Cara Pengendalian Penyakit Busuk Batang pada Tanaman Aneka Kacang

.
.

Penyakit Busuk Batang Sclerotium Rolfsii pada Tanaman Aneka Kacang









Kendala yang sering ditemukan dalam budidaya tanaman aneka kacang (kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah) antara lain adalah faktor infeksi penyakit. Penyakit yang disebabkan beragam jenis mikroba seperti jamur, bakteri, dan virus seringkali mengakibatkan kerugian ekonomis karena rendahnya kualitas dan kuantitas hasil panen. Salah satu penyakit merugikan adalah busuk batang yang disebabkan jamur Sclerotium rolfsii.
Kerugian hasil cukup tinggi akibat penyakit busuk batang S. rolfsii dilaporkan terjadi di sebagian besar negara produsen kacang tanah seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, China, India, Thailand, Mesir, Mali, Nigeria, Senegal, Bangladesh, Australia, dan Indonesia (Mehanet al. 1995). Kerugian hasil kacang tanah karena busuk batang S. rolfsii cukup tinggi yaitu antara 13−59% (Nautiyal 2002). Hasil penelitian Budi (2004) menunjukkan bahwa busuk batang S. rolfsii mengurangi hasil polong kacang tanah sebesar 11% pada Varietas Kelinci. Di Amerika, kerugian ekonomis kacang tanah akibat infeksi S. rolfsii dan biaya pengelolaannya sangat tinggi, mencapai 38 milyar dolar pada kurun waktu 2004 hingga 2007 (Kemerait 2008). Di Vietnam, kehilangan hasil kacang tanah karena infeksi S. rolfsii berkisar 5−25% (Le et al. 2011). Pada kedelai, infeksi S. rolfsii menyebabkan rendahnya persentase biji berkecambah sehingga mengurangi populasi tanaman (Blum dan Rodriguez 2004). Kondisi lahan yang lembab merupakan lingkungan kondusif yang dapat memicu parahnya infeksi S. rolfsii pada tanaman aneka kacang. Keparahan penyakit juga dipengaruhi oleh rendahnya ketahanan varietas yang ditanam. Kedelai varietas Anjasmoro di lingkungan lembab seperti di Genteng-Banyuwangi, dilaporkan terinfeksi S. rolfsii dengan kejadian penyakit cukup tinggi mencapai 23%, sementara itu pada varietas Wilis kejadian penyakit kurang dari 10% (Rahayu 2011).
Jamur penghuni tanah (soil inhabitant) ini mampu hidup lama dalam tanah, dan memulai infeksi dari dalam tanah atau dekat permukaan tanah. Tanaman aneka kacang dapat terinfeksi sejak pra berkecambah hingga menjelang panen, namun fase kritis adalah fase awal tumbuh hingga pertumbuhan vegetatif awal. Gejala penyakit berupa busuk perakaran dan pangkal batang, rebah bibit (damping-off), layu, tanaman mati, serta busuk polong (Balitkabi 2004, Akram et al. 2007). Awal infeksi S. rolfsii pada umumnya terjadi di permukaan lubang tanam atau pangkal batang tanaman inang. Gejala penyakit berupa lesio (ruam) pada pangkal batang, lesio berwarna coklat muda, kemudian berkembang menjadi coklat tua. Infeksi pada pangkal batang dan perakaran mengganggu aliran nutrisi dan air dalam tanaman, sehingga timbul gejala layu. Dalam proses metabolismenya jamur ini mengeluarkan toksin yang merusak sel tanaman inang.
Pada tingkat infeksi lanjut, jamur tumbuh berupa miselia tipis berwarna putih, bentuk teratur seperti bulu, dan mudah dilihat secara visual pada pangkal batang dan permukaan tanah di sekitar lubang tanam (Gambar). Miselia pada perkembangannya akan mengalami pemadatan sehingga terbentuk struktur butiran yang dikenal sebagai sklerosia. Mula-mula sklerosia berwarna putih kemudian berubah menjadi coklat muda sampai coklat tua. Seringkali sklerosia terbentuk secara berlimpah pada tanaman terinfeksi parah atau mendekati mati, dan tetap hidup walaupun tidak ada tanaman inang yang seusai.

Gambar. Serangan S. rolfsii pada pangkal batang kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah.
S. rolfsii masuk dalam famili Dematiaceae, berkembang biak tidak sempurna dan tidak membentuk spora (mycelia sterilia). Struktur berkembangbiaknya adalah miselia atau hifa dan struktur sklerosia. Sklerosia berbentuk butiran sangat kecil diameter 0,5–1 mm, terbentuk dari pemampatan kumpulan miselia. Sklerosia berwarna putih pada awal terbentuk (muda) dan setelah tua berubah menjadi coklat gelap mengkilat. Kulit sklerosia tebal, terdiri atas tiga lapisan yaitu kulit luar (rind), kulit dalam (cortex) dan teras (medulla). Kulit luar berdinding tebal dan mengandung melanin (Chet 1975 dalam Rakh 2011). Sklerosia di dalam tanah mampu bertahan hidup lama mencapai 2–3 tahun, tergantung pada ketersediaan substrat bahan organik, sebelum akhirnya menginfeksi tanaman inang yang sesuai. Sklerosia merupakan organ penyimpan makanan untuk bertahan dalam lingkungan ekstrim sehingga dapat melewati masa-masa kritis seperti kekeringan, suhu rendah atau tinggi. Masa dorman akan berakhir jika kondisi lingkungan cocok untuk perkembangannya (Agrios 2005). Dalam siklus hidupnya, S. rolfsii mempunyai dua fase, yaitu 1) Fase patogenesis, berupa miselia atau kumpulan hifa berwarna putih dan bersifat sebagai parasit. Pada fase ini, jamur memulai infeksinya pada jaringan tanaman dalam tanah dan dekat permukaan tanah, dan 2) Fase saprogenesis, pada fase ini terjadi pembentukan struktur sklerosia yang berfungsi sebagai alat bertahan hidup jika tidak ada tanaman inang di lapangan, dan bersifat sebagai saprofit.
Lingkungan pertanaman dengan suhu hangat dan kelembaban tinggi merupakan kondisi yang mendukung perkembangan penyakit busuk batang. Sebaliknya di lingkungan suhu dingin, penyakit terhambat dan akan berkembang lagi ketika suhu berubah lebih hangat (FAO 2007). Unsur fisikokimia tanah merupakan faktor yang mempengaruhi kehidupan S. rolfsii. Suhu optimum untuk pertumbuhannya sekitar 21–30oC, sebaliknya pada suhu ekstrim di bawah 15oC atau di atas 36oC pertumbuhannya terhambat (Mehan et al. 1995). S. rolfsiimampu tumbuh pada kondisi lembab 55−100% (Hartati et al. 2008). S. rolfsii toleran terhadap pH masam hingga alkalis (pH 4,0−8,0) dan pH 5,5−7,5 merupakan nilai optimum untuk pembentukan sklerosia (Zape et al. 2013).
Residu tanaman terinfeksi yang mengandung inokulum (miselia dan sklerosia) berperan sebagai sumber primer penyakit di lahan pertanian. Inokulum tersebut dapat tersebar jauh ke areal tanaman lainnya melalui air irigasi, peralatan pertanian yang terkontaminasi, serta terbawa pada benih ataupun terbawa angin. Inokulum akan berkembang cepat di tanah yang lembab terutama pada tanah berpasir. Pada kondisi lembab, bagian tanaman di atas tanah meliputi daun, batang dan cabang yang bersentuhan langsung dengan permukaan tanah, berpeluang terinfeksi jamur tular tanah tersebut.
S. rolfsii dapat menginfeksi tanaman monokotil dan dikotil yang tumbuh di wilayah tropis dan sub tropis. Sekitar 500 jenis tanaman dilaporkan menjadi inang S. rolfsii termasuk aneka kacang, serealia, ubijalar, ubikayu, taro, mint, herbal sambiloto, tanaman hias, bunga matahari, tembakau, tebu, jahe, aneka labu, aneka bawang, rumput pakan ternak, dan gulma (Singh dan Singh 2004, Agrios 2005, Fouzia dan Saleem 2005, Ferreira dan Boley 2006). Inang dari jenis gulma berperan penting pada siklus penyakit busuk batang S. rolfsiikarena dapat menyimpan inokulum, sehingga sumber penyakit selalu ada di lapangan. Faktor jenis inang yang sangat beragam tersebut, seringkali menjadi kendala pengendalian S. rolfsii melalui teknis rotasi tanaman.
Pengendalian Penyakit Busuk Batang
Teknologi pengendalian yang potensial untuk mengendalikan penyakit busuk batang S. rolfsii antara lain adalah:
1.  Cara mekanis dan fisis, yaitu mencabut dan membuang dan tanaman terinfeksi, namun cara ini hanya sedikit mengurangi penyakit.
2.  Pengendalian hayati, yaitu menggunakan agens pengendali hayati (APH) berupa jamur antagonis seperti Trichoderma spp.,Pecillium sp. dan Gliocladium virens; sertabakteri antagonis seperti Bacillus spp., dan Pseudomonas fluorescens. Cilliers et al. (2003) menyatakan bahwa T. longibrachiatum dan T. harzianum efektif untuk mengendalikan penyakit busuk batang dan perakaran S. rolfsiipada kacang tanah. T. harzianum yang diberikan melalui benih diikuti semprot dengan fungisida karboksin 0,1% dapat meningkat efikasinya untuk mengendalikan penyakit damping-off S. rolfsii pada kedelai (Rajeev dan Mukhopadhyay 2001). Bakteri antagonis P. fluorescens mampu melawan S. rolfsii dan Rhizoctonia solani penyebab penyakit tular tanah yang merugikan pada kedelai (Rahayu 2006). Isolat lokal Pf asal risosfer kedelai, mampu berperan sebagai APH terhadap beberapa jenis jamur penyebab penyakit tular tanah pada tanaman aneka kacang seperti S. rolfii, Rhizoctonia solani, dan Fusarium sp. Aplikasi APH Pf pada tanah pot yang mengandung inokulum S. rolfsii, dengan konsentrasi aplikasi 108 sel/ml dan dosis 100 ml/liter tersebut dapat menekan kejadian penyakit busuk batang kedelai dengan keefektifan cukup baik mencapai 55,2%. Selain itu APH Pf tersebut dapat menurunkan populasi dan pertumbuhan propagul sklerosia di tanah (Rahayu 2008).
3.  Pengendalian kimiawi, yaitu menggunakan beberapa fungisida seperti kaptan dan karboksin efektif mengendalikan penyakit damping-off S. rolfsii pada kedelai.
4.  Pengendalian nabati, yaitu menggunakan ekstrak nabati dari tumbuhan seperti mimba Azadirachta sp. yang diaplikasikan secara terpadu dengan fungisida kaptan, efektif mengendalikan busuk batang S. rolfsii. Ekstrak air daun selasih Ocimum gratissimum dan daun kayu putih Eucalyptus globulus, yang juga dilaporkan efektif menurunkan layu S. rolfsii pada kacang tunggak hingga mencapai kejadian pennyakit 4‒12% dibandingkan tanpa pengendalian persentase penyakit lebih tinggi mencapai 39% (Okwute 2012).
Sponsored Links
loading...
Loading...
.

Dukung Kami dengan Like Fanpage Di Facebook

Blog Archive