; tangkai, malai, dan kuncup bunga menjadi layu dan kering, serta rusaknya tunas bunga. Lama-kelamaan bunga menjadi layu dan kering. Bila serangan semakin menghebat, bunga akan rontok dan tidak bisa jadi buah.

Tanaman yang diserang :
Mangga, belimbing, jeruk, rambutan, dan apel.

Penyebab :
Beberapa jenis hama yang tergolong bangsa atau ordo kepik dan kutu (Hemiptera), kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), kumbang (Coleoptera), serta lalat (Diptera). Beberapa contoh hama dari jenis-jenis ini adalah Idiocerus niveosparsus (perusak bunga mangga); Prays nephelomina (penggerek bunga jeruk); Rhynchaenus mangiferae (larvanya merusak bunga mangga); Aphis sp (kutu perusak bunga belimbing); Popillia biguttata (kumbang perusak bunga jeruk); dan Carpolonchae fillers (larva memakan kuncup bunga, bakal buah, atau benangsari jeruk).

Pengendalian :
Dengan penggunaan pestisida kontak.

Gejala 2 :
Terjadi perubahan warns pada permukaan bunga menjadi keputihputihan atau kelabu. Bunga yang diserang menjadi kering, keras, dan berguguran. Bila serangan belum atau kurang hebat, bunga masih dapat meneruskan pertumbuhannya, namun bentuknya menjadi tidak sempurna lagi.

Tanaman yang diserang :
Mangga, apel, rambutan, murbei, dan jeruk.

Penyebab :
Cendawan, umumnya jenis Erysiphaceae. Cendawan ini merupakan parasit obligat penyebab penyakit tepung. Beberapa jenis yang termasuk dalam cendawan ini adalah Podospharae leucotricha (cendawan pada apel); Erysiphe cichoraecearum (cendawan pada mangga); dan Oidium sp (cendawan pada rambutan, jeruk). Cendawan tersebut terinfeksi ke dalam jaringan bunga di sekitar lapisan epidermis. Hal ini dilakukan oleh haustoria yang terbentuk pada miselia. Konidia yang terbentuk mudah terpencar oleh angin.

Pengendalian :
Sanitasi kebun, pengembusan tepung belerang, pemberian fungisida untuk mencegah dan mengendalikan penyakit.

Pemupukan berimbang
Pemupukan dilaksanakan dua kali yaitu pada awal musim hujan dan akhir musim hujan. Untuk tanaman yang berumur anatara 6-10 tahun dapat digunakan pupuk ZA, SP 36 serta KCl dengan dosis masing-masing : 2-3 kg ZA, 1-1,5 kg SP 36 plus ( ditambah Zn 2% dan Bo 2%) serta 1-1,5 kg KCl. Disamping pupuk buatan, perlu juga ditam-bahkan pupuk kandang dengan dosis 75-100 kg yang diberikan sekali setahun pada awal musim hujan, lebih awal atau bersamaan dengan pemberian pupuk buatan. Untuk tanaman berumur lebih dari 10 tahun dapat digunakan dosis 3- 4 kg ZA, 1,5-2 kg SP 36 plus ( ditambah Zn 2% dan Bo 2%) serta 1,5-2 kg KCl ditambah pukan 100 kg. Adapun cara pemupukan dapat dilakukan dua kali yaitu pemupukan I (awal musim hujan) menggunakan separuh dosis ZA serta seluruh dosis SP plus dan KCL dengan tujuan untuk mengem-balikan energi tanaman setelah tanaman berbuah. Pemupukan II dilakukan pada saat menjelang akhir musim hujan (bulan Mei/JuniI. Pemupukan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada tanaman agar siap menghadapi pembungaan. Metode pemberian pupuk baik pada pemupukan I maupun II adalah secara ditabur melingkar dengan digali (dialur) selebar kanopi tanaman. Setelah ditabur, tanah harus ditutup kembali agar pupuk tidak tercuci atau menguap. 

Penyiraman
Penyiraman dengan mem-berikan air dua kali seminggu selama masa reproduksi yaitu selama 3 bulan pada saat buah mangga berukuran sebesar biji kedelai (2 minggu setelah polinasi/penyerbukan) sampai buah menjelang dipanen. Penyiraman terhadap pohon mangga dapat dilakukan secara manual maupun dengan cara modern (drop irrigation) seperti yang banyak digunakan di perkebunan mangga yang luas. Dengan melakukan penyiraman diharapkan dapat menghalangi/menghambat terbentuknya lapisan absisi pada pangkal tangkai buah mangga yang menyebabkan keguguran. Disamping itu dengan ketersediaan air yang cukup di daerah perakaran akan menjamin penyerapan unsur hara oleh akar-akar tanaman yang pada akhirnya sangat berguna bagi perkembangan buah. Dengan cara penyiraman ini diharapkan dapat meningkatkan hasil 50-60%. 
Semoga setelah mengetahui cara Agar bunga mangga tidak rontok, anda mendapatkan panen raya mangga yang menguntungkan.
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive