Panduan Lengkap Kiat Sukses Pengendalian Hama Cabai dengan Budidaya yang Baik

.
.
          


  Cabai merupakan komoditi yang amat sangat fluktuatif harganya di pasaran, bahkan tidak jarang harganya lebih dari Rp 50.000 per kilogram, yang menyebabkan banyak konsumen yang menjerit. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh ketersediaan komoditi tersebut di pasaran, sementara permintaan cenderung semakin meningkat karena hampir setiap rumah tangga membutuhkan cabai setiap hari guna meningkatkan cita rasa masakannya. Guna memenuhi permintaan dan menjaga stok cabai di pasaran agar harga tidak melonjak, tidak jarang pemerintah melakukan impor cabai. Bila hal ini terus dibiarkan tentunya akan sangat merugikan baik ditingkat anggaran Negara maupun petani dalam negeri sendiri. Untuk itu perlu ditingkatkan luas  tanam cabai dan produktivitasnya. Ini mengapa program UPSUS Baberuk (Cabai, Bawang dan jeruk) digelontorkan oleh pemerintah mulai tahun 2016.
Dalam peningkatan luas tanam dan produktivitas cabai persoalannya adalah untuk petani-petani pemula dalam budidaya cabai, sering terkendala dalam pengendalian hama dan penyakit, pengendalian hama dan penyakit yang kurang tepat dapat menimbulkan kerugian dan tidak jarang mengakibatkan gagal panen. Untuk itu mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memberikan penambahan bekal bagi para pemula dalam budidaya cabai  terutama dalam hal pengendalian hama dan penyakit Tanaman (HPT) cabai sehingga usahanya dapat berhasil. Tulisan ini didasarkan pengalaman penulis dan sebagian besar disarikan dari hasil wawancara dengan petani-petani sukses dalam budidaya cabai.
Dalam keberhasilan pengendalian HPT Cabai sebelumnya perlu diperhatikan dengan seksama pola budidaya cabai yang baik sehingga mendapatkan tanaman cabai yang sehat, tahan terhadap hama dan penyakit yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Pola budidaya cabai yang baik diawali dengan pemilihan lokasi, pengolahan lahan, pemupukan hingga pengendalian Hama dan Penyakit tanaman yang tepat.

TEMPAT YANG BAIK UNTUK BERTANAM CABAI.
Langkah awal dalam menanam cabai adalah menentukan tempat atau lahan. Secara umum Cabai dapat tumbuh di sembarang tempat, sembarang daerah dan sembarang waktu. Meski demikian untuk mendapatkan hasil yang optimal harus terpenuhi persyaratan tertentu yang mesti diperhatikan.

Tempat yang baik untuk tanaman cabai adalah :
1.   Hawa atau suhu daerah harus sesuai dengan jenis cabai yang ditanam.
2.    Tanah tempat tumbuh, untuk semua jenis cabai, tanah harus subur, kaya akan bahan organik.
3.    PH tanah antara 6,0 – 7,0, atau lebih tepat lagi kalau PH itu 6,5.
4.    Tanah harus berstruktur remah  atau gembur.
5.    Kandungan air dalam tanah-pun harus kita perhitungkan, sebab berkaitan dengan tempat tumbuhnya tanaman cabai, apakah di sawah atau kah di tegalan. Jika menanam di sawah lakukanlah pada musim kemarau dan sebaliknya jika menanam di tegalan lakukan pada musim hujan.

MENGOLAH LAHAN.
Sesudah kita menemukan tempat yang sesuai, langkah selanjutnya adalah mengolah tempat atau lahan. Pengolahan lahan dapat menggunakan cangkul atau traktor, usahakan tanah terolah sempurna yang dicirikan tanah telah gembur atau remah dengan tidak adanya bongkahan-bongkahan tanah. Setelah tanah gembur baru dibuat bedengannya dan dibuatkan saluran air untuk pembuangan air yang berlebihan.

MEMBUAT BEDENGAN.
                  Setelah lahan dibajak, dicangkul dan tanah telah menjadi gembur, maka lahan harus dibuat menjadi bedengan-bedengan. Dalam membuat bedengan ini yang perlu diperhatikan  antara lain :                       
1     Panjang bedengan  bisa mengikuti lahan atau 7 - 10 m .                                
2     Lebar bedengan 120 cm.
3     Tinggi bedengan 30 – 50 cm.
4     Lebar parit 60-80 cm.

Selesai menyiapkan bedengan, lahan (bedengan) dibiarkan sekitar seminggu, tujuannya agar lahan terangin-anginkan, kena terik matahari, dan sirkulasi udara dalam tanah bisa berjalan lancar. Namun yang lebih penting, jika tanah itu ditumbuhi jasad renik yang kurang menguntungkan, bisa mati oleh terik matahari.


PEMBERIAN PUPUK

Sebelum bedengan ditutup dengan mulas plastik hitam perak, lahan penanaman cabai perlu diberi pupuk dasar sebagai pemupukan awal. Pupuk dasar ini terdiri dari :
1.  Pupuk Kandang dengan dosis antara 1 kg sampai 2 kg per batang atau 15-30 ton per hektar.
2.   Pupuk Urea atau Za, 30 gr per batang atau 300 kg per hektar.
3.   Pupuk TSP 46, 45 g per batang atau 450 kg per hektar.
4.   Pupuk KCl, 40 g per batang atau 400 kg per hektar.
Jika lahan baru dibuka pertama kali untuk penanaman cabai maka pemberian pupuk di atas perlu diperbesar lagi, atau justru dikurangi jika memang kondisi lahan sudah subur, penambahan atau pengurangan pupuk dasar di atas tergantung kondisi tanah.
Setelah pemupukan di atas, lahan perlu dicangkul lagi supaya pupuk dan tanah bisa bercampur rata. Setelah itu, lahan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak dan dibiarkan seminggu, supaya antara pupuk dan tanah bereaksi. Lagi pula jasad renik yang diperlukan tanaman yang terutama berasal dari pupuk kandang bisa berkembang lebih baik. Tujuannya ketika bibit cabai ditanam, tingkat kesuburan tanah sudah cukup memadai dan segala kebutuhan akan unsur hara sudah tersedia. Dengan harapan bibit yang ditanam tadi, nantinya bisa menjadi tanaman yang sehat dengan hasil yang optimal.
Yang lebih penting lagi, pemberian pupuk di atas berdasarkan pada PH tanah netral. Jika PH tanah belum netral maka tanah itu perlu dinetralkan terlebih dulu sebelum dipupuk. Caranya dengan pengapuran lahan, bisa dengan menggunakan dolomit. Kenapa PH tanah harus netral? Karena pada PH netral semua unsur hara yang diperlukan tanaman bisa diserap oleh akar secara seimbang.  
 Pemupukan selanjutnya setelah tanaman berumur 5 HST dengan cara pengocoran, pemupukan dengan cara dicor ini diulang seminggu sekali sampai tanaman tidak produktif lagi. Pengocoran dilakukan dengan cara mencampur air satu drum ( ± 200 l) dengan NPK 4 kg, ZA 1 Kg serta TSP 2 Kg, berikan per batang 200cc. Pencampuran air dengan pupuk untuk pengocoran dilakukan sehari sebelum pemupukan
           
Memilih dan menyemai benih yang baik.
Dalam budidaya cabai pemilihan benih sangat menentukan keberhasilan, pilihlah benih dari buah yang baik  atau benih cabai diambilkan dari buah tanaman induk yang sehat dan tidak berbaur dengan jenis cabai lain. Buah yang dipilih bentuknya sempurna, tidak cacat, bebas hama penyakit, dan cukup tua umurnya. Lantas buah cabai tadi kita ambil bijinya dari 2/3 bagian buah,1/3 bagian ujung kita buang. Barulah biji ini kita jemur dan keringkan. Atau cara yang lebih aman adalah dengan menggunakan benih cabai yang dijual di toko-toko pertanian. Tetapi harus diingat benih yang kita pilih adalah benih yang bermerek dan diakui dinas pertanian atau kementerian pertanian. Karena benih ini selain sudah melalui pemrosesan yang tepat juga sudah diberikan obat.

Benih  yang sudah kita pilih ini kemudian kita semai. Sebelum disemai benih kita rendam dengan air dan kita aduk, kemudian diamkan sebentar, buang semua biji yang terapung, karena biji ini kurang bagus untuk dijadikan bibit. Benih yang tenggelam selanjutnya kita rendam semalam dengan 1 liter air ditambah 1 sendok teh atonik.
Pada pagi harinya bibit ini kita masukkan ke dalam polybag yang sudah diisi campuran tanah, pupuk TSP dan pupuk kandang (dimana perbandingannya, 1 kg tanah, 2 kg pupuk kandang, 1 ons TSP). Satu polybag kita isi dengan 1 benih cabai. Polybag ini kita taruk di bawah naungan yang tidak kena sinar matahari dan hujan langsung, dalam arti kita buatkan tempat khusus untuk pembibitan. Setelah 4 hari bibit ini biasanya sudah mulai tumbuh.

Selama proses pertumbuhan, pemeliharaan umum kita lakukan. Seperti penyiraman  dua kali sehari jika udara kelewat panas, penjagaan terhadap hama dan penyakit. Bahkan bila perlu harus kita semprot setiap 5 hari sekali dengan campuran fungisida, insektisida dan pupuk daun. Setelah berumur 15-30 hari setelah semai atau telah memiliki 2-3 daun sejati bibit baru dipindahkan kelapangan.

MENANAM BIBIT DI LAHAN.
Sebelum menanam bibit di lahan tentukan dulu jarak tanam yang akan digunakan dengan cara melubangi mulsa plastik dengan kaleng yang diberi bara api. Jarak tanam ditentukan berdasarkan jenis cabai yang ditanam. Biasanya yang dipakai adalah 50-60 cm antar lubang dan 60-70 cm untuk jarak barisan dan 70-80 cm jarak antar bedengan.
                  Tujuan dilakukan jarak tanam ini adalah :
a.    Agar masing-masing tanaman tidak berebut makanan.
b.    Agar masing-masing tanaman tidak berebut air
c.    Agar masing-masing tanaman tidak berebut sinar matahari (tidak saling menaungi).

Pada penanaman bibit, polybag atau plastik tempat pembibitan harus dibuang dan usahakan tanah tidak pecah. Kemudian tanah berikut tanaman muda ditanam di lubang yang sudah disiapkan sebelumnya. Urug tanaman sampai batas pangkal batang atau sampai menutupi tanah bekas pembibitan. Selanjutnya, bagian tanah di sekitar tanaman, ditekan-tekan pakai tangan supaya tanah sekitar bisa bersatu dengan tanah sekitar bibit. Penanaman ini lebih baik dilakukan pada waktu sore hari dimana sinar matahari sudah tidak terlalu panas, supaya bibit yang baru kita pindahkan tadi tidak layu kepanasan oleh terik matahari.
Selesai penanaman, tanaman tadi langsung disirami. Karena tanaman yang baru dipindahkan di kebun itu keadaannya masih lemah, maka untuk melindungi sengatan matahari langsung atau terpaan air hujan yang kelewat deras serta terpaan angin yang cukup kencang, tanaman muda tersebut perlu diberi pelindung ala kadarnya, misalnya dengan pelepah batang pisang selama 3-4 hari.

PERAWATAN DAN PENYIANGAN
Dalam pertumbuhannya tanaman cabai memerlukan penyangga untuk menahan tanaman dari terpaan angin atau beratnya buah, penyangga ini harus sudah kita pasang paling tidak 5 HST agar tidak merusak akar tanaman. Penyangga dapat menggunakan bambu  dengan panjang  ± 130 cm.
Tanaman cabai ini selain dipupuk dan disemprot juga harus disiang dari gulma pengganggu. Tujuannya agar pupuk yang kita berikan benar-benar hanya diserap oleh tanaman cabai itu saja. Dalam melakukan penyiangan harus hati-hati, jangan sampai pada saat mengangkat gulma mengganggu akar tanaman cabai, bila perlu kita potong gulma itu pada pangkal akarnya saja. Selain penyiangan hal yang perlu dilakukan adalah pembuangan cabang-cabang sekunder, hal ini perlu dilakukan agar tanaman tumbuh kokoh dan kuat sebelum berbunga dan berbuah. Cabang sekunder merupakan cabang yang tumbuh pada ketiak daun batang utama.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Sebelum melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai, harus terlebih dahulu kita ketahui jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabai kita, setelah itu baru kita tentukan jenis insektisida atau fungisida yang akan kita gunakan. Disamping disemprot dengan insektisida atau fungisida sesuai dengan hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabai, tanaman Cabai perlu juga disemprot dengan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) seperti Gandasil, Dekamon,Super Gro, Hantu atau jenis-jenis ZPT lainnya.
Penggunaan insektisida, fungisida serta ZPT dapat dilakukan secara bersama-sama, selama dalam kemasan tidak ada larangan untuk dicampur dengan insektisida atau fungisida yang lain. 
Dalam beberapa kasus pengendalian HPT Cabai misalnya lalat buah agar pengendalian yang dilakukan lebih efektif kadang-kadang perlu pencampuran 2 atau 3  jenis pestisida dengan bahan aktif yang berbeda seperti Curacron + lannete..
                  
Pengendalian Hama
1.    Thrips.
Thrips merupakan hama sejenis serangga yang berukuran kecil, yaitu antara 1 – 2 mm . Thrips dewasa berwarna kehitaman, bertotol merah atau bergaris. Sedangkan Thrips muda, warnanya agak keputihan atau kekuningan. Biasanya Thrips meletakan telurnya di bawah daun secara berpencaran.
Thrips melakukan serangan dengan menghisap cairan tanaman sehingga bisa mengakibatkan rusaknya sel-sel tanaman. Tanda-tanda daun yang diserang thrips adalah :
§  Daun timbul bercak-bercak putih mengkilap.
§  Kemudian bercak tadi berubah menjadi kecoklatan.
§  Lama-lama daun itu akan mati pelan-pelan.
Jika terjadi serangan berat, daun maupun pucuk tanaman serta tunas-tunas barunya akan :
§  Keriting.
§  Menggulung ke dalam.
§  Kadang pada daun timbul benjolan seperti tumor.
§  Seterusnya pertumbuhan tunas berhenti dan tanaman akan menjadi kerdil.
Untuk mengatasi serangan thrips yang belum parah, pemakaian insektisida yang bersifat kontak maupun sistemik sangat dianjurkan. Insektisida yang dapat digunakan antara lain :
§  Nurdin 24.
§  Tokuthion.
§  Hastation.
§  Sevin 5 dust.
§  Orthene 75 SP.
§  Curacron.
§  Decis.
§  Confodor.

2.    Aphids (Kutu Daun).
Serangan kutu daun biasanya terjadi pada awal musim kemarau, saat udara kering dan suhu udara tinggi. Bagian tanaman yang diserang kutu daun, biasanya bagian pucuk tanaman dan daun muda. Serangan Kutu Daun ini akan menggerombol pada satu daerah, sehingga ia mampu menutupi bagian tanaman. Daun yang diserang akan mengerut, pucuk daun mengeriting dan melingkar sehingga pertumbuhan tanaman terganggu, selain itu kutu ini mengeluarkan cairan manis seperti madu, yang menyebabkan datangnya semut untuk menyerbu cairan tersebut. Bersamaan itu pula akan datang jamur berwarna kehitaman (Cendawan Jelaga).
Pada serangan berat selain tanaman keriting juga tanaman tertutup lapisan hitam dari jamur jelaga, yang tentu saja mengganggu proses fotosintesis.
Jenis-jenis insektisida yang bisa kita gunakan untuk membasmi adalah :
§  Tukuthion 500 EC.
§  Anthion 33 EC.
§  Dekasulfan 350 EC.
§  Dibrom 8 EC.
§  Folithon 50 EC.
§  Hastathion 40 EC.
§  Tamaran 200 LC.
§  Decis.

3.    Tungau Merah.                                                                   
Tungau Merah bentuknya mirip laba-laba, tetapi ukurannya sangat kecil yakni kurang dari 1 mm. Tungau ini juga dapat menyebabkan kerusakan pada daun, pucuk tanaman, dan tunas muda. Bagian yang diserang akan tumbuh tidak normal, kemudian warna akan berubah dari warna biasanya, daun akan mengerupuk dan mengeriting. Tanda-tanda adanya tungau pada daun, adalah daun terlihat adanya titik merah, kuning atau keputihan yang kecil sekali. Titik merah, kuning, keputihan ini bergerak lamban di bawah lindungan sejenis benang halus sekali, inilah tungau tersebut. Tungau yang berwarna merah merupakan tungau dewasa, sedangkan yang kuning atau putih merupakan tungau muda dan telur tungau yang belum menetas.
Untuk mengendalikan tungau ini dapat digunakan insektisida sebagai berikut :
§  Tokuthion 500 EC.
§  Dekasulfan 350 EC.
§  Trithion 4 EC.
§  Omite 57 EC.
§  Curacron.
§  Decis
§  Confidor.

4.    Ulat.
a.   Ulat Peridroma saucia.
Ulat Peridroma saucia banyak menyerang tunas muda, daun dan buah cabai. Ulat ini menyerang pada musim kemarau. Untuk mengendalikannya dapat digunakan : Diazinon, Zevin, Lanate, Azodrin, Agrothion, atau Bayrusil.
b.   Heliothis sp
Ulat Heliothis sp sering memakan buah cabai. Untuk mengendalikannya dapat digunakan : Sevin, Baythroid 50 WSC, Cymbush 5 EC Azodrin, Agrothion, Bayrusil, atau Lanate.
c.   Spodoptera sp.
Ulat Spodoptera sp selain memakan buah cabai juga memakan daun, dan tunas muda. Untuk mengendalikannya dapat digunakan Ripcord 5 EC, Azodrin, Agrothion, Bayrusil, atau Lanate.

5.    Kumbang.
Hama ini tidak langsung menyerang tanaman cabai, tetapi larva kumbang ini tinggal di dalam tanah sehingga merusak akar tanaman cabai. Untuk mengendalikan hama ini dapat digunakan : Sevin, Diazinon, Curater. Adapun cara terbaik untuk mengendalikan kumbang ini adalah dengan pendangiran tanah sekitar tanaman, sehingga telur tidak dapat menetas.

6.    Lalat Buah.
Lalat buah menyerang semua buah cabai, baik buah muda maupun buah yang sudah tua. Buah yang terkena serangan, umumnya ditandai dengan warna kehitaman pada buah, lalu bagian yang diserang akan mengeras, kemudian membusuk dan gugur. Pengendalian hama ini cukup sulit apabila sudah menyerang. Untuk itu disarankan melakukan pencegahan dengan menggunakan perangkap lalat buah dengan menggunakan bahan Petrogenol ataupun Methil Eugenol. Pengendalian dengan insektisida dapat menggunakan santoat, pertection, Buzzer, Bioeron, Curacron, Metindo, Bomba, Lannate.

7.    Cacing.                                                                                                         

Untuk memberantas cacing ini dapat digunakan : Furadan, Curate,atau Temik.

Pengendalian Penyakit

1.    Antak.
Penyakit ini sering disebut penyakit kering buah, karena buah cabai yang kena serangan akan mengering seperti terbakar, disebabkan oleh sejenis jamur yang disebut Colletotrichum capsici, Gleoesporium piperatum, atau G. gloeosporiodes. Antrak ini tidak hanya menyerang bagian buah saja, tetapi juga menyerang bagian tanaman yang lain. Bagian yang diserang biasanya menunjukkan gejala bercak mirip “patek” sehingga banyak orang menyebutnya sebagai penyakit patek. Tanda-tanda serangan, dapat dilihat pada :
a.    Buah
Buah muda maupun buah tua bahkan buah masak yang diserang, akan menimbulkan bercak-bercak pada buah. Bercak ini kian hari kian melebar, pada akhirnya seluruh permukaan buah akan dipenuhi bercak tersebut, lama-lama buah akan mengerut, mengering, warna buah menjadi kehitaman dan membusuk. Jika diperhatikan, ternyata bagian tengah bercak itu terlihat semacam jamur berwarna jingga atau kemerahan.
b.    Daun dan batang
Serangan biasanya dimulai dari bagian pucuk tanaman. Serangan awal hanya timbul bercak-bercak kecil saja, lama-kelamaan akan melebar dan pada akhirnya meliputi seluruh bagian tanaman. Bagian tanaman yang diserang lebih awal akan mati lebih dulu, kemudian disusul oleh bagian yang lain.
Untuk mengendalikan penyakit ini dapat digunakan Antracol, Delsene, Orthoside, Polyram, atau Skor.

2.    Busuk Buah.
Penyebab penyakit Busuk Buah adalah sejenis jamur yaitu Ascochyta sp. Gejala umum hampir mirip dengan antrak, yaitu buah menjadi busuk secara perlahan kemudian gugur. Untuk mengendalikan digunakan : Ortociden, atau Shell Copper.

3.    Bercak Daun.
Penyakit Bercak Daun disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Tanda-tanda serangan biasanya daun cabai dipenuhi bercak-bercak pucat, yang mula-mula kecil dan akhirnya meluas perlahan. Pada pinggir bercak berwarna kecoklatan dan timbul sobek di tengah bercak. Jika sudah begini biasanya daun langsung gugur. Untuk mengendalikan dapat digunakan : Baycor, Velimek, atau Dithane.

4.    Busuk Daun.
Penyebabnya Busuk Daun adalah jamur Phytopthora capsici.  Penyakit ini menyebabkan daun menjadi busuk dan gugur. Serangan awal biasanya dilakukan pada pucuk tanaman, lalu merembet ke daun, selanjutnya daun akan menjadi layu dan membusuk kemudian gugur. Untuk mengendalikan dapat digunakan : Antracol, Cobox, Delsene, Difolatan, atau Orthocide.

5.    Gugur Daun.
Penyakit Gugur Daun disebabkan oleh jamur Oidium sp. Gejala serangan sulit dibedakan dengan penyakit daun lainnya. Serangan jamur ini dilakukan sejak daun masih muda, sehingga menyebabkan banyak daun gugur. Tanda-tanda yang mencolok adalah adanya seperti tepung yang memenuhi permukaan daun. Pengendalian dapat digunakan : Antracol, atau Benlate.

6.    Keriting Daun.
Penyakit Kriting Daun disebabkan oleh virus . Penyakit ini meyerang pada keadaan udara kering. Namun begitu, kriting daun tidak hanya disebabkan oleh serangan virus. Kalau kita perhatikan, keriting daun tanpa ditandai adanya sejenis serangga, maka bisa jadi keriting semacam ini disebabkan penyakit lain.
Sebagai contoh serangan penyakit Cendawan Fusarium sp,  tanda penyakit ini adalah keadaan tanaman tetap segar dan kelihatan sehat, tetapi tunas dan daun muda terlihat keriting dan mengkerut, warna daun pucat. Cendawan ini tidak langsung menyerang bagian daun tetapi menyerang dibagian leher akar. Penyakit ini akan menyerang jika keadaan lahan becek dan drainase tidak sempurna. Untuk mengendalikannya, harus diatasi kebecekan tanah kemudian memperbaiki drainase. Jika yang diserang hanya satu dua pohon maka pohon ini dicabut dan kita bakar sedangkan tanahnya kita bongkar. Jika serangan sudah merata maka usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menyiram fungisida disekitar tanaman.

7.    Layu Daun.                                                                                                             
Penyakit ini menyerang tanaman cabai dan keluarga Solanaceae yang lain. Penyebab penyakit ini adalah Fusarium maka orang sering menyebut layu Fusarium. Layu ini juga menyerang dari bagian akar tanaman.  Selain layu Fusarium ada lagi layu yang disebabkan oleh bakteri P. solanasearum. Tanda–tanda penyakit ini adalah :
§  Daun terlihat terkulai.
§  Seluruh bagian tanaman menadi layu.
§  Warna daun tidak lagi hijau segar, tatapi hijau pucat.
§  Buah tidak tumbuh sehat dan tidak segar.
Bakteri P. solanasearum sama gawatnya denga virus diatas, dan serangan yang menghebat, dapat mengakibatkan tempat tumbuhnya cabai ini tidak dapat ditanami beberapa musim, karena itu sebelum ditanami tanahnya harus diseterilisasi dulu. Tetapi jika serangan tidak menghebat serangan dapat dikendalikan dengan :
§  Polyram-combi
§  Polyram M
§  Cobox.

PANEN CABAI
Tanaman cabai jika dirawat dengan perawatan yang intensif, sudah dapat dipanen untuk pertama kalinya pada usia 70 – 75 hari setelah tanam. Untuk panen-panen berikutnya bisa dipanen 3 – 4 hari sekali, karena buah cabai ini tidak masak serempak. Tetapi ada juga yang memanen cabai ini setiap 7 hari sekali, ini tergantung bagaimana keadaan pasar.
Pada panen pertama, hasil rata-rata memang masih sedikit, antara 2-4 buah per-batang (25 kg – 50 kg per-hektar).  Puncak panen, rata-rata berkisar antara 10-20 per batang (600 kg – 800 kg per-hektar). Tetapi bisa saja terjadi lonjakan panen sampai 1.200 kg per-hektar. Patokan yang umum tanaman cabai  hanya bertahan 6-7 bulan saja.    



Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive