TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG

.
.
TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG



Benih cabai hibrida sebenarnya dapat saja disemaikan dengan cara disebar. Namun, dengan pertimbangan ekonomis, cara sebar akan sangat merugikan karena mengingat harga benih cabai hibrida sangat mahal. Dengan system sebar, tidak semua bibit dapat dipakai. Padahal satu benih hibrida harus dapat menghasilkan satu bibit tanaman.

Kelebihan bibit cabai hibrida adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhannya sangat cepat dan berumur genjah (masa panen relatif pendek.
2. Sangat responsif terhadap perlakuan pemupukan tinggi.
3. Kualitas atau mutu buah lebih bagus dari pada cabai biasa dan bobotnya lebih berat.
4. Dengan perlakuan yang sama, produksi per tanaman maupun per luas areal lebih besar dari pada cabai biasa.

Kekurangannya sebagai berikut :
1. Peka terhadap serangan hama dan penyakit
2. Biaya yang diperlukan untuk perawatan lebih besar karena membutuhkan perawatan yang intensif.
3. Bibit dari tanaman sendiri atau F2, F3, dan seterusnya tidak bisa ditanam kembali. Jika ditanam kembali, kualitas dan kuantitasnya menurun atau tidak sebagus induknya.

Oleh karena itu, benih harus disemai terlebih dahulu. Adapun cara penyemaiannya sebagai berikut :

1.Persiapan Benih
Benih cabai untuk keperluan penanaman di kebun dapat diproduksi sendiri, atau jika ingin mudah, benih dapat juga dibeli di toko – toko pertanian.

Biji atau benih cabai diambil dari buah tanaman induk. Tanaman induk harus berasal dari tanaman yang sehat dan buah yang baik. Tanaman cabai yang dijadikan induk pun perlu dipilih yang berjenis murni. Jenis murni artinya tanaman yang tidak terbaur dengan tanaman yang sama atau dari jenis lain. Misalnya ; cabai merah jangan dibiarkan dengan cabai keriting.

Selain harus berasal dari tanaman induk pilihan, buah cabai yang akan diambil bijinya harus berbentuk sempurna, tidak cacat, bebas hama penyakit, dan umurnya cukup tua.


Buah yang memenuhi syarat di atas dipotong menjadi tiga bagian yang setiap bagiannya harus sama panjang. Biji untuk benih diambil dari potongan bagian tengah. Potongan bagian tengah ini umumnya memiliki biji yang lebih padat, lebih banyak, lebih besar, dan kemungkinan sudah mengalami penyerbukan sempurna. Potongan uyang dipilih itu dibelah, kemudian bijinya dikeluarkan untuk dijemur sampai kering.


Selain cara di atas, ada cara lain untuk mendapatkan benih yang baik. Buah cabai yang terpilih dapat langsung dikeringkan tanpa dipotong terlebih dahulu. Bila akan digunakan, buah cabai kering tersebut dipotong menjadi tiga bagian dan biji dari potongan bagian tengahnya saja yang diambil.


Setelah biji cabai untuk benih diperoleh, tahapan berikutnya ialah melakukan seleksi biji untuk mendapatkan benih cabai yang baik. Seleksi ini bertujuan agar diperoleh benih cabai dengan daya tumbuh yang baik. Penyeleksian dilakukan dengan cara biji calon benih dimasukkan ke dalam ember atau bak berisi air dan diaduk-aduk. Dengan cara ini akan tampak adanya biji yang mengambang dan yang tenggelam. Biji yang menggambang merupakan biji yang kurang baik untuk benih. Biji ini merupakan biji yang tidak berisi (kosong). Sebaliknya, biji yang tenggelam merupakan biji yang berisi.

Cara di atas merupakan cara untuk memilih biji sebagai benih yang baik dari buah yang terpilih. Namun, bagaimana kalau benih itu diperoleh dari pembelian yang sudah jadi. Cara memilih benih yang demikian pun sama dengan memilih benih dari biji yang diperoleh dari pengeringan sendiri.

Selain persyaratan tersebut, biji calon benih pun harus memiliki ciri fisik yang baik. Ciri fisik ini antara lain bentuk, ukuran, dan warna harus seragam, permukaan kulitnya bersih, tidak keriput, dan tidak cacat, serta kulitnya berwarna cerah.

2. Persiapan Media Penyemaian
Media semai yang digunakan untuk penanaman cabai merupakan campuran dari tanah, pupuk kandang atau kompos, dan pupuk TSP (SP 36) ditambah dengan insektisida berbahan aktif karbofuran (missal : Furadan, Petrofur, Curaterr).

Sebelum dicampurkan , tanah harus diayak dahulu . Hasil ayakan tanah inilah yang kemudian dicampurkan dengan pupuk kandang atau kompos. Pengayakan ini bertujuan agar butir – butir tanahnya seragam sehingga bibit nantinya mudah berkembang dan terbebas dari kotoran sisa perakaran dan kotoran lain .


Setiap tiga ember adonan tanah dan pupuk kandang ditambahkan 100 g insektisida karbofuran dan 100 g pupuk TSP atau SP 36 yang telah dilembutkan. Bila tidak ada TSP atau SP 36, pupuk tersebut dapat diganti dengan NPK sebanyak 80 g per tiga adonan tersebut. Penambahan TSP (SP 36) untuk merangsang pertumbuhan akar bibit, sedangkan penambahan karbofuran untuk mengendalikan serangan hama (terutama serangga dan nematode) yang terbawa di dalam tanah.

Semua bahan yang telah disiapkan untuk media semai diaduk rata kemudian dimasukkan kedalam koker (bumbungan daun pisang) yang telah disiapkan. Pengisian media semai sebaiknya tidak terlalu penuh (cukup 90 % penuh) sambil ditekan – tekan. Untuk penataan koker, cara konvensional yang biasa dipakai adalah menggunakan wadah ceper, seperti kotak kayu, baki, atau tray setinggi 8 – 10 cm yang telah diberi beberapa lubang di bagian dasarnya untuk keperluan drainase. Kemudian tatanan koker diletakkan pada tempat yang terlindung, bisa pada bangunan persemaian setengah lingkaran yang ditutup plastik bening atau pada ruang persemaian (rumah bayang).


3. Perlakuan Benih
Sebelum benih ditanam ke dalam koker, maka benih perlu diberi perlakuan terlebih dahulu agar mudah berkecambah dan bebas bibit penyakit berupa cendawan maupun bakteri. Perlakuan benih dapat dilakukan secara basah maupun kering.

a. Perlakuan basah
Benih yang akan disemai direndam dalam air yang telah diberi fungisida Previcur N 1,5 ml/l dan bakterisida Agrimycin/Agrept 1,2 g/l selama 4 – 6 jam kemudian benih di peram. Benih dibungkus dengan handuk basah atau kertas Koran yang dilipat dan dibasahi kemudian diperam di dalam bekas kaleng biskuit yang di dalamnya diberi penerangan lampu 15 W.

Handuk atau kertas Koran harus selalu dijaga kelembabannya dengan cara disiram air secukupnya apabila terasa mulai kering. Setelah 3 atau 4 hari benih telah berkecambah 0,5 – 1,0 mm dan siap disemaikan.

Cara lain sebelum disemai, benih yang terpilih direndam dahulu kedalam larutan fungisida sampai 12 jam dan dikeringanginkan hingga airnya kering. Setelah itu, benih ditebarkan ke tempat persemaian. Selain cara tersebut, ada lagi cara lain, yaitu benih direndam selama 10 menit dalam larutan hipoklorit 10 % yang kemudian direndam ke dalam air hangat (50°C) selama semalam.

b. Perlakuan kering
Perendaman benih dan pemeraman biasanya mempersulit penanaman benih ke koker karena kulit benih menjadi lengket dan sulit dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu, petani sering kali tidak melakukan perendaman benih, tetapi melakukan perlakuan benih secara kering. Benih yang masih dalam kantung kemasan dibuka dengan cara menggunting salah satu ujungnya. Kedalam kantong dimasukkan satu sendok teh fungisida Derasol 60 WP dan satu sendok teh bakterisida Agrimycin/Agrept. Bungkus kemasan dilipat kemudian dikocok – kocok sampai seluruh benih terselimuti fungisida dan bakterisida tadi. Setelah itu benih siap di tanam di dalam koker.

4. Persiapan bumbungan (Koker)
Koker yang digunakan pada penyemaian benih cabai sebaiknya dilakukan dengan menggunakan daun pisang yang digulung dengan menggunakan paralon atau bambu sebagai alat bantu dengan ukuran koker tinggi ± 7 cm dan diameter ± 3 cm. Koker disusun di atas nampan persemaian yang telah di lubangi sebagai tempat membuang kelebihan air.



Sebelumnya bumbung diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK yang dihaluskan serta Furadan. Bahan media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam bumbungan hingga penuh. Benih cabai keriting yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1,0 – 1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Berikutnya semua bumbung yang telah diisi benih cabai keriting disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah. Setelah itu segera lindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan), pemeliharaan persemaian adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air, saat tanaman muda berumur 10 – 15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

5. Penyemaian Benih
Penyemaian benih dilakukan dengan baik agar dihasilkan bibit yang berkualitas. Untuk persemaian di koker daun pisang, benih ditanam sedalam 0,5 cm. Setelah benih dimasukan kedalam koker, di atas benih tersebut ditaburkan pupuk kandang atau kompos setipis mungkin.

Benih yang sudah disebarkan atau ditanam harus dilindungi dari terpaan sinar matahari ataupun air hujan. Untuk itu, persemaian dalam koker (bumbungan daun pisang) harus diletakan di ruang persemaian atau dapat juga diteras rumah.

Untuk memberikan kelembapan dalam perkecambahan benih, permukaan persemaian ditutup dengan kain yang dijaga kebasahannya setiap hari. Wadah semai dapat ditutup plastik agar kelembaban media stabil. Namun plastik harus rutin dibuka setiap hari pada saat media akan disiram.

Kain atau kerudung plastik dibuka setelah benih tumbuh menjadi kecambah pada hari ke -3 atau ke-4. Meskipun telah menjadi kecambah, media semai harus tetap dijaga kelembapannya. Oleh karena itu, penyiraman harus dilakukan setiap hari. Selain penyiraman, kegiatan penyiangan tanaman di persemaian juga harus dilakukan minimal satu kali.

6. Penaungan
Sebaiknya pembibitan diberi pelindung atau naungan yang terbuat dari kayu dan atap daun lalang atau bahan lain. Pembuatan naungan ini sebaiknya dibuat sebelum benih disemai supaya benih tidak terganggu ketika pembuatan naungan. Tempat persemaian diberi naungan (atap) dengan arah timur – barat. Untuk menghindari teriknya sinar matahari dan derasnya terpaan air hujan.

DAFTAR PUSTAKA
- Prajnanta F, 2007. Kiat Sukses Bertanam Cabai di Musim Hujan. Penebar Swadaya. Jakarta

- Redaksi Trubus, 2007. Bertanam Cabai Dalam Pot. Penebar Swadaya. Jakarta.

- Prajnanta F, 2006. Mengatasi Permasalahan Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

- Setiadi, 2006. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

- Tjahjadi N, 1991. Cabai Seri Budi Daya. Kanisius . Yogyakarta.

Sumber  : http://www.bppjambi.info/?page=6
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive