Cara Pengendalian Hama Penyakit dengan Pestisida Nabati

.
.

Tidak bisa dipungkiri masih begitu banyak petani kita yang tidak tahu atau belum
memahami betapa bahaya penggunaan pestisida kimia tersebut, misalnya memberikan
dampak negatif pada tanah antara lain merusak tekstur tanah, menurunkan pH tanah,
mengurangi kandungan hara serta dapat merusak degradasi tanah. Pemakaian pestisida
kimia juga meninggalkan residu pada hasil petanian yang pada akhirnya dapat mengganggu
kesehatan produsen dan konsumen, residu pestisida juga dapat menyebabkan tercemarnya
air tanah. Pada hama sendiri pemakaian pestisida dapat menyebabkan kebalnya hama
terhadap pestisida, timbulnya ledakan hama tertentu dan munculnya hama baru yang
sebelumnya bukan hama dominan pada tanaman budidaya.
Salah satu prinsip dari Pengendalian Hama Terpadu ( PHT) yaitu penggunaan
musuh alami/ pestisida nabati untuk menekan hama/penyakit yang mengganggu tanaman
budi daya sebagai bentuk dari kearifan lokal dengan menggunakan bahan-bahan dari
tumbuhan sekitar. Pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari
alam, misalnya tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam,
sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena
residunya akan terurai dan mudah hilang ( Info Pertanian 2010).
Kekurangan Pestisida Nabati :
 Cepat terurai dan daya kerja relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
 Produksinya belum dapat di lakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan
baku
 Kurang praktis
 Tidak tahan disimpan
 Daya racunnya rendah ( tidak langsung mematikan serangga)
 Cara kerjanya (efek mortalitasnya) lambat
 Harus di aplikasikan berulang-ulang.
Kelebihan Pestisida Nabati:
 Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga
 Antifidan, mencegah serangga hama memakan tanaman yang telah disemprot
 Merusak perkembangan telur, larva dan pupa
 Menghambat reproduksi serangga betina
 Racun saraf bagi hama
 Mengacau sistem hormon di dalam tubuh serangga
 Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
 Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri
 Dapat menyebabkan gangguan dalam proses metamorfosa dan gangguan makan (
anti feedan) bagi serangga.
 Lebih mudah tergedradasi di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan produk
 Lebih selektif terhadap organisme sasaran
 Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah imun pada pestisida kimia
 Dalam proses pembuatannya dapat menggunakan alat alat dapur yang sederhana

TEKNIK PEMBUATAN PESTISIDA NABATI
Ada beberapa cara/teknik pembuatan ( ekstraksi) pestisida nabati, antara lain adalah:
1. Perendaman (maserasi)
Cara ini merupakan yang paling sederhana dan mudah dilaksanakan. Bahan yang yang
dibutuhkan adalah tumbuhan pestidida nabati dan pelarut, sedangkan alat yang digunakan
adalah pencacah/parang dan ember untuk melakukan perendalam. Bahan nabati
dihancurkan kemudian direndam dengan pelarut dalam ember minimal 12 jam. Kemudian
dipisahkan antara ampas dan larutan pestisida dengan cara disaring. Dosis perendaman
adalah 400 Gr/ liter pelarut.Volume semprot 200 Cc/liter
2. Pengepresan
Bahan nabati yang telah disisapkan di pres dengan mesin pengepres untuk mendapatkan
ekstrak bahan aktif pestisida nabati yang selanjutnya di aplikasikan di lapangan. Cara ini
sedikit lebih membutuhkan biaya dari pada cara perendalam, sebab kita membutuhkan alat
pengepresnya.
3. Penyulingan
Tahapan dalam proses penyulingan adalah yang paling rumit di bandingkan dengan caracara
ekstraksi yang lain. Dalam proses penyulingan bahan nabati terlebih dahulu di ekstrak
dengan menggunakan pelarut, kemudian di pisahkan dari ampoasnya. Selanjutnya larutan
bahan aktif tersebut dievaporasi dengan alat evaporator untuk memisahkan antara pelarut
dengan bahan aktif pestisida nabati. Setelah di dapatkan bahan aktif pestisida nabati, untuk
aplikasi di lapangan bahan aktif tersebut harus di encerkan dengan air sesuai dengan dosis
yang diinginkan.

BEBERAPA CONTOH TUMBUHAN YANG DAPAT DI GUNAKAN UNTUK PESTISIDA
NABATI
1. Akar tuba / Akar jenu (Derris eliptica)
Sasaran OPT : Aphids, Bombix mori, Coccus viridis, Crocidolomia binotalis, Meloydogine
sp, Plutella sp,Bekicot, Spodoptera sp dan Pyricularia oryzae, wereng
Metoda Aplikasi : Daun dan batang sebanyak 1 Kg ditumbuk halus diesktrasi dengan
air atau ether,biarkan selama 24 jam lalu di saring dan aplikasikan.
Akar tuba dengan 2 butir kecubung didihkan, saring, setiap satu liter air rebusan campur
dengan 16 liter air. Aplikasikan dengan penyemprotan. Bila dibuat dalam bentukt tepung,
aplikasi dengan penghembusan setiap 10 hari sekali
2. Alamanda (Alamanda catharticha)
Sasaran OPT : Avilaucher miliaris, Staphylococcus
Metoda Aplikasi : Gerus 0.6 gram bunga/daun dengan 100 ml air, lalu saring dan di
semprotkan
3. Bakong/Tembakau (Nicotiana tabaccum LINN)
Sasaran OPT : Aspergilus niger, Curvularia oryzae, Aphids,Nematod, Sitophylus
oryzae,Penggerek kacang, Penggerek batang ,Leptocorixa acuta Tribolium, nyamuk, Trips
dan Helopeltis
Metoda Aplikasi : 50 lembar daun tembakau di tambah dengan segenggam sirsak di
tumbuk halus. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam larutan 20 liter air dan 20 g
detergen (sabun colek), diaduk rata, dan direndam selama semalam, kemudian disaring.
Tiap 1 liter larutan hasil penyaringan diencerkan dengan 50-60 liter air. Aplikasi dapat di
lakukan dengan penyemprotan
4. Bunga krisan/Piretrum (Chrysanthemum sp)
Sasaran OPT : Plutella xylostella, Aphid, kutu kebul (Bemisia tabaci )
Metoda Aplikasi : 2 kg mahkota bunga kering direndam dlm 1 liter air selama 24 jam.
Saring endapan lalu semprotkan ketanaman
5. Bak Luna/Sirsak (Annona muricata )
Sasaran OPT : Epilagna verivestis, Aphis gospii, Aedes aegepty, Drosophila melanogaste,
Acalynma vitatum dan Lawana candida
Metoda Aplikasi : Tumbuk halus 50-100 lembar daun sirsak, rendam dalam 5 liter air
tambahkan 15 gram sabun, aduk dan diamkan semalam, saring setelah itu cairkan
kembali larutan dengan 10-15 liter air. Larutan siap di aplikasikan. Berikutnya Biji/kulit kayu
dikeringkan, dikuliti, digiling. Biji yang sudah berupa tepung direndam dengan aquades atau
ethanol dalam alat ekstraksi kemudian disaring, dosis 4500 gram bahan baku. Aplikasikan
dengan cara disemprotkan
6. Bawang Putih (Allium sativum)
Sasaran OPT : Berbagai hama terutama Lepidoptera, Fungi
Metoda Aplikasi : Bawang Putih digiling, tambahkan air sedikit, dan kemudian diamkan
sekitar 1 jam. Lalu berikan 1 sendok makan deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian
ditutup. Simpan di tempat yang dingin selama 7 - 10 hari. Bila ingin menggunakannya,
campur ekstrak tersebut dengan air.
7. Campli/capli /cabe Rawit (Capsicum Frutensens L)
Sasaran OPT : Tungau,kutu, ulat dan nematoda
Metoda Aplikasi : Tumbuk segenggam cabai di tambah bawang putih dalam lumpang,
masak air lbh kurang 200 ml sampsi mendidih, lalu masukan tumbukan cabe dan bawang,
tunggu sampai berubah warna menjadi merah tua dan air sudah mendidih agak lama.
Masukan stengah sendok teh sabun colek sampai aroma benar-benar menyengat. Diamkan
lebih kurang 15 jam, lalu saring dengan kain kassa, larutan siap untuk di gunakan.
8. Janeng/Gadung (Dioscorea hispida)
Sasaran OPT : Aphids dan larva nyamuk ( maggots) dan tikus
Metoda Aplikasi : Umbi di cabut, dibersihkan, dikeringkan atau diparut. Pengenceran
dilakukan dengan perbandingan 1:3 kemudian di saring dan disemprotkan. Apabila
formulanya berbentuk tepung dapat diaplikasi dengan penghembusan. Untuk tikus dapat
dilakukan dengan mencincang umbi dan di tabur di sekitar pematang sawah.
9. Kecubung (Datura stramonium)
Sasaran OPT : Walang sangit, Aphid dan ulat
Metoda Aplikasi : - Tumbuk 2 buah kecubung di campur dengan akar tuba, tambahkan
air, saring dan aplikasikan
- Rebus 2 btir kecubung dengan 1 kg brotowali dg 1 liter air, air rebusan disaring dan
encerkan sebelum diaplikasikan
10. Kunyit (Curcuma domestica Val)
Sasaran OPT : Nematoda, fungi, penyakit keriting pada cabe
Metoda Aplikasi : - 1 kg kunyit, 1 kg browali + 10 sdm kapur tumbuk saring airnya,
tambahkan 30 - 50 liter air, aplikasikan.
- Rimpang kunyit ditumbuk, dicampur dengan urine sapi lalu di encerkan dengan air
dengan perbandingan 1,2-6 liter. Saring kemudian siap untuk aplikasikan.
11. Sereh wangi (Andropogon nodus)
Sasaran OPT : Ulat, aphids,
Metoda Aplikasi :
- Cincang dan haluskan beberapa batang dan daun serai campurkan dengan daun
mimba, diamkan 12 jam. Saring dan aplikasikan
- 250 gram semua bagian tanamn sereh, tumbuk sampai halus tambahkan 4 gelas air,
larutan di encerkan dengan 13 liter air, aplikasikan untuk hama penggerek batang padi
Hal penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan pestisida nabati
 Gunakan saringan yang halus untuk memastikan larutan benar-benar bersih dari sisa
hancuran tanaman sehingga ampanya tidak menyumbat alat semprot.
 Pakailah sarung tangan
 untuk memperoleh hasil yang terbaik lakukan penyemprotan setiap minggu secara
teratur
 Jangan menyemprot dengan konsentrasi tinggi ketika tanaman masih dipembibitan
 Jangan menggunakan konsentrasi larutan yang pekat

Sumber : http://jambi.litbang.pertanian.go.id
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive