Cara Mengendalikan Keong Mas dengan Pemikat Alami

.
.


Bagi petani di Indonesia,organisme pengganggutanaman (OPT) ibarat  TTM. Bukan Teman Tapi Mesra, tapi Teman Tapi Musuh yang selalu menemani di sawah. Karena itu keberadaannya kerap menyusahkan petani.Bahkan membuat produksi tanaman menjadi tidak maksimal.
Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia memang termasuk negara  yang endemis hama penyakit. Beberapa hama yang mengganggu petani yakni wereng batang coklat, tikus, penggerek batang padi, walang sangit dan keong mas.  Sedangkan penyakit yang suka menghantui tanaman petani seperti hawar daun bakteri (HDB), blass dan gulma.
Keong mas menjadi salah satu hama penting yang selalu menyerang tanaman padi di sentra produksi pangan di Indonesia. Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, sehingga bibit hilang.
Waktu kritis untuk mengendalikan serangan keong mas adalah saat 10 hst (hari setelah tanam) atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Jika di sawah diketahui terdapat telur berwarna merah muda dengan berbagai ukuran serta warna, perlu dilakukan pengaturan air.
Keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air. Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka pada 15 hari setelah tanam pindah, perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitten irrigation).
Trik Mengendalikan
Serangan hama keong mas sangat berdampak pada tingkat produksi padi. Salah satu upaya pengendalian dengan cara mencegah introduksi keong mas pada areal baru.
Jika keong mas masuk ke dalam areal sawah baru, maka akan berkembang cepat, terutama pada lahan yang selalu tergenang. Parahnya, hama tersebut sulit dikendalikan.
Pengendalian keong mas, sebaiknya dilakukan dengan pengendalian hama secara terpadu (PHT) dan berkesinambungan. Jadi meski tanaman padi sudah besar (lebih dari 30 hari), pengendalian harus tetap dilaksanakan. Hal tersebut untuk mencegah serangan pada musim berikutnya dan juga di lahan sawah sekitarnya.
Selain langkah-langkah tersebut, penggunaan pestisida menjadi salah satu solusi utama dalam mengendalikan hama keong mas. Namun penggunaan pestisida kimia memiliki banyak kerugian, salah satunya adalah resistensi, resurgensi dan residu racun yang dihasilkan.  Untuk itu perlu dilakukan pengujian teknologi penggunaan bahan-bahan alami sebagai pestisida nabati yang bermanfaat bagi pengendalian hama keong mas.
Dalam upaya pengendalian hama keong mas yang menyerang tanaman padi di wilayah Kecamatan Mojolaban, Mahasiswa Pendamping Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale) asal Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang melakukan pengujian pengendalian hama keong mas dengan tumbuhan antraktan/pemikat.
Tumbuhan tersebut yaitu daun pepaya, daun lamtoro, daun ketela pohon, dan bekatul sebagai pestisida nabati. Bahan-bahan ini dipilih karena harganya relatif murah, mudah didapat, tumbuh di sekitar lahan petani, dan ramah lingkungan.
Hasil pengamatan  terhadap pengujian teknologi yang dilaksanakan selama pada musim tanam 2 (MT2) di lahan petani Kelompok Tani Ngupoyo Makmur, Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, menunjukkan bahwa umur tanaman padi dari fase vegetatif sampai fase generatif adalah 120 hari atau 18 minggu.
Dengan umpan daun pepaya dapat mengendalikan 25.344 ekor dengan rerata 211.2 ekor/hari/titik umpan. Daun lamtoro dapat mengendalikan 17.370 ekor dengan rerata 144.75 ekor/hari/titik umpan. Daun ketela pohon dapat mengendalikan 16.164 ekor dengan rerata 134.7 ekor/hari/titik umpan. Sedangkan dengan bekatul dapat mengendalikan 5.490 ekor dengan rerata 45.75 ekor/hari/titik umpan.
Dampak dari perlakuan pengendalian hama keong mas tersebut, berdampak pada peningkatan hasil produksi tanaman padi. Berat bulir padi berdasarkan hasil ubinan seberat 7,65 kg, setara dengan 12,245 ton/ha.
Hasil pengujian teknologi tersebut, menunjukkan daun pepaya merupakan tumbuhan antraktan/pemikat yang cocok dan efektif sebagai pestisida nabati pengendali hama keong mas pada tanaman padi. Sedangkan daun lamtoro dan ketela pohon dapat  digunakan tumbuhan antraktan/pemikat pendukung.
Ada beberapa keuntungan daun pepaya sebagai pestisida nabati. Yakni, lingkungan tidak tercemar, tidak membutuhkan biaya yang mahal, teknik pengendalian hama tidak rumit, limbah umpan menjadi pupuk organik pada lahan, hanya menyerang hama sasaran, mudah didapat, tidak ada efek samping, tidak menimbulkan resistensi pada tanaman dan hama sasaran, mudah diaplikasikan petani.
Namun demikian penggunaan daun pepaya sebagai tumbuhan sebagai pestisida nabati juga memiliki kekurangan. Di antaranya, bekerja secara lambat, sulit diprediksi hasilnya, lebih optimal jika digunakan untuk preventif dan pengendalian dan penggunaannya harus sesering mungkin.
Hasil pengujian pengendalian keong mas pada tanaman padi ini bisa menjadi rekomendasi untuk petani sebagai upaya peningkatan hasil produksi padi. Yunior Mars Tukan/Yul
Aplikasi Pestisida Nabati
  1. Sistem tanam menggunakan sistem tanam jajar legowo
  2. Menggunakan lima lembar daun pepaya pada setiap titik umpan. Semakin banyak titik umpan, akan mendapatkan hasil lebih baik.
  3. Titik umpan sebaiknya pada tempat yang berair.
  4. Sebelum dipasang umpan, lahan dialiri sampai kondisi air pada lahan terlihat macak-macak lalu pintu air lahan ditutup.
  5. Pemasangan umpan.
  6. Dianjurkan menggunakan daun lamtoro (6 pucuk dengan panjang ± 30 cm) pada pintu air lahan sebagai saringan.
PHT pada Keong Mas
  1. Mengambil dan memusnahkan sebagai cara mekanis.
  2. Mengambil dan memusnahkan telur siput pada tanaman.
  3. Menyebar benih lebih banyak untuk sulaman.
  4. Membersihkan saluran air dari tanaman air seperti kangkung.
  5. Pemupukan P dan K dilakukan sebelum  tanam.
  6. Menanam bibit yang agak tua (lebih dari 21 hari) dan jumlah bibit lebih banyak.
  7. Mengeringkan sawah sampai 7 hari setelah tanam.
  8. Tidak aplikasi herbisida sampai 7 hari setelah tanam.
  9. Memasang saringan pada pemasukan air untuk menjaring siput.
  10. Mengumpan dengan menggunakan daun talas dan pepaya
  11. Memasang ajir agar siput bertelur pada ajir dan telurnya dimusnahkan.
  12. Aplikasi pestisida anorganik atau nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20 sampai 50 kg/ha yang diaplikasi sebelum tanam, sebaiknya dilakukan pada caren agar bahan pestisida dapat dihemat.
  13. Menggembalakan itik setelah padi dipanen.
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive