Peluang Ekspor Masih Sangat Terbuka Untuk Produk Tanaman Obat Herbal

.
.
Kunyit dan jahe. Dua tanaman rimpang ini lebih terkenal di dapur sebagai jenis bumbu masakan. Kedua tanaman ini juga acap dijumpai dalam bentuk minuman seperti jamu dan minuman untuk membantu menghangatkan badan. Wujud aslinya tampak kurang menarik. Apabila teronggok dalam satu wadah, melirik pun enggan. Namun, siapa nyana kunyit, jahe, dan sejumlah tanaman asli Indonesia lain mengalirkan rupiah dari devisa? Ya, olahan dari bahan-bahan herbal asli Indonesia merupakan komoditas ekspor dengan peminat dari berbagai negara.
Tidak hanya kunyit dan jahe, sejumlah tanaman herbal lain juga telah dikenal di berbagai benua. Sebutlah temulawak, pasak bumi, dan purwaceng. Tanaman ini banyak diekspor dalam bentuk ekstrak, minuman herbal, atau jamu. Produk herbal alami Indonesia dikenal mempunyai sejumlah keunggulan. Di antaranya, beberapa produk herbal tersebut hanya tumbuh di Indonesia, memiliki khasiat cukup banyak, serta dapat diaplikasikan tidak hanya pada makanan atau minuman, tetapi juga kosmetik dan produk perawatan tubuh. Selain itu, produk ini bersifat alami tanpa terlalu banyak proses yang bisa menghilangkan manfaatnya. Karena sifatnya yang alami, kandungan di dalam produk herbal Indonesia bisa dipadukan dengan bahan-bahan lain.
Tidak heran, banyak negara yang telah menjadi “pelanggan tetap” produk herbal Indonesia. Di antaranya Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Nigeria, Singapura, dan berbagai negara di Eropa. Nilai ekspor dari produk herbal ini memang belum bisa menyaingi ekspor migas atau komoditas ekspor nonmigas lainnya. Namun, kontribusi dari produk herbal ini dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Produk herbal ini antara lain didapatkan dari kawasan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah lain di Indonesia. Misalnya, tanaman purwaceng dikenal dari daerah Wonosobo atau Dieng. Daerah ini dikenal subur sehingga tidak hanya sayur-mayur yang menjadi komoditasnya, tetapi juga produk herbal seperti purwaceng. Selain itu, daerah-daerah lain di Indonesia masih mempunyai potensi untuk pengembangan pertanian atau perkebunan tanaman herbal untuk pasar ekspor.
Sebagian produk herbal ini didapatkan dari usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebagian lagi didapatkan dari perkebunan rakyat dan sejumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang produk herbal. Contohnya, Javaplant. CEO dan co-founder Javaplant Junius Rahardjo mengatakan, tidak kurang dari 60 jenis ekstrak herbal kering telah diproduksi dan dipasarkan Javaplant ke pasar international, terutama AS. Jumlah ini cukup tinggi. Apabila volume ekspor ditambah dan pangsa pasar diperluas, produk herbal asal Indonesia bisa semakin dikenal di mancanegara. Nilai ekspor dari produk herbal pun akan meningkat. Per bulan, Javaplant memproduksi 115-120 ton ekstrak produk herbal kering. Sementara itu, per tahunnya, Javaplant mengekspor 70 ton ekstrak kayu manis dan 100 ton ekstrak buah kopi ke AS. Pada 2015 mendatang, Javaplant berencana menjadikan ekstrak temulawak dan purwaceng sebagai produk andalan terbaru. Selain khasiatnya, kedua bahan herbal ini dipilih lantaran merupakan bahan asli dari Indonesia dan tidak didapatkan di negara lain. Hal ini menjadi keunggulan tersendiri dari kedua bahan tersebut. Melihat semakin banyaknya produk herbal yang dilempar ke pasaran, sejumlah anggota Komisi III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia mengadakan kunjungan kerja (kunker) ke pabrik ekstraksi herbal Javaplant, di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (14/11). Junius berharap, kunjungan kerja ini nantinya juga dapat mendorong terciptanya pertumbuhan pasar herbal di dalam negeri, yang selama ini dianggap kurang antusias terhadap produk ekstrak herbal.
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive