Cara Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai Pengganti Pupuk Kimia

.
.



Komponen yang diperhitungkan sebagai faktor penentu keuntungan petani adalah biaya produksi dan produktivitas. Sehingga, untuk meningkatkan keuntungan petani yang dapat dilakukan adalah meningkatkan prduktivitas atau menurunkan biaya produksi.

Ketika yang dilakukan berfokus pada faktor pertama, yaitu meningkatkan produktivitas, maka kondisi ekosistem (lingkungan) juga harus dipertimbangkan, apakah lingkungan mempunyai daya dukung yang kuat untuk meningkatkan poduktivitas??berdasarkan informasi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), musim kemarau tahun 2013 ini diprediksi sebagai kemarau basah (musim kemarau dengan disertai intensitas hujan yang cukup sering terjadi). Kondisi ini menyebabkan kondisi iklim yang lembab, sehingga serangan hama penyakit meningkat.

Pengaruhnya terhadap hasil panen, tentu saja menurunkan produktivitas. Konsekuensi logisnya adalah menurunnya pendapatan petani. Sehingga, jika kita berfokus pada peningkatan produktivitas, sepertinya sangat sulit untuk dicapai, karena kondisi lingkungan/ ekosistem yang kurang mendukung.

Bagaimana jika kita berfokus pada faktor penentu yang kedua, yaitu menuunkan biaya produksi?. Salah satu komponen biaya prduksi yang cukup tinggi adalah sarana produksi, termasuk pupuk. Untuk menurunkan biaya produksi, petani dapat mengupayakan untuk membuat pupuk sendiri, sehingga komponen biaya produksi dapat ditekan. Teknologi bidang pertanian yang dapat diadopsi oleh petani dalam hal pembuatan pupuk adalah dengan membuat MOL.


Apa itu MOL??

Selama ini kebiasaan mayoritas petani hanya memberikan pupuk tunggal berupa urea. Pada dasarnya, kandungan yang ada dalam pupuk urea hayalah unsur N, yang dalam pemahaman sederhana berperan untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan; berfungsi untuk sintesa klorofil, asam amino dan protein dalam tanaman; merangsang pertumbuhan vegetatif  seperti batang dan daun (Lahuddin, M. 2007).

Padahal, kebutuhan tanaman tidak hanya unsur N, tetapi ada unsur hara yang lain berupa P an K, yang dikenal dengan unsur makro. Unsur P (phospat) berperan terhadap pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman, merangsang pembungaan dan pembuahan, merangsang pertumbuhan akar, merangsang pembentukan biji, merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel. Sedangkan unsur K (Kalium) berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air; meningkatkan daya tahan/ kekebalan tanaman terhadap penyakit (Lahuddin, M. 2007). Sehingga, untuk mencukupi kebutuhan unsur makro, petani dapat membuat MOL N, MOL P, dan MOL K.

MOL adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal yang artinya cairan yang terbuat dari bahan – bahan alami yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau dekomposer dan sebagai aktivator atau tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikroorganisme yang tersedia sekitar kita (NOSC, 2012).

Cara Pembuatan MOL
Pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal) sangatlah mudah, dapat dilakukan dalam skala rumah tangga, bisa dikerjakan secara individu, maupun dibuat bersama – sama secara berkelompok (misal dibuat oleh kelompok tani, dengan penanggung jawab unit usaha pengadaan saprodi).

Cara pembuatan MOL (NOSC, 2012):
1. Inventarisir bahan – bahan yang ada di lingkungan sekitar yang dapat digunakan untuk bahan dasar pembuatan MOL
Bahan MOL N 
Bahan yang dapat dijadikan bahan dasar pembuatan MOL N: semua yang berbau amis/ anyir, seperti keong, bekicot, ikan, daging/ air cucian daging. Bahan – bahan ini berbau anyir/ amis karena disusun oleh protein yang tinggi, dimana unsur penyusun protein adalah N, seperti yang terkandung dalam urea.

Bahan MOL N yang lain adalah daun leresede/ gamal, daun rondo noleh. Daun – daun ini memiliki kandungan N yang tinggi, terbukti jika dipetik, setengah jam kemudian akan menjadi layu, dan jika dibuang ke tanah, maka keesokan harinya akan berwarna hitam.

Buah maja (dalam bahasa Jawa dikenal dengan mojo) atau semua buah – buahan yang tingkat kematangannya berlebih (kandungan glukosa tinggi) juga memiliki kandungan N yang tinggi. Rebung juga memiliki kandungan N dan ZPT (zat perangsang tumbuh) yang tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar MOL N.


Bahan MOL P
Bahan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar MOL P adalah bonggol pisang. Pisang memiliki banyak anakan, karena di bonggol pisang terkandung banyak nutrisi. Bonggol pisang yang busuk sebagai tempat hidup cacing, dimana kotoran cacing mengandung SP 36 alami.

Bahan MOL K
Bahan yang dapat digunakan sebagai bahan MOL K adalah sabut kelapa/ bluluk/ ampas teh. Jika bahan yang digunakan adalah sabut kelapa, sebaiknya gunakan sabut dari kelapa yang muda, agar memudahkan dalam pencacahan bahan.

2. Perkecil/ hancurkan bahan – bahan pembuatan MOL untuk mempercepat reaksi
Bahan – bahan dasar diperkecil ukurannya (terutama bahan – bahan yang berwujud daun dipotong kecil – kecil) atau dihancurkan (misalnya pada keong, bonggol pisang, dan daging buah maja dapat dilakukan penumbukan).

3. Tambahkan air leri/ air cucian beras
Kandungan nutrisi beras yang paling tinggi ada dikulit arinya. Pada waktu mencuci beras air bekas cucian beras biasanya keruh. Kandungan nutrisi apa yang terdapat pada air bekas cucian beras atau kulit ari beras itu sehingga menyebabkan airnya menjadi keruh? Menurut penelitian kulit ari beras kaya akan kandungan serat dan mengandung vitamin B1, B3, B6, Posfor, Zat besi dan Mangan.

Kandungan nutrisi inilah yang kemudian apabila air bekas cucian beras tersebut digunakan untuk menyiram tanaman, dapat berfungsi sebagai pupuk. Kandungan posfornya bisa memacu pertumbuhan akar, dan kandungan zat besinya bisa membantu pembentukan klorofil tanaman atau tumbuhan tersebut, sehingga tanaman kita menjadi lebih subur. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa air leri bisa digunakan sebagai pupuk 

Air leri/ air cucian beras digunakan sebagai bahan pelarut dalam pembuatan MOL, karena dalam air leri juga terkandung karbohidrat yang digunakan sebagai makanan mikroorganisme. Air leri yang digunakan maksimal sampai air cucian yang ketiga, dan dapat ditampung hingga hari kelima untuk menunggu jumlah air leri mencukupi untuk digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan MOL. Lalu, bagaimana jika tidak tersedia air leri dalam jumlah yang mencukupi?. Air leri dapat diganti dengan tepung beras yang diencerkan dengan air.



4. Tambahkan tetes tebu/ molase
Molase merupakan sumber energi yang cepat untuk berbagai bentuk mikroba dan kehidupan tanah di tumpukan kompos atau tanah, sumber karbohidrat yang merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan

Kandungan yang ada dalam molase antara lain kalsium, magnesium, potasium, dan besi. Molase memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi, karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Berbagai vitamin terkandung pula di dalamnya

Karena kandungan yang ada dalam molase, sehingga molase menjadi bahan tambahan dalam pembuatan MOL.

5. Fermentasikan selama 15 hari
Setelah bahan dasar mol, air leri, dan tetes dimasukkan dalam wadah (bisa menggunakan ember ataupun drum), larutan MOL kemudian disimpan/ difermentasi selama 15 hari, ditempatkan di tempat yang teduh (terlindung dari sinar matahari dan hujan). Pada saat dilakukan fermentasi, wadah sebaiknya ditutup dengan kertas koran, kemudian diikat dengan menggunakan rafia. Penggunaan kertas koran sebagai penutup dimaksudkan untuk menghindarkan larutan MOL dari kontaminasi yang tidak dikehendaki dari udara luar. Dengan menggunakan kertas yang masih terdapat sedikit pori, memungkinkan gas yang dihasilkan pada saat fermentasi untuk keluar.

Yang dilakukan dalam periode fermentasi adalah melakukan pengecekan pada hari ketiga. Jika yang tercium adalah bau busuk, maka tambahkan molase kembali, kemudian lanjutkan fermentasi hingga hari ke-15. Setelah 15 hari, MOL telah jadi, dan ampas harus disaring. Air larutan MOL sebaiknya ditempatkan dalam wadah yang tertutup rapat, seperti jerigen atau toples, tempat penyimpanan sebaiknya terhindar dari sinar mataharai langsung dan juga hujan.

Dalam pembuatan MOL, tidak ada dosis/ takaran bahan. Jumlah bahan dalam pembuatan MOL seadanya bahan yang tersedia.


Bagaimana Aplikasi MOL sebagai Pengganti Pupuk Kimia??
MOL dapat diaplikasikan pada berbagai tanaman, baik itu tanaman pangan (utamanya padi) maupun tanaman hortikultura. Aplikasi yang telah banyak berkembang diterapkan dalam budidaya padi. Aplikasi MOL pada budidaya padi:
Aplikasikan MOL N pada saat padi berumur 10 HST (hari setelah tanam) dengan dosis 1: 10; 20 HST (dosis 1:8); 30 HST (dosis 1:6); 40 HST (dosis 1:5)
Aplikasi MOL PK pada saat padi berumur 60 HST dan 70 HST dengan dosis 1:4 (1 liter MOL PK, ditambahkan air sebanyak 4 liter).

Sumber : http://bppk-mungkid.blogspot.co.id/2013/08/petanipun-bisa-membuat-pupuk-sendiri.html
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive