Panduan Lengkap Cara Menanam Bayam Di Pekarangan

.
.


Diantara berbagai macam jenis sayuran yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, bayam adalah salah satu diantaranya. Bayam yang memiliki nama ilmiah Amaranthus spp, berasal dari daerah Amerika tropis. Tanaman ini awalnya hanya dimanfaatkan sebagai tumbuhan hias. Namun dalam perkembangannya, tanaman bayam beralih fungsi menjadi bahan pangan yang kaya akan protein dan zat besi. Tanaman bayam diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar abad XIX di saat lalu lintas perdagangan internasional mulai berjalan dan banyak orang luar negeri yang datang ke wilayah Indonesia.

Saat ini total lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya bayam di Indonesia mencapai 31.981 hektar yang tersebar di beberapa wilayah, yakni di Jawa Timur 3.022 hektar, di Jawa Tengah 3.479 hektar, di Jawa Barat 4.273 hektar, sedang di propinsi lainnya sekitar 2.376 hektar. Produk bayam nasional saat ini mencapai 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal/ hektar.


Tanaman dari family Amaranthaceae ini meski memiliki sekitar 800 spesies bayam, namun seringkali hanya dibedakan atas 2 jenis, yakni bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar sendiri terdiri atas 2 macam, yakni bayam tanah (A. blitum L.) serta bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama dari bayam liar, warna batangnya merah dengan daun yang kaku (kasap).

Sedang untuk jenis bayam budidaya juga dibedakan atas 2 macam, yakni: Bayam cabut yang juga dikenal dengan bayam sekul atau bayam putih (A. tricolor L.), dengan ciri warna batangnya kemerah-merahan atau hijau keputih-putihan, dan bunganya keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang berbatang merah kerap disebut bayam merah, sedang yang berbatang putih sering disebut bayam putih.

Jenis bayam budidaya yang kedua adalah bayam tahun yang sering disebut bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.). Ciri-ciri dari bayam ini, daunnya lebar-lebar. Bayam skop ini memiliki 2 spesies, pertama hybridus caudatus L., yang mempunyai daun agak panjang berujung runcing, dengan warna hijau kemerah-merahan atau merah tua. Kedua, hibridus paniculatus L., dengan ciri memiliki dasar daun yang lebar sekali, warnanya hijau, serta rangkaian bunganya panjang tersusun teratur dan besar-besar yang tumbuh pada ketiak daun.

Untuk dapat mengetahui budidaya dan cara menanam bayam yang baik simak beberapa tahapan berikut ini:

1. Syarat Pertumbuhan

Tanaman bayam paling cocok jika ditanam di daerah dataran dengan curah hujan yang juga cukup tinggi hingga mencapai lebih dari 1.500 mm / tahun. Selain itu, tanaman bayam juga membutuhkan sinar matahari penuh, sehingga jika tempat tumbuhnya ternaungi, maka pertumbuhannya tidak akan dapat maksimal. Namun demikian, untuk tanaman bayam yang pertumbuhannya sudah cukup tinggi, angin kencang dapat menjadi musuh utamanya karena dapat merobohkan tanaman. Suhu yang ideal untuk tumbuh kembangnya tanaman ini berkisar antara 16o – 20o Celcius, dengan kelembaban udara antara 40 - 60%.

Tanaman bayam akan tumbuh dengan baik jika ditanam di tanah yang gembur dan subur, dan kandungan haranya terpenuhi. Bayam tergolong peka terhadap pH tanah. Jika pH tanah di atas 7 (alkalis), daun-daun muda (pucuk) akan memucat putih kekuning - kuningan (klorosis) dalam pertumbuhannya. Sebaliknya, jika pH di bawah 6 (asam), bayam tidak akan tumbuh sempurna akibat kekurangan beberapa unsur. Karena itu pH tanah yang ideal bagi tanaman bayam antara 6 - 7.

Bayam juga sangat membutuhkan air yang cukup dalam pertumbuhannya. Jika sampai kekurangan air, maka pertumbuhannya akan terganggu. Untuk itu, tanamlah bayam pada akhir musim kemarau atau di awal musim hujan.

[​IMG]

2.Pembibitan/Pembenihan

Benih tanaman bayam harus berasal dari induk yang sehat, memiliki kemurnian benih dengan daya berkecambah mencapai 80%, dengan tujuan agar dalam pertumbuhannya nanti memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit. Untuk lahan seluas 1 hektar, benih yang dibutuhkan berkisar antara 5 - 10 kg, atau 0,5 - 1,0 gram per m2 luas lahan.

Untuk proses pembibitan dilakukan beberapa proses, seperti :

a. Pilihlah tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya untuk lahan pembibitan, agar terbebas dari hama dan penyakit tanaman. Lahan pembibitan harus diberi atap, bisa dibuat dari plastik atau atap jerami padi. Benih bayam selanjutnya disebar secara merata atau disebar berbaris - baris pada lahan persemaian sebelum ditutup dengan selapis tanah tipis.

b. Lakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati selama pemeliharaan benih / bibit. Jika diperlukan, gunakan pupuk kandang untuk menjaga kesuburan tanah. Jika dalam pertumbuhannya ada bibit yang terserang hama/penyakit, semprotlah dengan pestisida dosis rendah.

c. Ketika bibit berumur 7 - 14 hari, pindahkan bibit-bibit tersebut ke dalam pot-pot yang terbuat dari kantong plastik atau daun pisang yang sebelumnya diisi dengan media tanam berupa campuran tanah dan pupuk organik halus (1:1). Siram dengan teratur bibit dalam pot setelah berumur 7 - 14 hari, hingga siap untuk dipindahkan ke lahan tanam.

3. Pengolahan Media Tanam

Pembuatan media tanam dilakukan dengan mencangkul/membajak tanah sedalam 30 - 40 cm. Seluruh sisa tanaman serta gulma disingkirkan, dan tanah diratakan. Biarkan lahan tersebut selama beberapa hari agar tanah benar-benar matang.

Proses selanjutnya dari Pengolahan Media tanam adalah :

a. Membuat bedengan dengan lebar antara 120 - 160 cm, tergantung populasi tanaman yang nantinya akan ditanam. Buat juga parit antar bedengan selebar 20 - 30 cm, dengan kedalaman 30 cm untuk drainase. Di atas bedengan itulah lubang - lubang tanam dibuat dengan jarak antar barisan 60-80 cm, dan jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.

b. Jika pH tanah terlalu rendah, lakukanlah pengapuran dengan menggunakan kapur pertanian seperti Calcit maupun Dolomit. Untuk tipe tanah pasir dan pasir berlempung, diperlukan ± 988 kg kapur pertanian / ha.Sedang kebutuhan kapur pertanian untuk tanah lempung berpasir dan liat berlempung sekitar 1.730 - 4.493 kg / hektar.

Sebaliknya, jika ingin menurunkan pH tanah, gunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum sebanyak 6 ton / hektar. Pemberian tepung belerang dilakukan dengan cara menyebarkannya secara merata dan dicampur tanah sekitar sebulan sebelum tanam.

c. Sekitar 1 – 2 minggu sebelum tanam, berikan pupuk kandang yang telah masak dengan cara menyebarkannya secara merata di atas bedengan, lalu diaduk dengan tanah lapisan atas. Pemupukan diberikan per lubanng tanam dengan cara memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam. Untuk setiap lubang tanam dibutuhkan sekitar 1-2 kg pupuk kandang, sehingga untuk setiap hektar diperlukan pupuk kandang sekitar 10 ton.

Agar hasil produksi memiliki kualitas yang baik maka, saat penanaman sebaiknya diberi mulsa atau dipasang palstik perak-hitam. Penggunaan plastik ini bertujuan untuk mengurangi serangan hama dan penyakit, termasuk juga gangguan gulma.

[​IMG]

4. Teknik Penanaman

Tanaman bayam dapat langsung di tanam di lahan tanpa melalui proses penyemaian. Namun hasil yang diperoleh akan lebih baik jika melalui proses penyemaian karena benih yang ditanam terlebih dahulu diseleksi kualitasnya. Untuk penanaman yang tanpa penyemaian, biji bayam yang disebarkan langsung di atas bedengan, terlebih dahulu dicampur abu. Penyebarannya dilakukan menurut barisan dengan arah membujur. Benih yang telah disebar selanjutnya ditutup tanah halus dan disiram sampai basah. Waktu terbaik untuk melakukan penanaman adalah awal musim hujan.

Jarak tanam berkisar antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm, atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah serta varietas bayam. Untuk setiap 1 hektar lahan, populasi tanaman berkisar antara 30.000 - 60.000 tanaman.

5. Pemeliharaan Tanaman

Untuk budidaya bayam yang penanamannya dilakukan dengan langsung menyebar benih, pertumbuhannya seringkali tidak merata, diantaranya ada yang tumbuh mengelompok sehingga menghambat pertumbuhan. Karena itu, harus dilakukan penjarangan yang juga sekaligus panen pertama. Untuk tanaman bayam yang dihasilkan dari persemaian, adakalanya beberapa diantara tanaman yang ada mati atau terserang penyakit, sehingga harus dilakukan penyulaman dengan mengganti tanaman tersebut dengan tanaman yang baru.

a. Lakukan penyiangan jika muncul gulma tanaman utamanya Gelang (Portulaca oleracea), karena gulma gelang bisa menurunkan produksi bayam sampai dengan 30 - 65%. Ketika melakukan penyiangan, lakukan pula penggemburan tanah secara bersamaan, dengan menggunakan cangkul kecil atau sabit.

b. Karena bayam memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap air, maka penyiraman harus mendapat perhatian. Pada awal pertumbuhan lakukanlah penyiraman secara intensif sebanyak 1 -2 kali sehari, utamanya di musim kemarau. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari, dengan memakai alat bantu gembor agar air yang disiramankan dapat merata.

c. Jika tanaman terserang hama, seperti ulat grayak, tungau dan kutu daun, semprotkan pestisida yang mengandung margosin dan glikosdida flafonoid. Sedang untuk mengendalikan penyakit, bisa digunakan obat-obatan yang mengandung unsur bunga Camomil (Chamaemelum spp). Cara penggunaannya, campurkan pestisida dan obat-obatan sebanyak 60 cc untuk setiap 1 liter air, lalu semprotkan ke tanaman yang terserang hama pada daun dan batangnya dengan rasio 1 minggu 1 kali.

6. Panen dan Pasca Panen

Tanaman bayam siap untuk dipanen pada umur 25 - 35 hari setelah tanam. Ketika itu, tinggi tanaman antara 15 - 20 cm dan masih belum berbunga. Saat panen yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, yakni di saat suhu udara tidak terlalu tinggi. Setelah panen pertama, dilanjutkan dengan panen berikutnya setiap 3-5 hari sekali. Jika umur tanaman sudah sampai 35 hari, maka seluruh tanaman bayam harus dipanen secara keseluruhan, sebab jika melampaui umur tersebut, kualitas bayam akan menurun karena daun-daunnya menjadi kasar. Untuk setiap hektar lahan, hasil panen bayam bisa mencapai 22.630 kg.

Bayam yang telah dipanen, harus diletakkan di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung, agar daunnya tidak layu. Setelah itu dilakukan penyortiran untuk memisahkan bayam yang busuk atau rusak dengan bayam yang baik dan segar. Penggolongan terhadap bayam juga dilakukan berdasarkan besar kecilnya daun. Selesai penyortiran atau bersamaan dengan penyortiran, bayam diikat sesuai dengan kebutuhan pemasaran.

Bayam yang tidak langsung dipasarkan dapat disimpan selama 12 jam pada tempat terbuka, dan proses penyimpanan dapat diperpanjang hingga 12 - 14 hari pada suhu dingin mendekati 0o Celcius.


Sumber : http://www.kebunpedia.com/threads/cara-menanam-bayam-yang-baik-dan-benar.5081/
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive