Cara Mudah Memperbanyak Benih Oleh Petani

.
.
Benih merupakan salah satu faktor produksi yang sangat menentukan tingkat capaian produktivitas, sementara penerapan teknologi benih secara tepat untuk tanaman padi, dibanding air dan pupuk relatif lebih mudah, lebih murah dan lebih cepat.Kenyataan di lapangan untuk dapat menyiapkan benih secara tepat, relatif sulit dilaksanakan pemerintah, padahal pengadaan dan perbanyakan benih padi sangat mungkin dilaksanakan oleh petani sendiri.
Tidak dapat dipungkiri bahwa awal mula revolusi hijau dimulai dari penemuan varitas padi unggul Peta Baru (PB), yang dapat berproduksi tinggi, umur genjah,respon terhadap pemupukan, sekalipun dalam perkembangan budidaya selanjutnya sangat tergantung kecukupan sarana produksi seperti pupuk, air  dan pestisida. 
Pada masa orde baru pengadaan benih padi, dimulai dari pengadaan sumber benih klas pemulia (breeder seed), yang disampaikan ke Balai Benih Induk (BBI) untuk diperbanyak, yang dibantu atau disebarkan ke Balai Benih Pembantu(BBP), dan Penangkar Benih.  Mengingat peranan benih yang begitu besar diera orde baru bekerjasama dengan penyuluh, cukup banyak kegiatan yang dilaksanakan antara lain: Uji adaptasi benih termasuk uji galur harapan (GH), penyediaan jalur benih antar lapang (Jabal), sosialisasi melalui demostrasi benih unggul (Dembul), pembinaan penangkar yang diikuti dengan pusat prosesing benih PT. Pertani di beberapa sentera produksi padi. Khusus untuk Pengawasan dan Sertifikasi Benih, di setiap provinsi terdapat kantor Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), yang difasitasi pusat.
Program Benih Nasional
Menyadari peranan benih yang begitu besar diera otonomi daerah ini pemerintah tetap melaksanakan program tentang benih antara lain: pembentukan Cadangan Benih Nasional, (CBN), rencana program 1000 desa benih, subsidi benih, perbanyakan benih melalui BBI dan penangkar  dll.  Namun demikian mengingat kebutuhan benih padi yang sangat besar, terpencar di seluruh Indonesia, penyediaan dalam waktu singkat, penentuan varitas yang beragam, maka usaha yang sudah dilaksanakan ini, di lapangan selain membutuhkan biaya, tenaga yang cukup tinggi, sulit dilaksanakan, juga penuh dengan permasalahan, dan cenderung terjadi penyimpangan atau moral hazard.
Akhir-akhir ini, bekerjasama dengan Intitut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Pertanian  merencanakan 1000 desa atau kelurahan yang mampu menyediakan benih melayani kebutuhan petani setempat dan desa sekitarnya, yang sudah dicanangkan Mentan di Merauke tgl 11 Mei 2015. Dengan cara ini diharapkan tidak ada lagi petani yang mengaku kesulitan mendapatkan benih bermutu pada saat musim tanam.
Sejak zaman dulu petani sangat mengutamakan seleksi benih yang akan diusahakannya, dengan prinsif apabila varitas sudah ditentukan, hendaknya lahan menyesuaikan, sementara bila lahan sudah ditentukan, jenis varietaslah yang  menyesuaikan.   Dengan falsafah ini seharusnya penentuan jenis benih yang akan diusahakan sangat bersifat lokal (sfesific location). Dengan demikian petani setempatlah yang mengetahui persis jenis atau varitas padi yang cocok dan sesuai untuk dikembangkan di sawahnya, termasuk perbanyakan dan pengadaannya.
Terlepas dari bagaimana program 1000 desa benih ini dilaksanakan, falsafah pengadaan benih dari petani untuk petani sangat rational untuk diterapkan, karena selama bahan tanaman atau benih yang dikembangkan atau yang akandiperbanyak tersedia, teknologi perbanyakannya relatif sederhana dan sangat mungkin dilaksanakan oleh petani setempat.Bahan tanaman sedapat mungkin secara berkelompok disediakan pemerintah dalam bentuk calon benih, dan bukan dalam bentuk uang tunai.
Permasalahan Penyiapan Benih Padi
Sama halnya dengan pupuk, sesuai mottonya benih harusnya diterima petani secara 6 tepat antara lain; tepat waktu, tepat varietas, tepat kwalitas, tepat harga, tepat jumlah, tepat tempat. Namun demikian kenyataan di lapangan cukup banyak permasalahan penyediaan benih ini antara lain:
Pertama, sering tidak tepat waktu, dan bahkan tidak tersedia pada saat waktu tanam, karena untuk menghasilkan benih diperlukan waktu dan perencanaan yang tepat sesuai musim dan waktu tanam;
Kedua, penyiapan benih padi secara terpusat misalnya benih bersubsidi, dalam waktu singkat sesuai waktu tanam dalamjumlah besar yang mencapai 98.500.000 kg untuk luasan 3.940.000 ha/tahun, (Ditjen Tanaman Pangan, 2015), sangat sulit dilaksanakan secara tepat.Anehnya  calon benihnya biasanya berasal dari petani lokal, penangkar benih atau petani lainnya di lapangan, dengan bungkusan tertentu (packing berlabel) oleh perusahaan yang ditunjuk, benih tersebut dinyatakan memenuhi persyaratan tehnis benih;
Ketiga, varitas yang digunakan petani relatif terbatas dan sudah diusahakan beberapa kali, yang menyebabkan tingkat produktivitas turun dan biasanya daya tahan terhadap hama penyakit juga menurun;
Keempat, kurang murni atau bercampur dengan varitas lain, yang ditandai dengan ketidak seragaman di lapangan, termasuk kematangan yang tidak seragam. Selain menyulitkan waktu panen, biasanya kwalitas dan produktivitas hasil rendah;
Kelima, dibandingkan benih jagung hibrida, mengusahakan benih padi secara komersial murni, kurang menguntungkan, sehingga keterlibatan swasta relatif kecil.  Inilah alasan kenapa campur tangan pemerintah, khususnya dalam bentuk benih subsidi penting dan mendesak untuk dilaksanakan secara tepat, sekalipun sulit;
Keenam, sulit menyiapkan dan mendistribusikan bahan benih secara tepat ke BBI dan penangkar berupa benih padi klas Breder seed dan atau Parent seed, yang akan diperbanyak menjadi Stock seed dan Extention seed atau benih sebar, sesuai 6 tepat di atas.
Ironisnya petani tidak pernah tidak menanam padi karena benih tidak tersedia, karena dengan cara apapun, petani pasti berusaha untuk mendapatkan benih sekalipun tidak ada jaminan kwalitasnya.  Keadaan inilah yang menyebabkan salah satu penurunan capaian tingkat produktivitas yang didapatkan oleh petani, yang berdampak terhadap produksi padi secara Nasional.
Cara Mudah Memperbanyak Benih Oleh Petani
Idialnya pengolahan benih dari calon benih menjadi benih, secara teori hendaklah dilaksanakan mulai dari proses pemilihan bahan tanaman, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga prosesing, sesuai aturan baku.  Secara sederhana untuk ukuran kebutuhan benih petani di lapangan tanpa harus diperjual belikan, tahapan berikut dapat dijadikan salah satu standart teknis benih sbb:
Pertama, pastikan benih sumber yang akan diusahakan (bahan benih) memenuhi syarat dengan spesifikasi yang jelas, dan berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
Kedua, budidayanya haruslah sesuai kaedah perbanyakan benih, mulai dari pengolahan lahan, sistem pertanaman, pemakaian saprodi pupuk, pestisida, pengairan, isolasi waktu dan atau jarak, termasuk seleksi pertanaman.Biasanya tehnis pelaksanaan telah dikeluarkan oleh BPSB setempat.
Ketiga, waktu panen saat matang fisiologis(lebih cepat dari matang panen 1-2 minggu), biasanya ditandai dari daun yang menguning, tetapi belum mengering.
Keempat, untuk penyimpanan, keringkan gabah calon benih hingga mencapai kadar air tertentu, dan simpan dikaleng, drum plastik kedap udara, ditutup rapat, setelah dianginkan. Menggunakan campuran insektisida butiran dan menyalakan lilin setelah ditutup rapat dianjurkan untuk membuat kedap udara dan terhindar dari hama penggangu.
Kelima, pada saat pemakaian atau hendak menyemai, seleksi benih bernas dilakukan dengan cara: menyediakan air, garam, telur, wadah (ember) dan calon benih, dengan tahapan perlakuan sbb:
Siapkan wadah, seperti ember atau wadah yang akan diisi air, garam, telur dan calon benih padi yang siap diseleksi; Masukkan air ke dalam wadah. Tes awal masukkan sebutir telur ayam ke air dan telur akan tenggelam ke dasar air, ini terjadi karena berat jenis telur lebih besar dari berat jenis air; Masukkan garam ke dalam air (Ini bertujuan agar berat jenis air garam menjadi meningkat). Masukkan garam disertai dengan diaduk-aduk biar lebih cepat larut, dan tambahkan garam secara bertahap hingga telur bila dimasukkan menjadi terapung kepermukaan air; Masukkan telur ke dalam air. Apakah mengapung? Bila belum maka tambahkan lagi garam, dan bila sudah mengapung maka pemberian garam diberhentikan. (umumnya telur mengapung pada perbandingan 20 gram garam setiap 1 liter air); Keluarkan telur yang sudah dalam keadaan mengapung; Masukkan benih ke dalam larutan air garam. Benih yang bernas akan tenggelam, benih yang hampa dan retak akan mengapung; Buang benih yang mengapung; Pilih benih yang tenggelam sempurna; Cuci bersih dan tiriskan benih yang tenggelam tadi; Selanjutnya pelaksanaan persemaian sesuai teknis, yang dimulai dari perendaman diair tawar yang mengalir.
Khusus untuk penyediaan bahan tanaman atau benih yang akan diperbanyak, pengadaannya hendaknya bekerjasama dengan Balitpa Sukamandi, BPTP, Dinas Pertanian, BPSB setempat, Penyuluh Pertanian, penangkar benih, kelompok tani dan aparat desa setempat.  Kegiatan ini pengadaan benih langsung oleh petani, tampaknya sangat dimungkinkan untuk dilaksanakan karena kesadaran petani untuk mengusahakan benih yang sesuai sangat tinggi. Sambil melaksanakan perbanyakan benih ada baiknya diikuti dengan demosterasi varitas berupa Demosterasi benih unggul yang akan dikembangkan, sesuai pilihan petani setempat.
Sumber : http://tabloidsinartani.com/content/read/perbanyakan-benih-padi-oleh-petani/
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive