Urban Farming: Sistem Optimalisasi Lahan Minimalis Menjadi Lahan Produktif di Daerah Perkotaan

.
.



Urban Farming: Sistem Optimalisasi Lahan Minimalis Menjadi Lahan Produktif di Daerah Perkotaan

roof-1
Sumber ilustrasi www.treehugger.com
Perkembangan perkotaan membawa pada konsekuensi negatif pada beberapa aspek, termasuk aspek lingkungan. Pada tahap awal perkembangan kota, sebagian besar lahan merupakan ruang terbuka hijau. Namun, adanya kebutuhan ruang untuk menampung penduduk dan aktivitasnya, ruang hijau tersebut cenderung mengalami konversi guna lahan menjadi kawasan terbangun. Hal ini menyebabkan semakin sedikit Ruang Terbuka Hijau (RTH). Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35%  pada awal tahun 1970-an menjadi kurang dari 10% pada saat ini.
Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi. Pada prakteknya selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam, perkotaan juga menyita lahan terbuka akibatnya kualitas lingkungan perkotaan menurun dan ketersediaan lahan hijau semakin minim.
Sources : Fao.org
Strategi pemanfaatan ruang sempit ditengah kota, sebagai kawasan berkebun yang asri dan nyaman perlu dilakukan secara kreatif, sehingga konversi lahan tersebut dapat berjalan efektif. Pengolahan pemanfaatan lahan minimalis menjadi lahan produktif dapat mendukung terealisasinya pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
International  Labour  Organization  (ILO)  mengemukakan   bahwa  tujuan pembangunan  berkelanjutan  adalah  membuat  semua  anggota  masyarakat mendapatkan semua elemen-elemen kunci bagi kehidupan, seperti: pangan yang  memadai,  sandang,  pemukiman,  perawatan  kesehatan,  pendidikan  dan  lapangan  kerja.  Konsep  pembangunan  berkelanjutan  adalah  upaya  mengkombinasikan kebutuhan mendesak dengan pentingnya melindungi lingkungan.
Urban Farming
Urban farming (pertanian perkotaan) merupakan sebuah upaya pemanfaatan ruang minimals yang terdapat di perkotaan untuk dimanfaatkan agar dapat menghasilkan produksi. Produksi ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, kenyamanan hidup ditengah polusi udara perkotaan dan menghadirkan nuansa estetika di rumah kota. Urban farming tidak hanya melibatkan pemikiran orang-orang yang telah lama terlibat dalam dunia pertanian, akan tetapi juga melibatkan peternakan, perikanan bahkan kehutanan. Semua dibangun dalam sebuah tatanan holistisitas kehidupan bermasyarakat. Urban farming memberikan kontribusi untuk keamanan pangan dalam dua cara: pertama, meningkatkan jumlah makanan yang tersedia bagi orang yang tinggal di kota, dan kedua,memungkinkan sayuran segar dan buah-buahan tersedia untuk konsumen perkotaan.


Sources : The Hort. org

Urban farming dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan mental karyawan yang bekerja di dalam ruangan, selain itu, keberadaan urban farmingdapat menjadi sarana untuk menjalin interaksi sosial yang melibatkan masyarakat luas dengan menampilkan manfaat dan teknologi pertanian perkotaan.
Skema gagasan Pelaksanaan urban farming merupakan hal yang sangat mudah untuk dilakukan, mulai dari optimalisasi lahan hingga pemanfaatan limbah rumah tangga untuk digunakan kembali (recycle) selai itu perlu dukungan dari masyarakat untuk mendesain pertanian yang ada dilingkungan rumah. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendesain urban farming di lingkungan adalah : pertama,vertikultur adalah pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan. Kedua, Aquaponik adalah kombinasi menarik antara Akuakultur dan Hidroponik yang mampu mendaur ulang nutrisi, dengan menggunakan sebagian kecil air daur ulang hingga memungkinnya pertumbuhan ikan dan tanaman secara terpadu. Ketiga, hidroponik adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu sebagai pengganti media tanah.
Inovasi dan kreatifitas masyarakat diperlukan dalam mendukung terlaksanya urban farming. Metode ini tepat guna untuk merekonstruksi lahan minimalis menjadi lahan produktif yang berkelanjutan. 

Sumber : Beranda Inovasi
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive