Kurang Terorganisasi, Buah Naga Sulit Penuhi Permintaan Hong Kong

.
.
Sudah banyak orang yang “teriak”, seharusnya buah naga Balikpapan itu jadi komoditas unggulan hingga pasar mancanegara. Rupanya, masih tak semudah dikata untuk merealisasikannya.
ANGIN segar yang diembuskan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan bahwa Hong Kong siap mengimpor buah naga dari Balikpapan dalam jumlah besar, tampaknya belum bisa berjalan mulus.
Pasalnya, produksi buah naga dari petani masih sedikit. Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPKP) Balikpapan Yosmianto menyatakan, produksi buah naga di Balikpapan tidak sampai 500 ton per bulan dari total petani hanya sekitar 50 orang.



TANGANI MANAJEMENNYA DULU: Jangan berharap bisa memenuhi ekspor kalau petani belum terwadahi dengan baik.(anggi praditha/kp)
“Untuk panen buah naga sekitar dua minggu. Namun, kondisi saat ini di daerah utara banyak yang gagal panen karena terserang jamur. Otomatis jumlah produksi akan berkurang,” ucapnya 
Menurutnya, permintaan 500 ton yang cukup bagus. Namun, belum ada lembaga atau organisasi yang menaungi buah naga ini. Para petani masih berjalan sendiri-sendiri. Pengiriman saat ini cenderung mengarah ke Pulau Jawa karena harga di sana cukup tinggi sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram.
Para petani melakukan pengiriman ke berbagai daerah masih suka-suka mereka, tak teroganisasi dengan baik. Sebagai contoh, salah satu petani sudah setuju melakukan kerja sama dengan pihak luar dengan jumlah pengiriman sekitar 1 ton per bulan. Namun, mereka akhirnya tidak dapat memenuhinya karena tidak ada yang mengatur.
Untuk itu, dalam waktu dekat ini pihaknya akan berkomunikasi dengan Kadin Balikpapan dan akan mengumpulkan para petani untuk membuat sebuah lembaga atau organisasi agar mampu memenuhi permintaan dengan jumlah besar.
Ketua Kadin Balikpapan Yaser Arafat sebelumnya mengatakan, adanya permintaan dari Hong Kong untuk ekspor buah naga sekitar 25 kontainer berisi sekitar 50 ton buah naga per bulan. Saat ini, pihaknya tengah mengutus perwakilannya yang berhubungan dengan komoditas ini untuk mempelajari packaging standar internasional.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, Yaser mengaku tidak bisa hanya mengandalkan hasil produksi buah naga dari Balikpapan saja namun dia berencana akan melakukan kerja sama dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara (PPU) dan daerah-daerah lainnya.
Jika memang benar hal tersebut dapat terwujud, untuk persoalan pengiriman kemungkinan akan terbantu. Pasalnya direct call pengiriman langsung menuju luar negeri dari Balikpapan terus diupayakan.
Marketing and Quality Manager PT KKT Tubagus Patrick menyebutkan direct calldiupayakan bisa dilakukan sebelum Lebaran atau setelah Lebaran. Pasalnya, dengan adanya direct call mampu memangkas biaya pengiriman hingga 40 persen.
Sumber : Kaltim Pos
Sponsored Links
loading...
Loading...
.