Cara Membuat Anggur Berbiji menjadi Tanpa Biji

.
.

MEMBUAT ANGGUR BERBIJI MENJADI TANPA BIJI

Anggur yang dimakan sebagai buah segar dan anggur yang dinikmati sebagai minuman disebut sama rata di Indonesia, yaitu anggur. Tetapi oleh orang Inggris keduanya itu dibedakan, yaitu“grape” untuk menyebut anggur yang dimakan sebagai buah segar dan “wine” untuk minumannya. Wine adalah minuman fermentasi hasil perasan buah anggur. Tentu hal ini tidak terlalu dikenal di Indonesia, karena anggur untuk minuman adalah hal yang tabu. Sedangkan di Indonesia anggur seringkali dibuat jus anggur. 

Anggur  paling banyak ditanam orang di Indonesia adalah anggur buah. Konsumennya membedakan anggur buah itu dua macam, yaitu anggur yang berbiji dan anggur tak berbiji.
Anggur tanpa Biji

Menurut Sri Yuniastuti dan Rebin dari Sub Balai Penelitian Hortikultura Malang, buah anggur yang berbiji kurang diminati seperti layaknya anggur yang tidak berbiji sehingga harganya tidak begitu tinggi. Sebaliknya, anggur tak berbiji semakin naik pamornya dan banyak
diminati orang, sehingga harganya tetap bertahan dan baik. Sebagai petani tentunya harus melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan hasil dan kreativitasnya.

Anggur tanpa biji memang banyak memiliki banyak kelebihan dibandingkan anggur berbiji. Antara lain, daging buahnya lebih renyah, kulit buahnya lebih tipis, butiran buahnya besar besar dan rasanya lebih enak karena ketika dimakan tidak ada butiran giji yang kecil.

Terbentuknya Anggur Tanpa Biji

Menurut Sri Yuniastuti dan Rebin buah anggur tanpa biji dilihat dari proses terbentuknya dibedakan menjadi dua yaitu Pertama anggur tanpa biji asli dan kedua anggur tanpa
biji buatan.

Ada tiga macam anggur tanpa biji asli, berdasarkan sifat pembentukan buahnya yaitu
stimulative parthenocarphy, empty seededness dan stenospermocarpy. Disebut anggur tanpa
biji asli, karena varietas ini memang menghasilkan buah tanpa biji. Sedangkan yang buatan,
varietas aslinya adalah anggur yang buahnya berbiji.

Stimulative perthenocarphy ialah sifat pembuahan tanaman yang sejak masa pembungaannya
memang tidak menumbuhkan bakal biji sama sekali. Proses penyerbukan dan pembuahannya
berjalan seperti biasa, namun buah yang berbentuk langsung tak berbiji.

Empty seededness ialah buah anggur yang berbiji hampa. Buahnya terbentuk setelah bunganya
mengalami penyerbukan, tapi embrionya mengalami keguguran sehingga endospermanya
mengerut dan mengalami degenerasi. Biji yang terbentuk dalam daging buah hanyalah biji
hampa atau berkulit biji saja.

Stenospermocarphy ialah buah yang terbentuk setelah bunganya mengalami penyerbukan,
akan tetapi bakal bijinya langsung gugur sehingga pertumbuhan buah yang terbentuk tidak
berbiji.

Ada beberapa varietas anggur tanpa biji, antara lain Thompson Seedless, Merbein Seedless,
Fleme Seedless, Rusian Seedless, Ruby Seedless dan Emerald Seedless. Di negara asalnya
masing masing varietas dapat berkembang dan berbuah dengan baik. Semua varietas itu telah
dicoba ditanam di Indonesia.

Masing masing dapat tumbuh, tapi hasilnya sangat sedikit, bahkan diantaranya ada yang tidak menghasilkan buah sama sekali. Penghambat utamanya adalah kondisi iklim yang sangat berbeda. Sampai sekarang perluasan penanaman varietas anggur tanpa biji asli itu belum bisa dianjurkan di Indonesia.

Anggur Tanpa Biji Buatan

Anggur tanpa biji buatan adalah anggur tanpa biji yang dihasilkan dari-varietas anggur berbiji. Kalau pertumbuhan bunga varietas anggur itu dibiarkan pertumbuhannya secara, pada akhirnya akan menghasilkan buah anggur berbiji biasa. Tapi dengan perlakuan pada awal pembangunannya, bisa diperoleh buah anggur tak berbiji.

Rekayasa pembuatan anggur berbiji menjadi anggur tak berbiji itu telah sukses dilakukan Jepang sejak tahun 1960-an, sehingga membawa dampak positif bagi perkembangan anggur di sana. Dengan perlakuan GA3 100 ppm, anggur delaware yang aslinya berbiji bisa dibuat tidak berbiji sama sekali, dengan ukuran buah yang lebih besar dan lebih manis rasanya dibandingkan delaware yang berbiji.

Usaha pembuatan anggur berbiji menjadi tak berbiji, kini juga sudah mulai dilakukan Indonesia. Usaha itu dirintis Sub Balai Penelitian Hortikultura Malang dengan melakukan percobaan di Kebun Percobaan Banjarsari, Probolinggo, Jawa Timur pada musim kemarau Agustus – Desember 1991.

Tempat percobaannya terletak pada ketinggian 2 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata maksimal siang hari 31OC dan suhu rata-rata minimal malam hari 23OC. Kelembapan udaranya 75 – 80 persen. Jumlah curah hujan dan hari hujannya 0.

Diantara sembilan varietas anggur berbiji yang telah dicoba dengan perlakuan zat pengatur tumbuh Promalin, diperoleh satu varietas anggur yang respon terhadap obat itu sehingga menghasilkan buah yang sama sekali tak berbiji, dengan butiran buah lebih besar, tandanya lebih panjang dan waktu masaknya lebih awal. Varietas anggur yang sangat respon itu adalah Situbondo Kuning.

Percobaan di Indonesia Pembuatan Anggur tanpa biji

Pembuatan anggur berbiji menjadi tak berbiji kini sudah dilakukan di Indonesia. Upaya itu dirintis Sub BaIai Penelitian Hortikultura Malang di Kebun Percobaan Banjarsari, Probolinggo, Iawa Timur pada musim kemarau periode Agustus-Desember 1991. Tempat percobaan terletak pada ketinggian 2 m dpl. Suhu rata-rata maksimal siang hari 31° C dan suhu rata-rata minimal malam hari 23° C. Kelembapan udara 75-8O%. Pada saat percobaan tersebut jumlah curah hujan dan hari hujannya 0.

Di antara sembilan varietas anggur berbiji yang telah dicoba dengan perlakuan zat pengatur tumbuh promalin, diperoleh satu varietas anggur yang responsif, yaitu Situbondo Kuning.

Persiapan budi daya anggur tanpa biji

Teknik pembudidayaan anggur tanpa biji buatan tak berbeda dengan pembudidayaan anggur berbiji. Tanaman bisa tumbuh baik di dataran rendah kurang dari 250 mdpl. Tanah yang dikehendakinya subur, gembur, mengandung pasir dan air, tetapi airnya tidak boleh sampai tergenang terlalu lama, karena dapat mengakibatkan busuk akar dan batang. Anggur juga menghendaki Iingkungan yang banyak mendapat panas matahari dan kering udaranya. Curah hujan yang dikehendaki rata-rata 4-7 bulan per tahun. Daerah yang iklimnya terlalu basah atau banyak curah hujan kurang cocok untuk anggur karena tanaman menjadi sulit berbuah atau kurang produktif dan rasa buah tetap masam, meskipun sudah matang.

Perbanyakan tanaman anggur yang paling efektif menggunakan setek. Bibit setek sebaiknya berupa batang atau cabang sebesar jari dari pohon induk yang sudah berbuah dan berumur Iebih dari satu tahun. Panjang setek sekitar 25 cm, biasanya terdiri atas 2-3 ruas.

Pembibitan dari setek ini sebaiknya dikerjakan jauh sebelum musim hujan berakhir dengan menyemaikannya terlebih dulu dalam pot atau keranjang semai. Media semainya berupa campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 1: 1 : 1. Penyemaian dilakukan di tempat teduh. Lamanya kurang Iebih 2 bulan. Penyiraman perlu dilakukan setiap hari. Pembentukan akar setek dipacu dengan pemberian hormon perakaran IAA (roton).

Jauh sebelum penanaman dimulai, Iubang tanam terlebih dahulu harus dipersiapkan. Ukurannya ialah (60 x 60 x 60) cm atau (75 x 75 x 75) cm. Lubang itu diisi campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1.

Bibit sebaiknya ditanam pada saat musim kemarau, sekitar bulan Juni dan Juli. Setiap tanaman memerlukan lahan seluas 20 meter persegi, termasuk para-para yang harus dipersiapkan sebelum tanaman tumbuh. Para-para berguna untuk merayapkan batang dan cabang secara mendatar pada ketinggian 2 m. Setiap tanaman juga perlu diberi ajir bambu untuk titian setelah bibitnya ditanam agar pertumbuhannya dapat menjalar ke atas menuju para-para.

Sampai umur satu tahun, tanaman cukup dipupuk dengan Urea. Dari permulaan tanam sampai umur tiga bulan, dosis pupuknya 10 g Urea per pohon dengan interval pemberian 10 hari. Pada umur 3-6 bulan dosisnya 15 g Urea per pohon dengan interval 30 hari. Pupuk itu diberikan dalam parit melingkar (mengelilingi pangkal batang) sejauh 10 cm dari batang tersebut.

Pemeliharaan dan pemangkasan

Menginjak umur 9-12 bulan, tanaman anggur sudah menjalar ke para-para sepanjang satu meter. Pada saat inilah bisa dilakukan pemangkasan bentuk. Ujung tanaman dipotong, daunnya digugurkan semua sehingga yang tertinggal cuma batangnya saja.

Setelah tumbuh, tunas-tunas baru pada batang itu dipelihara untuk dijadikan cabang. Jika sudah tumbuh sepanjang satu meter maka ujung cabang dipotong lagi sehingga pertumbuhan cabangnya semakin banyak. Dengan percabangan yang banyak diharapkan tanaman anggur akan menghasilkan buah yang Iebih banyak pula. Selanjutnya, dilakukan pemangkasan produksi (pembungaan).

Agar pertumbuhannya tidak terhambat, tanaman perlu disiram dua kali sehari. Anggur tergolong tanaman yang banyak membutuhkan air, minimal 20 liter per hari setiap pohon. Selain itu, anggur juga membutuhkan banyak sinar matahari dan lingkungan udara yang kering.

Umumnya anggur berbuah pertama kali pada umur Iebih kurang setahun. Anggur Bali mulai berbuah pada umur satu tahun di Kebun Percobaan Banjarsari, Probolinggo. Begitu pula dengan varietas lain seperti Delaware, Situbondo Kuning, White Malaga, Bs 24, Bs 57, Bs 60, Bs 61, dan Bs 73 yang sampai sekarang belum dilepas sebagai varietas unggul nasional.

Setelah berproduksi, anggur semakin membutuhkan perawatan dan pemupukan intensif. Perlakuan itu diperlukan untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksinya. Pemberian pupuk kandang dilakukan setahun sekali sebanyak 100-200 liter menjelang musim hujan atau dua minggu sebelum pemangkasan produksi. Pemberian pupuk ini untuk merangsang pembentukan bunga dan buah. Pupuk ini diberikan dalam parit sedalam 20 cm yang digali sejauh 100 cm dari pokok batangnya.

Penghilangan biji

Sekitar 15 hari setelah tanaman mengalami pemangkasan produksi, tunas cabang yang tumbuh telah membentuk ranting baru yang disebut cabang tersier. Selain daun, pada cabang itu juga tumbuh sulur daun dan malai bunga yang masih kuncup. jika hanya dirawat biasa maka bunga tanaman anggur dari varietas berbiji pasti akan menghasilkan buah anggur yang berbiji.

Agar biji yang terdapat di dalam butiran buah bisa hilang, peneliti di Kebun Percobaan Banjarsari telah melakukan uji coba pada sembilan varietas anggur berbiji. Penelitian ini menggunakan perlakuan dengan larutan promalin. Adapun kesembilan varietas dimaksud adalah anggur Bali, Delaware, Situbondo Kuning, White Malaga, Bs 24, Bs 57, Bs 60, Bs 61, dan Bs 73
Situbondo Kuning

Berikut ini proses yang dilakukan dalam penelitian tersebut untuk menghasilkan anggur tanpa biji dari anggur berbiji.

Sekitar 15 hari setelah pemangkasan produksi, masing-masing tanaman telah mencapai masa primordia bunga. Saat inilah paling tepat untuk melakukan pencelupan calon bunga.
Pencelupan dilakukan dengan larutan promalin. Promalin adalah zat pengatur tubuh dengan bahan aktif GA4 + 7 + BA. Pada percobaan digunakan konsentrasi Iarutan 0 (sebagai kontrol), 500 ppm, 1.000 ppm, dan 2.000 ppm promalin per liter aquadest (air suling).
Pencelupan bunga dilakukan selama 5 detik pada pagi hari atau sore hari ketika tanaman belum terkena sinar matahari secara langsung. Cahaya matahari yang kuat dikhawatirkan bisa mempengaruhi reaksi zat pengatur tumbuh itu menjadi kurang efektif.

Setelah perlakuan, tanaman tidak membutuhkan perawatan khusus sampai tiba masa panen. Selama masa pemeliharaan buah tidak perlu dijarangkan. Dengan perlakuan promalin, tangkai tandan buah jadi memanjang sehingga posisi butiran buah pada malainya seakan-akan sudah dijarangkan.
Tiga bulan setelah pencelupan, buah yang terbentuk mulai menjelang tua. Saat itu perlu dilakukan pembungkusan buah dengan kertas semen agar tidak terganggu hama dan Iebih cepat masak.
Dari masing-masing konsentrasi itu, ternyata hasil yang paling bagus diperoleh dengan larutan promalin 1.000 ppm pada varietas yang paling responsif Situbondo Kuning. Hasilnya, tandan buah bisa memanjang, butiran buahnya membesar, biji didalam daging buahnya hilang sama sekali, dan usia kemasakan buah lebih awal dibandingkan dengan varietas Situbondo Kuning yang sengaja dibiarkan tetap berbiji.

Hasil lain dari percobaan

Hasil yang diperoleh pada varietas anggur lainnya, menurut kedua peneliti itu adalah sebagai berikut. Anggur bali : kerontokannya tinggi, biji tidak berkurang, butiran buahnya jadi lebih besar. Anggur Delaware : tidak ada pengaruhnya sama sekali. Anggur White Malaga : biji di dalam bisa hilang sama sekali, tapi butiran buahnya mengecil. Anggur Bs 24 : butiran buahnya jadi agak lonjong, bijinya tak berkurang. Anggur Bs 57 : kerontokan buahnya tinggi, bijinya tak berkurang, butiran buahnya jadi lebih besar. Anggur Bs 73 : butiran buahnya jadi lonjong, ukurannya sedikit mengecil, bijinya tidak bisa hilang sama sekali, kemasakan buahnya jadi lebih awal.

Teknik pembuatan anggur berbiji menjadi tak berbiji dengan larutan asam giberelat (GA 3) pada anggur Delaware seperti yang telah dilakukan Jepang, juga sudah pernah dicoba oleh Sub Balai Penelitian Hortikultura Malang. Kalau di Jepang perlakuan itu berhasil menjadi anggur itu tak berbiji dan manis rasanya, ternyata setelah dicoba di Indonesia belum memuaskan hasilnya. Anggur yang terbentuk, belum bisa menghilangkan bijinya sama sekali, tapi hanya dapat mengurangi saja.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan ternyata, Situbondo Kuning yang hasilnya paling responsif. Anggur menjadi tanpa biji sama sekali dan buah lebih cepat masak.

Masa pencelupan ke dalam larutan promalin adalah saat mengalami primordia bunga. Dengan pencelupan di pagi hari selama kurang lebih 5 detik, berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dan bisa tidak perlu dijarangkan.

Setelah membaca postingan ini apakah anda berminat menanam anggur tanpa biji? Silahkan dicoba.
Sponsored Links
loading...
Loading...

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive