Petani Jadilah "Tuan" di Kampung Halaman Sendiri!

.
.
Salah seorang tokoh nasional yang sangat getol berteriak tentang perlu nya kita menjadi "tuan" di halaman nya sendiri adalah Prabowo Subianto. Di benak Prabowo kita adalah bangsa yang terhormat dan berhak untuk menikmati kehormatan yang disandang nya. Kita tidak boleh menjadi tamu di rumah nya sendiri. Sejati nya bangsa yang merdeka adalah warga bangsa yang menjaga dan memelihara kedaulatan nya. 

Sebetul nya banyak alasan yang menyebabkan seseorang tidak mampu menjadi "tuan" di tempat nya sendiri. Sebut saja sebuah keluarga petani yang tinggal di pedesaan. Sebelum kehidupan keluarga nya seperti sekarang, mereka hidup layak. Dengan lahan sawah 2 hektar, mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga nya.

Setiap panen mereka mampu menyimpan sebagian hasil panen nya di lumbung. Gabah yang disimpan ini akan digunakan ketika musim paceklik tiba. Dengan sawah 2 hektar, kehidupan keluarga petani terekam berlangsung normal. Namun begitu, dalam perkembangan selanjut nya, lahan sawah yang 2 hektar itu harus dibagikan kepada 4 orang putra nya secara adil dan proporsional. Akibat nya setiap anak-anak nya memperoleh 0,5 hektar. 

Dengan luasa seperti ini, sangat tidak mungkin sebuah keluarga akan dapat mencukupi kebutuhan hidup nya. Sebab, menurut penelitian yang dilakukan, "kelayakan" hidup sebuah keluarga jika berkiprah menjadi petani, maka sekurang-kurang nya mereka mesti memiliki lahan sawah sekurang-kurang nya 1,69 hektar. Artinya, dapat dibayangkan, bila sebuah keluarga hanya memiliki sawah seluas 0,5 hektar, maka untuk memenuhi kebutuhan hidup yang 2/3 nya lagi, mereka harus banting tulang di luar usaha pertanian. 

Gambaran ini, sudah bukan hal yang aneh terjadi dalam kehidupan kaum tani di pedesaan, karena berdasarkan pengamatan yang menyeluruh, penghasilan petani kecil yang sawah nya terbatas, hanya mampu memenuhi kebutuhan nya sekitar 24 % saja. Sisa nya yang 76 % harus diperoleh dengan bekerja di luar usaha pertanian yang digeluti nya. Bagi petani kecil atau petani berlahan sempit, kehidupan yang mereka jalani, tak ubah nya hanya untuk sekedar menyambung nyawa dari hari ke hari nya. 

Mereka sangat tidak mungkin  bermimpi untuk liburan ke luar negeri. Mereka dianggap tidak realistis jika di benak nya terpikir untuk memiliki mobil mewah sekaliber Toyota Alphard yang harga nya sekitar 1 Milyar rupiah itu. Tapi sebagai warga bangsa, sah-sah saja bila mereka berangan-angan ingin memiliki nya.

 Sebagai warga negara, mereka juga memiliki hak untuk hidup layak dan pantas di negeri nya sendiri. Yang jadi pertanyaan  adalah apakah kita akan berdiam diri saja menyaksikan suasana ini terus berjalan ? Apakah kita akan rela menyaksikan proses pemiskinan petani atas lahan yang dimiliki nya dikarenakan ada nya "sistem waris" dalam kehidupan kaum tani di negeri ini ? Bahkan kepada kita pun telah dititipkan amanah untuk dapat melahirkan beberapa terobosan cerdas dan bernas dalam rangka melakukan perlindungan, pembelaan, pembelajaran, pemberdayaan dan pemartabatan kaum tadi sebagai warga bangsa, agar mereka dapat tampil lagi menjadi "tuan" di atas sawah ladang nya sendiri. 

Kedaulatan petani sebetul nya ditentukan oleh penguasaan atas lahan sawah yang digarap nya. Petani disebut berdaulat, sekira nya mereka memiliki lahan sawah yang pantas untuk dikelola, tapi bila petani tidak memiliki sama sekali lahan sawah, maka tidak salah kalau disebut tidak berdaulat. Makna kedaulatan petani ini menjadi penting, manakala kita ada kehendak untuk menjadikan kaum tani sebagai warga bangsa yang berdaya dan bermartabat. Hal ini penting dicatat, karena pada saat petani bermartabat itulah, segala macam persoalan lahir-batin petani dan keluarga nya bakal tertuntaskan.

Sumber  : www.kompasiana.com
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive