Waspada Kutu Kebul, Gunakan Kedelai Varietas Toleran

.
.

Waspada Kutu Kebul, Gunakan Kedelai Varietas Toleran

I




























Peningkatan suhu di bumi karena perubahan iklim global, mendorong berkembangnya populasi hama kutu kebul Bemisia tabaci (Gennadius). Apabila inokulum virus ada di lingkungan pertanaman kedelai, maka harus waspada terhadap ancaman serangan kutu kebul yang menyebarkan virus pada tanaman kedelai.
Bila terserang kutu kebul, daun tanaman kedelai akan menjadi keriting dan apabila serangan parah disertai dengan infeksi virus, daun keriting berwarna hitam dan pertumbuhan tanaman terhambat. Kutu kebul selain merusak tanaman secara langsung, juga sebagai serangga vektor virus yang dapat menularkan penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) pada kedelai dan kacang-kacangan lain.
Di Jawa Timur terdapat enam strain virus yang menyerang tanaman kedelai yaitu CPMMV, BICMV, BYMV, SSV, PStV dan SMV, dimana semua virus tersebut ditransmisikan melalui vektor serangga seperti Bemisia tabaci. Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen).
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memiliki enam varietas unggul kedelai yakni Anjasmoro, Argomulyo, Wilis, Kaba, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo yang mempunyai tingkat ketahanan yang berbeda terhadap serangan hama kutu kebul.
Anjasmoro sangat peka terhadap serangan hama kutu kebul dan diikuti oleh varietas Argomulyo, kedua varietas tersebut mempunyai karakter biji besar daun oval. Varietas Wilis, Kaba, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo termasuk varietas yang toleran terhadap serangan hama kutu kebul, mempunyai karakter biji sedang dan kecil.
Intensitas serangan kutu kebul terhadap tanaman kedelai tergantung pada musim, populasi kutu kebul, dan sumber inokulum penyakit virus yang dibawa kutu kebul.
Pada kondisi peningkatan suhu di bumi, harus diwaspadai adanya serangan kutu kebul dan hindari penggunaan varietas Anjasmoro. Varietas Anjasmoro disarankan ditanam pada akhir musim hujan di lahan kering.
Penanaman di lahan sawah, pada musim MK I sedangkan pada MK II ditanam seawal mungkin sehingga pada saat kondisi iklim yang panas, tanaman sudah masuk fase generatif. Penanaman kedelai pada MK II harus dipastikan lingkungan bersih dari tanaman yang terinfeksi virus.
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Blog Archive