Cara Budidaya Jambu Biji Kristal Agar Berbuah Lebat

.
.

Jambu biji varietas kristal merupakan mutasi dari residu Muangthai Pak, diketemukan pada tahun 1991 distric Kao Shiung. Diperkenal di Indonesia oleh Misi teknik Taiwan pada tahun 2001, di lokasi proyek Mojokerto dilakukan percontohan budidaya jambu ini. Jambu biji varietas kristal mempunyai biji yang sangat sedikit (seed less), presentase berbuah lebih tinggi dibandingkan buah tanpa biji lainnya.
Bentuk buahnya bulat agak gepeng, pada permukaan buah ada tonjolan yang tidak merata, daging buah renyah. Dimusim panas mutu buah lebih bagus, tetapi mudah terserang penyakit sehingga perawatan lebih mahal, hasil produksinya juga tidak sebaik varietas berbiji.
IKLIM DAN TANAH
Jambu biji bisa berbuah sepanjang tahun, tumbuh diketinggian diatas 1000 meter dari permukaan laut (mdpl). Pada suhu dibawah 15 derajat celcius pertumbuhannya jadi lambat, daun bisa terluka menjadi merah gelap.
Curah hujan yang paling cocok adalah 1000-3000 mm/th, pada daerah dengan curah hujan kurang atau tidak merata memerlukan pengairan. pH yang paling cocok berkisar 5.5 - 6.5, jika dibawah 4.0 pertumbuhannya tidak bagus. Tanah yang paling idela adalah tanah yang lapisan atasnya tebal dan dalam, pembuangan air (run off) lanar dan kaya bahan organik.
PEMBIBITAN
Perbanyak dapat dilakukan dengan biji, stek, okulasi, maupun persilangan. Langsung tanam biji umum digunakan untuk pembibitan dan stek, okulasi jarang digunakan. Perbanyak vegetasi yang paling umum adalah dengan stek, metode okulasi pucuk, metode tempel (persusuan) dan lain lain. Persusuan tanah selain lebih cepet juga prosentase keberhasilannya lebih tinggi serta biaya lebih murah.
(1) Metode Langsung Tanam dengan Biji
Pilih buah yang masak, ambil bijinya dan cuci bersih, treatment dengan fungisida, lalu taburkan biji ke seeding bed dengan media tanah: kompos organik (1:1), tutup dengan tanah halus kurang lebih 1 cm, kira kira 2-3 minggu akan bersemi sampai tinggi 5 cm, pindahkan ke polybag sementara, jika sudah tumbuh kira kira 30 cm, tanam di lahan.
(2) Metode Tempel
Umumnya digunakan metode tempel dengan tanah, pertama tama pangkas cabang utama, buang semua daun tua, tekan batang pohon mendekati tanah sehingga bisa tumbuh cabang baru, setalah cabang baru tumbuh kira-kira 30 cmm, ambil batang bawah (bibit jambu berdiameter 1 cm yang ditanam di polybag) buang bagian atas, panjang kira-kira 20-30 cm, lalu tempelkan setelah 40-60 hari akan menyatu dengan sempurna, potong menjadi bibit pohon yang mandiri.
BUDIDAYA
(1) Pemilihan dan Pengolahan Lahan
Jambu biji mudah beradaptasi, namun untuk pertimbangan ekonomis, pilih lokasi dengan sinar matahari dan pengairan yang cukup, penghatusan (run off) lancar, tanah rata serta kaya akan bahan organik. Untuk menghindari pembuangan air tidak baik bisa dibuat got disamping tanaman atu membuat bedengan untuk meningkatkan tanah supaya tanaman tidak tergenang air.
Untuk memperbaiki pembuangan air dan sirkulasi udara pada tanah dapat digunakan traktor untuk menghancurkan lempengan tanah yang keras dan membalik tanah. Selain itu dapat digunakan ampas tebu untuk menambah unsur organik tanah. Untuk menetralkan pH tanah dapat digunakan kapur pertanian. Pada tanah ber pH 4,0 dibutukan kapur pertanian 2500kg/ha, tanah berpH 5,0 dibutuhkan 1500 kg/ha, tanah berpH 5,5 dibutuhkan 1000 kg/ha, tanah terus dinetralkan selama 2 tahun., Jika tanah berapsir, kapur agak dikkurangi jika tanah liat kapur ditambah.
(2) Penanaman
Jarak tanam antara baris sebaiknya agak lebar, kira-kira 3,5 m - 4 m, jarak tanam antar pohon 2,7 m - 3,6 m.
Pilih bibit dari varietas murni akar tumbuh sempurna, tidak berpenyakit. Didaearh yang sering tergenang air jangan ditanam dimusim hujan. Dasar lubang tanam diberi pupuk organik dan dicampur dengan pupuk kimia.
Setelah bibit ditanam permanen, diikat dengan penyangga untuk menghindari angin kencang yang bisa membuat penyambungan dan akar terluka. Pada pohon yang masih terlalu muda jika berbunga harus segera dihilangkan, karena jika sampai berbuah akan mempengaruhi perumbuhan pohon. Buang tunas air yang tumbuh pada batang bawah.
(3) Pemeliharaan dengan tanaman Penutup Tanah (Cover Crop)
Sebagai tanaman penutup tanah pilih tanaman yang pendek, tumbuh lambat atau tanaman menjalar yang tahan injak. Jambu biji berakar dangkal, pada tahun pertama tidak boleh dimulsa total. Untuk meminimalkan gangguan pada pertumbuan, disekitar pohon harus dibersihkan.
(4) Pemangkasan
Pemangkasan dimaksudkan supaya batang dan daun tumbuh merata, tidak saling bertumpukan, supaya semua daun bisa beasimilasi, usahakan tinggi pohon maksimal 2 m supaya mempermudah membungkus buah.
Jambu biji barietas kristal dapat berbuah dalam 1 tahun tetapi untuk menjaga pertumbuhan, pada tahun pertama pohon tidak boleh berbuah.
Pilih 3-4 cabang yang baik untuk dijadikan batang utama. Di kemudian hari jika perlu gunakan bambu dan tali untuk menarik cabang ke arah bagian yang lain sehingga tumbuh merata. Pada batang yang akan dijadikan batang utama, sebelum terbentuk dengan baik, dijaga agar jangan sampai berbuah supay bentuknya tidak bengkok. Cabang dari batang utama tersebut tingginya 40-50 cm, semua cabang harus terpisah.
Pada lokasi yang mudah tergenang air, percabangan ditinggikan, jika batang terlalu rendah dan buah tersentuh tanah, mudah terserang penyakit. Jika batang utama terbentuk, pangkaslah supaya bisa tumbuh cabang sekunder(sub cabang), pangkas cabang yang terlalu panjang, terlalu padat, terlalu kering, bepenyakit, dekat tanah, supaya dasar dari pohon terbentuk bagus, sehingga mudah dalam perawatan.
(5) Pemupukan
1,5 bulan sebelum pemangkasan, utamakan pemupukan Fosfat, Kalsium, Magesium dengan sedikit Nitrogen dan Kalium. Waktu berbunga dan permulaan buah, permukaan daun diberi boron, setelah buah agak besar beri pupuk susulan Nitrogen dan Kalium. Tetapi Nitrogen jangan terlalu banyak supaya buah tidak terlalu asam, membusuk dan berubah warna. Karena Jambu biji berakar dangkal maka kekurangan air bisa menyebabkan pertumbuhan lambat, buah kecil, mutu jelek. Pada musim kemarau harus diperhatikan metode pemupukan sering tapi sedikit, dapat digunakan cara pengairan sekaligus pemupukan.
(6) Buah dan Pembungkusan
Buah yang tumbuh di pohon, akan tergantung pada kondisi pohon tersebut. Buah yang terlalu banyak, akan tumbuh kecil, kulit mengkilat, dan mutu jelak. Prinsipnya setiap cabang hanya ada 1-2 buah saja, pada cabang yang kurus atau pendek tidak boleh ada buahnya. Buang buah yang kecil, menghadap ke atas, berbentuk tidak bagus, terluka atau terkena penyakit, dan cabang yang terlalu banyak buahnya. Pembungkusan dilakukan pada buah kecil yang , sudah tidak rontok (kira-kira diameter 2,5 cm - 3 cm), jika buah terlalu kecil maka sesudah dibungkus akan mudah rontok, jika bauh terlalu besar akan udah terserang hama ulat, kecuali dibungkus dengan kantong kertas khusus (spon net) pembungkus buah, lapisi pula dengan plastik yng ujungnya diberi lubang untuk pengatusan.
Ada 2 cara pembungkusan: (1) Ikat kantong plastik di cabang dimana buah berada, cara ini lebih cepat dan lebih mudah buah tidak mudah jauth karena angin kenang (2) Ikat kantong plastik ditangkai daun, cara ini kerjanya agak lambat, tetapi lebih mudah untuk pemetikan buah, mulut kantong plastik harus diikat rapat supaya ulat tidak bisa masuk. Jika sulit mendapatkan kantong plastik khusu, bisa menggunakan kertas, tetapi ada kelemahannya yaitu susah menentukan kemasakan buah dan ulat juga lebih mudah masuk.
PANEN
Panen sebaiknya dilakukan di pagi hari, hindari panen sore hari. Pada pagi hari dapat melihat dengan jelas warna buah. Kalau matahari terlalu panas, bisa mempengaruhi penilaian warna buah. Buah yang dipetik jangan sampai terabentur, terluka, tertindih atau langsung kena matahari.


SUMBER: Lin Chi Ping, ADC LPPM IPB CIKARAWANG
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive