Masihkah Profesi Petani Menjanjikan Saat ini?

.
.
SEIRING berjalannya waktu, profesi petani kian lama kian dipandang sebelah mata. Profesi baru seperti direktur, dosen, pegawai, PNS, karyawan perusahaan, pengusaha, dokter dan lain-lain dipandang lebih mentereng dan keren dibandingkan petani. Padahal, jika petani tidak menanam padi dan tanaman pangan, orang bisa mati karena tidak ada yang bisa dimakan.

petani merah putih
Indonesia sebagai negara pertanian, agraris, dikenal subur, dianggap gagal mencetak petani-petani andal dan mewujudkan swasembada pangan. Hal tersebut tampak pada rutinitas dan ketergantungan pemerintah tiap tahun mengimpor bahan pangan untuk kebutuhan perut rakyat di dalam negeri.Beras, kacang kedelai, jagung, buah-buahan, bahkan daging sapi serba diimpor, padahal petani dalam negeri bisa memproduksi semua itu. Ada apa dan kenapa?
Profesi petani saat ini kalah sejahtera dibandingkan buruh pabrik. Gaji per bulan buruh pabrik bisa mencapai Rp 2 juta, sementara pendapatan rata-rata petani hanya mencapai Rp 1 juta (Kompas, 30/1/15). Hal tersebut karena petani padi, kacang kedelai, jagung dan ternak sapi membutuhkan waktu lama untuk mengelola, mengairi dan memanen hasilnya, selain juga karena lahan yang sempit. Menurut Badan Pusat Statistik, dari lima juta rumah tangga petani (RTP) di Indonesia hanya memiliki lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare.
Bisa dibayangkan hasil tani seperti padi, kacang dan jagung dari lahan seluas kurang dari 0,5 hektare. Jangankan untuk dijual, untuk kebutuhan rumah tangga saja mungkin tidak cukup setahun.
Itulah mengapa banyak orang banting setir tukar profesi dari petani menjadi buruh, karyawan karena lebih menjanjikan untuk mencukupi nafkah keluarga. Meskipun pemerintahan Jokowi-JK mencanangkan program swasembada pangan, seperti yang juga dicanangkan SBY, namun bila tidak menyentuh fundamental sampai kapan pun tidak akan terwujud.
Pemerintahan Jokowi-JK sudah mencanangkan sasaran kedaulatan pangan 2015-2019 dengan meningkatkan surplus beras, membangun 50 waduk di Indonesia, rehabilitasi jaringan irigasi tiga juta hektare dan lain-lain. Semua program akan sia-sia jika pemerintah masih membuka kuota impor pangan tanpa kebijakan pro petani dalam negeri.
Misalnya memberikan insentif kepada petani, memberikan subsidi pupuk, memberikan konpensasi bagi petani gagal panen, membeli harga produksi tani dengan harga layak dan melindungi petani dari regulasi yang kuat tanpa memasukkan pangan impor.
Bila petani dipercaya dan diperlakukan dengan layak, yakinlah petani tidak akan penah berniat mengubah lahan sawah, lahan jagung dan lahan kacang kedelai menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, lahan perkebunan karet, menjadi lahan pemukiman dan gedung perkantoran serta menyulapnya menjadi kawasanindustri.Di situlah tugas pemerintah memalui kementerian pertanian. Buat apa kementerian pertanian ada dan digaji bila kenyataan tiap tahun Indonesia impor pangan tanpa pernah mandiri swasembada pangan. Di negara-negara Eropa dan Amerika profesi petani sangat dihargai. Diberi insentif, konpensasi bila gagal panen dan di sana profesi petani dianggap profesi orang kaya.
Kementerian pertanian bisa memberikan pelatihan pertanian kepada para petani, menggalakkan koperasi tani untuk menangkal tengkulak yang membeli dengan harga semena-mena, pemerintah membeli langsung hasil tani dan menyimpannya sebagai cadangan logistic nasional serta benar-benar menerbitkan kebijakan pro petani dalam negeri, bukan hobi mengimpor pangan dari luar negeri.
Sumber : https://warasfarm.wordpress.com/2015/03/30/profesi-petani-ternyata-menjanjikan-loh/
Sponsored Links
loading...
Loading...
.