Vertikultur Konsep Pertanian Lahan Sempit Untuk Perkotaan

.
.
Vertikultur, salah satu sistem budidaya tanaman yang berkonsep hemat lahan. Berbagai macam sayuran dan buah, bahkan padi pun dapat dikembangkan dengan metode ini.
Menyiasati kurangnya lahan pertanian di Jatim, lebih tepatnya di Tegal Bero Camp, Kelurahan Wirogunan, Pasuruan, mulai dikembangkan vertikultur. ”Kawasan di sini  ingin saya jadikan kawasan produktif dan hidup. Kebetulan ada ide vertikultur untuk kita kembangkan,” papar Ir. H. Suhadi, MM, pemilik Tegal Bero Camp.
Menurut Hadi, sapaan akrabnya, banyak yang sudah mencoba vertikultur. “Ini dapat dilakukan siapa saja. Tidak harus sarjana pertanian, siapa yang mau dan minat karena konsepnya bagaimana menghemat sebuah lahan, di perkotaan, di atap rumah silahkan, di ubin tidak ada masalah,” ucapnya memberi semangat.
Mudah Aplikasinya
Kelebihan dari sistem vertikultur ini, jelas Hadi, sangat banyak, seperti hemat lahan, tidak butuh biaya mahal, produktivitas lebih tinggi, rasa sayuran lebih manis, bawang merah memang kecil tapi rasa lebih pedas, dan mempercepat terwujudkan swasembada pangan. ”Satu rumah tangga cukup memiliki tiga paralon untuk beras, tiga paralon untuk sayur-mayur, tiga paralon untuk buah,” katanya.
Sedangkan kelemahannya, si petani harus tepat nutrisi. Jika tidak, akan mengganggu pertumbuhan dan produktivitas sehingga tanaman tidak semaksimal yang ditanam di tanah karena lahannya yang terbatas. Pola vertikultur ini pun hanya bagus untuk sayuran dan bawang merah, sedangkan  buah-buahan kurang besar ukurannya.
Media tanam pada tahap awal secara umum hanya menggunakan sekam, arang sekam, belerang, abu batu (abu pengilangan batu) untuk menjaga kepadatan, pupuk kandang sapi dan kambing. Tanah sebisa mungkin yang gembur. Komposisinya, sekam dan arang sekam sekitar 50%, abu batu 2,5%—5%, belerang 2,5%, pupuk kandang 10%, tanah gembur 10%, dan sisanya serbuk kayu.
Semua media dicampur dan diurai dengan bakteri pengurai seperti EM4 atau Lactobacillus. Kemudian direndam dalam air selama 7—21 hari, lalu media diangkat, diangin-anginkan, dan dimasukkan ke dalam paralon. Air rendaman dijadikan pupuk organik. Pupuk organik bisa dari bungkil pisang, rebung, empon-empon, dan bekicot. “Untuk praktisnya bisa pakai NPK jadi semi organik,” saran Hadi.
Setelah dua musim tanam, media perlu dibongkar dan direndam kembali dalam air yang mengandung bakteri pengurai. Intinya, media yang digunakan harus sarang (porous) agar tidak terjadi pemadatan karena sistemnya terbebani. “Kalau (media) tidak porous, dia akan terus turun, di bawah akan berat. Lalu media harus punya bakteri hidup untuk memaksimalkan makanan dalam media. Untuk itu posisi tanah di dalam paralon tidak boleh kering biar bakterinya tidak mati,” imbuhnya lagi. Karena itulah irigasi merupakan bagian tersulit tapi paling vital dalam pembuatan vertikultur.
Hadi memanfaatkan bahan yang ada dalam bervertikultur supaya biayanya tidak mahal, seperti bambu dan kaleng bekas cat. Masing-masing bahan mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Paralon yang digunakan berdiameter 4 inci, terbuat dari plastik, mudah dilubangi, dan tahan lama, bisa digunakan hingga tiga tahun. Sedangkan bambu dipilih jenis bambu petung.
Kalau pun memilih bekas kaleng cat, biasanya yang berukuran 5 kg. Dulu harganya masih sekitar Rp2.000 per buah. Plastik polibag juga bisa dimanfaatkan, tetapi harus ditambahi kawat sebagai penarik agar tegak berdiri. Bahan plastik ini berumur pendek, hanya 3—4 kali tanam, tapi harganya lebih murah.
Biaya Variatif, Hasil Kompetitif
Hadi memberikan tips langkah-langkah memulai vertikultur. Pertama, disiapkanscreenhouse.  Atapnya ditutup plastik UV dan bagian samping dilindungi screen dengan ukuran lubang paling kecil untuk mencegah gangguan hama. Buat lubang untuk menancapkan paralon. Dalam mengatur letak paralon, diterapkan konsep cermin segi delapan yang bertujuan memaksimalkan pencahayaan matahari bagi tanaman.
Paralon dibagi dua bagian menjadi setinggi 2 m dan dilubangi sebanyak 120 lubang. Untuk bawang merah, bagian bawahnya ditusuk kayu sedikit ditempelkan dengan kayunya, jadi sebenarnya dia ditahan kayu dulu sebelum akar keluar. Ketika akar keluar, tanaman bawang sudah kuat. Sedangkan sayuran disemaikan dulu sebelum dipindahkan ke paralon.
Sistem irigasinya irigasi tetes. “Setiap paralon ada lubang dan ada dua selang di dalamnya untuk diisi. Biarkan 15 menit hingga media basah semua, kemudian selang ditutup. Jika belum sempurna, semprot dengan sprayer dengan lembut agar tidak merusak media,” tutur Hadi. Penyiraman ini dilakukan setiap pagi dan sore.
Penggunaan pupuk lengkap NPK wajib diaplikasikan bagi tanaman bawang merah. Pada umur 1—30 hari, pilih yang kandungan N-nya tinggi. Menginjak umur 30 sampai panen, digunakan kandungan PK-nya yang tinggi.
Berdasar pengalaman Hadi, bawang merah sangat sulit dibudidayakan secara murni organik karena pertumbuhan generatifnya akan terganggu jika kekurangan nutrisi P dan K. “Kalau tanaman kurang tegak, maka bisa diberi garam satu sendok dicampur air dalam satu tangki ukuran 14 L dan disemprotkan perlahan ke tanaman,” kata pria yang pernah berkarir di perbankan tersebut.
Sistem vertikultur ini cukup menjanjikan. Bila menanam bawang merah, screenhouseberukuran 10 m x 20 m mampu memuat sekitar 600 paralon. Produksinya 4 kg per paralon. Jika harga panen Rp10.000 per kg, maka hasil yang diperoleh sekitar Rp24 juta. “Dua kali tanam sudah BEP, modal keseluruhan diperlukan sekitar Rp25 juta—Rp50 juta,” hitung Hadi.

Sampai sekarang produksi dari vertikultur masih untuk memenuhi kebutuhan daerah Pasuruan. Ini saja sudah membuat Hadi kewalahan sehingga ia akan mengembangkan lagi di lahan belakang yang lebih luas.

Sumber : http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=10&aid=2718
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Blog Archive