Pegawai Lihatlah Belajarlah Sabar dan Ikhlas dari Seorang Petani

.
.




Curhatan hati seorang ibu bernama   yang dituangkan dalam diarinya ini silahkan disimak ceirtanya dan ambil yang baik untuk direnungkan selamat membaca. 

Semenjak memutuskan untuk menjadi fulltime mother, kegiatan utamaku adalah mengasuh ke tiga buah hatiku termasuk mengajak mereka jalan2 menikmati keindahan alam dan kesibukkan lalu lintas kendaraan bermotor.
Tidak jarang aku sengaja mengajak mereka melewati daerah persawahan selain udaranya lebih bersih dan segar, ada keinginan juga agar anak2 lebih dekat dengan alam.
Dan pada suatu hari, aku sengaja berhenti di pinggir sawah yang kebetulan sedang ada petani yang sedang bercocok tanam. Aku mengamati petani tersebut yang sedang mencangkul tanah dan pikiran ku mulai melayang.........

Menjadi petani itu tidaklah mudah...mereka harus memulai pekerjaan dengan tangan kosong bahkan harus keluar modal terlebih dahulu untuk membeli pupuk dan bibit. Bangun pagi, berangkat ke lahan persawahan, mulai mencangkul tanah, berpeluh keringat karena panas terik matahari dan juga rasa lelah. Setelah itu mereka menanam bibit, memberi pupuk dan air, menyemprot hama dan kegiatan ini dilakukan tiap hari, pagi dan sore hingga akhirnya tanaman mulai tumbuh dan membesar sampai masa panen tiba. Waktu yang dibutuhkan tidaklah sedikit bahkan hinga berbulan2, mereka dengan sabar dan ikhlas merawat tanaman tersebut dengan sentuhan kasih sayang.Belum lagi jika alam kurang bersahabat, tanaman dihinggapi hama atau rusak karena angin dan badai atau pun karena musim yang tidak mendukung sehingga tanaman kekeringan....sungguh bukan pekerjaan yang ringan. Setelah masa panen tiba barulah mereka menikmati hasil jerih payahnya namun kadang perjalanan tidak mulus karena sering hasil panen dihargai sangat murah oleh para tengkulak.

Hari itu saya belajar sabar dan ikhlas dari petani, sungguh mereka layak mendapat 2 jempol. Tidak heran jika dalam Al Qur'an dan hadist ada 2 pekerjaan yang utama yaitu bertani (mengolah hasil alam) dan berdagang karena kedua jenis pekerjaan itu memerlukan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalananinya. Pedagang juga demikian, mereka mengeluarkan modal ataupun usaha terlebih dahulu kemudian mulai bersabar menjajakan dagangannya dengan resiko tidak laku.

Aku jadi ingat pada saat masih berstatus sebagai pegawai...sering tanpa sadar aku banyak mengeluh; yang gajinya kurang, yang bos galak, yang kantor jelek, yang pekerjaan menumpuk, yang alat kerja tidak memadai dan sebagainya. Padahal sebagai pegawai, aku sudah lebih nyaman dari petani maupun pedagang...tiap bulan ada pendapatan, bekerja di dalam ruangan dengan kursi empuk, ruangan ber ac, fasilitas memadai bahkan sering dengan sengaja memanfaatkan waktu kerja untuk chating, email, tidur ataupun hanya sekedar bersenda gurau.

Aku pantas malu dengan petani dan pedagang

Insya Allah, renungan ini memberikanku pelajaran untuk bisa lebih sabar dan ikhlas dalam segala hal termasuk dalam meraih rizki Allah. Dan semoga pengalaman batin ini menumbuhkan motivasi untuk memulai usaha wiraswasta yang membutuhkan proses kesabaran dan keiklasan aamiin. 
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive