Jerit Tangis Petani, Tengkulak Bersorak - Begini Nasib Petani Kita Tetap Miskin

.
.
Cerita tentang Tengkulak dalam media adalah hal yang biasa, sebagai satu bagiam usaha mata pencaharian, membuat harga barang sesuka hatinya, naluri tak lagi ada, berfikir biaya dan beban para petani, cerita ini semakin mengiris hati dalam sebuah perjalan bersama orang asing itu.
Ditengah perjalanan untuk menjumpai sosok yang akrab denganku, beragam cerita menemani perjalanan kami, diawali dengan beberapa pertanyaan yang mereka lihat yang memang sudah menjadi lintasan perjalananku, pujian terhadap keindahan alam dan kejernihan air yang sempat mereka cicipi, membuat aku kembali bangga terhadap tanah kelahiran ku.
Perjalanan berlalu hingga mengantar niat mereka untuk membeli gula aren, Ku bilang “harganya hanya 25 ribu”, orang asing ini heran sambil berkata “kok di Hotel 40 ribu”. keheranan inilah yang membuat aku terus berfikir lalu bertanya kembali apa yang salah,lewat diskusi singkat aku simbulkan.
Dia heran barang yang di prodoksi dengan susah payah, kenapa hanya di hargai semurah itu, sementara di tempat lain dengan barang yang sama barang itu bisa mahal naik dua kali lipat dari harga prodoksi, dia heran dengan sistim harga barang di negara kami, pantasan saja kemiskinan terus meningkat walao pendapatan negara ini di hitung meningkat.
Ini hanya sebuah fenomena kecil yang kulihat, lebih meyakinkan diri ku kalao negara apa lagi pemerintah di daerahku tidak mampu menjamin keadilan sosial secara merata dan adil. Pembangunan hanya sebuah proyek untuk segelintir golongan, sementara petani hanya sebuah alat untuk mengorek kas negara.
Jika petani adalah hajat hidup rakyat daerah ini, kenapa harga barang tidak bisa di atur dan di pastikan kalao petanilah yang paling layak dapat keuntungan lebih besar dibanding tengkulak. andai saja pemerintah dengan kekuatan yang ada mau memastikan harga di setiap tingkatan, pemerintah harus kalkulasikan harga setiap hasil bumi setiap hari sesuai kondisi pasar dari ibu kota blangkejeren hinga ke polosok desa sebagai sentral prodoksi pertanian, pemerintah harus pastikan setiap warganya, para petani mengetahui harga barang mereka, supaya petani tak lagi di bodohi oleh tengkulak.
Mustahil ini hanya mimpi ku sebagai seorang anak petani, harga BBM yang kini sudah di atur, tetapi hanya untuk di langar dan di biarkan, BBM yang kini jadi kebutuhan mutlak bisa di permainkan, harga yang berbeda di setiap eceren tetap ada, binsin di jual bebas terus di biarkan, apa lagi untuk jaminan hasil tani kedua orang tua ku.
Para eletnya terus setudy banding agar petanj negeri ini bisa makmur, namun tujuan tamasa menjadi yang utama, seorang elet politik pergi kenegara inggris study banding tentang pertanian lalu bercerita kepada seorang kolongmerat di Gayo Lues yang bertani menjadi kesenangannya, “di Inggris petaninya seperti kamu paling bodoh, setiap petani mampu merekayasa genetika dan pengolahan pupuk, kalao di gayo lues petaninya bodoh mana mungkin bisa kita samakan”. seperti itulah cerita yang di bawa mengatakan bodoh, lalu membodohi petani dengan beragam bantuan, bibit coklat, karet dan lain sebagainya, membuat kelompok tani sembarangan dan asal-asalan, hingga sasaran bantuan hanya sebuah pormalintas sayrat admisterasi RAPBK jadi ABPK negeri ini.
Ini hanya mimpi sebagai anak petani, Adakah kelompok tani yang betul di bina terakomodir segala kebutuhan sesuai sepesipikasi petani tersebut, aku petani coklat maka berikanlah aku bibit coklat, semua kebutuhan agar coklat ku bisa tumbuh dan meningkat prodoksi, kenapa aku di berikan bibit karet lengkap dengan beberapa biaya perawatan, mungkin hanya aku yang kamu kenal sehingga hanya aku yang bisa menyentuhmu elet yang ada di pemerintahan.
Sebuah rahasia umum hanya kelompok dan golongan tertentu bisa menyentuh pemerintah di negeri ini, walaopum aspirasi yang benar datang harus melewati tinkatan “tengkulak” yang hanya ingin uang tampa berusaha susah payah bekerja keras membating tulang.
Rasa kagum ku kepada negeri kelahiran ini tak pernah surut apalagi saat orang asing itu mengucapkan perpisahan “saya kira saya akan kemari karna negeri mu ini begitu cantik dan indah, pasti saya tunggu kehadiran anda”, tapi tetap membuat aku heran kepada semua elet politik dan pemerintah negeri ku ini mengurus dengan cara asal-asalan, negeri ini memelihara tengkulak, alat negeri menjadi tengkulak, intansi pemerintah menjadi tengkulak.
Apakah kalian para tengkulak tidak mempunyai hati, sehingga rasa berbagi apalagi memberikan hak atau bantuan pada kaum petani yang melarat adalah sebuah keharusan, hak petani mengetahui harga pasar secara pasti, hak petani mengetahui cara mengunakan pupuk dengan baik, bantuan untuk petani ilmu cara merekayasa genetik untuk mereka coba.
Pembuatan lahan produksi sere wanggi di buka secara luas, lalu siapa yang menjadi pemiliknya, hanya kaum elet dan pejabat, mereka adalah penguasa lahan itu, mereka punya modal, mereka punya kekuatan akses untuk menguasai seluruh bantuan dari pemerintah, sementara kamu petani desa hanya mendapat sedikit perhatian pelengkap admistrasi penyelengara negeri ini. 
Sumber : Baranewsaceh.co 
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive